
Desi menatap selembar kertas di tangannya dengan tatapan kosong. perasaannya bergemuruh membuka kertas yang bertuliskan tinta hitam dari pengadilan agama. seakan jantungnya berhenti bekerja dan air matanya lolos begitu saja. hujan yang turun di luar juga seperti tau keadaannya saat ini.
"Apa ini? aku tidak sedang bermimpi kan?" tanya desi pada dirinya sendiri.
"Mbak Ema mbak, kemari." panggil desi pada pembantunya.
"Siapa yang mengantar surat ini? katakan padaku katakan siapa?" tanya desi dengan nada tinggi saat ema sudah berdiri di hadapannya.
"Anu nyonya anu itu." ucapnya tergagap ia sedang merasa takut menghadapi majikannya yang terlihat sedang marah besar.
Desi tak sabar menunggu jawaban dari ema ia meninggalkan pembantunya begitu saja, mengambil ponselnya mencari nomor suaminya. ia ingin menanyakan perihal surat cerai yang datang ke rumahnya. nihil ia tak mendapat jawaban, ia masih terus berusaha menghubungi malah nomornya kini tidak aktif.
Dengan langkah terburu-buru ia langsung mengambil kunci mobil menuju kediaman mertuanya. sayang saat dirinya sampai di sana ia tak mendapati mertuanya di rumah. ARTnya mengatakan jika majikannya sedang menghadiri pernikahan anak dari rekan bisnisnya. berulang kali ia menghubungi ayah mertua dan ibu mertuanya namun tak juga membuahkan hasil.
"Kenapa aku tak kepikiran untuk menghubungi aksa, dia pasti selalu bersama juli." ucapnya seraya merogoh ponselnya di dalam tasnya dan langsung mencari nomor asisten suaminya.
"Dasar beengsek." desi mengumpati saat dirinya tak juga bisa menghubungi asisten suaminya.
Tak ingin membuang waktu lama ia langsung melangkah pergi ke luar. walaupun kota Jakarta siang ini di guyur hujan deras namun tak menjadi penghalang baginya untuk tetap pergi.
"Nona mau ke mana? tidak menunggu tuan besar dan nyonya dulu?" taya mbok siti menghentikan langkahnya.
"Nanti jika ibu dan ayah mertuaku pulang katakan pada mereka ada yang ingin aku bicarakan penting." bukannya menjawab desi malah memberikan pesan pada mbok siti.
"Iya nona." balasnya mengangguk sopan.
Desi menerobos derasnya air hujan masuk ke dalam mobilnya. ia segera melajukan mobilnya kembali meninggalkan kediaman mertuanya. rasa sesak di dadanya kian terasa. ia masih bertanya-tanya dalam hatinya apa alasan juli menceraikannya. apa ada wanita lain atau ada alasan lainnya.
"Aaaaa Kurang ajar." desi memukul setir kemudi berulang kali. ia kira setelah kelahiran alika dia bisa mempertahankan rumah tangganya nyatanya semua tak sejalan seperti harapannya.
Sesampainya di rumah orang tuanya ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. terus melangkah mencari kedua orangtuanya namun tak satupun dari mereka yang desi temui.
"Mah, pah." suara desi mengalun menganggil kedua orangtuanya.
"Ya alloh non kenapa basah kuyup begini." ucap mbak Weni muncul dari arah dapur.
"Mama dan papa ke mana mbak?" tanya desi masih mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Pergi ke London katanya mengurus proyek di sana." jawab mbak weni.
"Sejak kapan perginya?"
__ADS_1
"Hari rabu kemarin non."
"Ya sudah mbak bisa kerja lagi." ucapnya kembali melangkah ke lantai atas masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri.
**
Juli menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil belakang. sebelum berangkat ke perusahaan seperti biasa ia berkunjung ke rumah panti untuk mengobati rasa rindunya pada putrinya. senyum di bibirnya terbit kala ia menatap foto anak pertamanya. ia menggeser banyaknya gambar yang ia ambil saat mereka pergi bersama.
"Maura sangat menggemaskan dan lucu, saya tak menyangka jika tuan bisa bertemu kembali dengan mereka dan berkumpul lagi dengan mereka." ucap aksa melirik lewat kaca spion rupanya ia sendiri sudah hafal dengan segala gerak gerik tuannya.
"Iya kau benar, kini aku sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan mereka. tinggal selangkah lagi aku bisa bersatu dengan agatha." ucapnya yakin.
"Bagaimana, apa semuanya sudah kau kerjakan?" tanya juli.
"Sudah tuan saya yakin kini surat cerai anda sudah sampai di tangan nona desi." balas aksa.
"Apa tuan besar nantinya tidak akan murka mendengar perceraian anda dengan nona desi?" tanya aksa dengan penuh hati-hati.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya jika ayah nantinya murka padaku." balas juli tenang.
Aksa kembali ke dalam mobil menenteng kresek berisikan bubur ayam di tangannya. tak pernah sedikitpun aksa melupakan kebiasaan juli yang suka sekali sarapan dengan bubur ayam. ia melajukan mobilnya kembali menuju rumah panti.
"Mommy udah goreng nugget maura makan dulu ya. mommy suapi." agatha melangkah masuk ke dalam kamar seraya membawa sepiring sarapan untuk maura.
"Nda mau lula nda lapel." tolaknya menoleh ke sisi kirinya.
"Eh nanti cacing dalam perut maura bisa nangis kalau tak di beri makan." agatha masih mencoba merayu putrinya yang sangat susah untuk makan.
Tok tok tok
Agatha segera bangkit melangkah membukakan pintu. ia menatap malas pria di hadapannya. sejak ia bertemu lagi dengan juli setiap hari ia tak pernah absen untuk berkunjung ke rumah panti. senyum mengembang di bibirnya terlihat saat wanita yang di cintainya berdiri di hadapannya.
"Selamat pagi mommynya maura." sapa juli mencuri ciuman di pipi sebelah kanan agatha. seketika mata agatha melotot merasa syok. agatha menoleh ke kanan dan ke kiri takut akan ada yang melihatnya. ia mengusap pipinya yang barusaja mendapatkan ciuman dadakan.
"Daddy." maura memeluk kaki jenjang milik juli.
"Selamat pagi sayang." sapa juli menunduk ke bawah di mana maura berada.
"Sedang sarapan?" tanya juli pada maura.
"Iya tapi maura tak mau makan." ucap agatha memperlihatkan isi piringnya yang masih utuh.
__ADS_1
"Ayo makan, daddy suapi." ajak juli pada maura, menggendong putrinya menuju ruang tamu.
Agatha menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. hatinya berasa perih melihat putrinya lebih memilih sarapan dengan daddynya daripada dengannya.
Jarum jam sudah bergerak maju. di lihatnya waktu sudah menunjukan pukul 06.55. namun bang gani belum juga datang. sepeda motornya bocor dan ia sendiri belum sempat membawanya ke bengkel. bang gani menawarkan tebengan ya anggap saja ini adalah rejeki.
Tin tin tin tin
Suara klakson sepeda motor berbunyi. agatha segera mengambil tas dan bekal makan siangnya. agatha berpamitan dengan ibu panti lalu melangkah berpamitan dengan maura dan juli di ruang tamu.
"Aaaa buka mulutnya." juli menyuapkan sesendok bubur ayam ke mulut maura. iapun menerima suapan dari daddynya.
"Sayang mommy berangkat dulu. yang anteng sama daddy jangan nakal." pamit agatha dan tak lupa memberi pesan pada putrinya.
"Iya mom." balas maura mengangguk nurut.
Juli mengulurkan tanganya salim namun agatha mengabaikan.
"Calon istri yang baik itu pamit dengan calon suaminya." sindir juli saat tangannya tak mendapatkan sambutan dari agatha. tangan juli meraih tangan agatha dan menyatukan tangannya lalu menempelkan ke dahi agatha.
"Aku berangkat mas." pamit agatha pada akhirnya.
"Hati-hati di jalan." juli bangkit dari duduknya mengantar agatha ke luar untuk berangkat.
"Om emal." panggil maura melambaikan tangan mungilnya saat melihat seorang lelaki duduk di atas sepeda motor.
"Eh ada si cantik." sapa bang gani. namun mendadak wajahnya berubah ketika melihat lelaki yang tengah menggendong maura. juli juga sama-sama bersitatap dengan pria yang akan berangkat bersama agatha. hatinya memanas melihat wanitanya bersama lelaki lain.
"Siapa lelaki itu, apa dia kekasih agatha yang sekarang." gumam juli dalam hati.
Bersambung. . .
Tetap biasakan setelah membaca meninggalkan jejak dengan memberikan
Like
Comen
Vote
Terima kasih kepada readers yang sudah menyempatkan mampir ke lapakku dan setia menunggu cerita selanjutnya.
__ADS_1