One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 32


__ADS_3

Usia kandungan agatha kini sudah memasuki bulan ke 9, tinggal sebentar lagi ia akan melahirkan. ia sudah tak sabar berjumpa dengan malaikat kecilnya. awal kehamilannya memang ia tak menginginkan janin ini lahir namun setelah bertemu dengan bang kemal ia mulai menikmati masa kehamilannya. masa sulit telah ia lewati dan kini saatnya ia menikmati bahagia bersama orang-orang yang mau menerima kehadirannya.


Saat agatha memeriksakan diri ke Rumah sakit 3 minggu yang lalu dokter mengatakan ia bisa saja melahirkan satu minggu sebelum HPL ( hari perkiraan lahiran ) atau bisa jadi satu minggu setelah HPL. ibu calista dan bu yosi siap siaga 24 jam menyambut kelahiran putri pertama agatha. perasaan agatha juga tak karuan mengingat ia masih muda belum punya pengalaman apapun. saat USG dokter mengatakan kemungkinan agatha tak bisa melahirkan secara normal akibat pinggangnya yang terlalu kecil namun agatha masih berharap agar Tuhan membuat dirinya bisa melahirkan secara normal seperti wanita pada umumnya.


"Kenapa perutnya sudah mulai kontraksi?" tanya bu yosi melihat agatha duduk di kursi teras meringis kesakitan. ia segera menghampiri agatha mendudukan pantatnya di sebelah agatha. tangannya terulur mengelus perut agatha yang sudah terlihat membesar.


"Belum tau bu, sakit tapi cuma sebentar nanti hilang lagi. ini juga dari kemarin begini bu." balas agatha meringis merasakan sakit di perutnya. wajah bu yosi menampakan kecemasan.


Agatha memang sudah beberapa kali mengalami kontraksi palsu jadi agatha belum yakin jika dirinya akan melahirkan.


"Apa mungkin mau lahiran ya lis?" tanya bu yosi menoleh pada bu calista yang sedang menjemur pakaian di halaman samping.


"Yos apa agatha sudah mulai mules?" tanya bu calista bergegas meninggalkan pakaian yang belum selesai ia jemur. menghampiri agatha dan bu yosi dengan raut wajah khawatir.


"Sepertinya begitu lis." ucap bu yosi.


"Sakitnya Sudah hilang bu." ucap agatha saat sakit yang ia rasakan telah hilang.


"Syukurlah." ucap bu yosi dan bu calista bersyukur mendengar ucapan agatha jika keadaannya kini sudah membaik.


"Arrggghhhh." Agatha kembali memegang perutnya meringis saat rasa sakit itu mulai menyerangnya lagi. air ketubannya sudah pecah ibu yosi dan bu calista yang melihat keadaan agatha saat ini mulai panik, bu yosi masuk ke dalam rumah mengambil kunci mobil. bu yosi dan bu calista menggendong tubuh agatha masuk ke dalam mobil di bantu anak panti membukakan pintu mobil.

__ADS_1


Untung saja jarak antara rumah panti dan rumah sakit tak terlalu jauh jadi tak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai di Rumah sakit. ketika mobil berhenti petugas rumah sakit langsung menghampiri agatha dan memindahkan tubuh agatha ke atas brankar pasien. bu yosi dan bu calista mengikuti ke mana arah brankar melaju. tangan bu calista tak lepas dari gengaman agatha, kedua mata agatha mengembun perasaan takut kini menjalar dalam dirinya.


Brankar berhenti di depan ruang operasi. genggaman tangan agatha semakin kuat.


"Bu aku takut." ucap agatha lirih menahan isak tangis.


"Bu jika nanti aku tak selamat tolong jaga dan rawat anakku." ucap agatha menatap kedua wanita yang sudah menemani harinya.


"Kamu bicara apa tha, jangan bicara yang aneh-aneh." ucap bu yosi mengingatkan.


"Jangan takut Tuhan bersamamu." ucap bu calista memberikan semangat. agatha mengangguk kecil. brankar yang membawanya segera masuk kembali melaju ke ruang operasi saat pintu terbuka. genggaman tangan agatha dan bu calista terlepas saat brankar kembali melaju.


Di sisi lain kini Juli sedang merasakan khawatir entah kenapa perasaanya bisa seperti ini. keringat dingin keluar dari tubuhnya padahal cuaca di luar hari ini sedang dingin dan langit terlihat mendung. ia berpikir apa dirinya sedang sakit tapi suhu tubuhnya bisa di bilang normal ketika punggung tangannya ia tempelkan di keningnya.


"Aargghhh." juli meringis merasa perutnya mendadak merasa sakit namun hanya sebentar lalu menghilang.


Agatha sedang melahirkan tapi juli yang tak mengetahuinya kini ikut merasakan apa yang di rasakan agatha, tiba-tiba ada rasa takut dan khawatir dalam hatinya.


Aksa mengamati keadaan tuannya sejak kemarin yang sedang terlihat tak baik-baik saja memutuskan masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. aksa sebagai asisten pribadi juli sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada tuannya. apalagi ini menyangkut kesehatan tuannya ia harus lebih memperhatikan kondisinya.


"tuan apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya aksa melangkah mendekat.

__ADS_1


"Tidak usah, aku baik-baik saja." tolak juli.


"Tapi anda. . ." ucap aksa lagi.


"Aksa aku bilang tidak usah, aku tidak butuh dokter, apa kau tuli?" sergah juli memotong ucapan aksa.


"Baiklah kalau begitu." ucap aksa mendunduk lalu membalikan badan undur diri pergi keluar ruangan CEO.


"Apa yang terjadi padaku hari ini. kenapa aku seperti orang sakit begini." gumam juli lirih yang hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya.


Juli masuk ke dalam kamar yang sengaja ia sediakan untuknya beristirahat jika masih berada di kantor. ia merbahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya mengistirahatkan seluruh tubuhnya. ia berharap setelah beristirahat keadaanya membaik.


Bersambung. . .


Biasakan setelah membaca meninggalkan jejak dengan memberikan dukungan


Like


Comen


Vote

__ADS_1


__ADS_2