
"Daddy." Suara ketukan pintu dsm psnggilan dari luar membuat keduanya menghentikan aktivitasnya. Hasratnya tak dapat ia tuntaskan kala mendengar suara putrinya.
"Iya sebentar sayang." Sautnya dari dalam. Ia lekas memakai kembali pakaiannya.
Agatha Juga sibuk memakai pakaiannya di kamar mandi.
"Iya sayang ada apa?" Tanya Juli saat pintu terbuka dan mendapati putri keduanya berdiri di sana.
"Daddy Al mau bobo sama Daddy." Alika memeluk erat kaki Dadnya cukup erat.
"Kan ada Kak Maura di kamar." Jawab Juli.
"Nggak mau, Al mau bobo sama Daddy." Alika menggeleng lalu mendongak menatap wajah Dad Juli yang lebih tinggi darinya.
"Siapa Mas?"
Agatha berjalan mendekati keduanya di ambang pintu.
"Alika, Dia ingin tidur dengan kita."
"Ajak masuk ke dalam Mas." Saran Agatha.
"Sayang kita kan.."
"Bisa lain kali Mas." Sergah Agatha cepat. Ia tau apa yang akan suaminya katakan.
"Hm Baiklah, Ayo sayang kita tidur." Juli mengangkat tubuh mungil putrinya berjalan menuju ranjang.
"Apa Aunty juga tidul dengan Dad?" Tanyanya dengan wajah bingung.
"Iya sayang." Agatha merapikan rambut milik Alika yang menutupi sebelah matanya.
"Sayang sudah Dad katakan panggil Mom Atha bukan Aunty." Juli kembali mengingatkan.
Alika nampak bingung mendengar penjelasan Dadnya. Ia masih saja mencerna apa yang Juli katakan.
"Bukannya Mom Atha kan Momnya Kak Lula bukan Mommy Al, Mommy Al kan Mom Desi." Ia pun bertanya lagi, di usianya saat ini Alika memang rasa ingin taunya sangat tinggi. Jadi Juli dan Agatha harus extra sabar menghadapi putri ke duanya.
"Mom Atha juga Momnya Alika."
"Belalti Al punya dua Mom?" Rupanya Ia masih saja ingin tau alasan Dadnya menyuruhnya memanggil Aunty Agatha dengan sebutan Mom.
"Iya Mom Alika ada dua, Mom Atha dan Mom Desi." Jawab Agatha pada akhirnya karena sang suami terlihat sudah terlelap.
__ADS_1
"Sudah malam, ayo tidur." Titah Agatha pada putri sambungnya. Alika menurut ia kembali terlelap.
Agatha mengamati wajah Alika lekat, Ia merasakan kasian melihat Alika yang masih kecil namun kedua orang tuanya berpisah, tanpa terasa buliran bening menerobos keluar membasahi pipinya. Agatha mengusap kedua pipinya. Ia meninggalkan jejak sayang di keningnya sebelum ia ikut menyusul ke alam mimpi. Walaupun Alika bukan putri kandungnya namun ada rasa sayang terselip di dalam hatinya.
**
Kini sudah menginjak satu bulan Pernikahan Juli dan Agatha. Keduanya belum menikmati bulan madu karena kesibukan suaminya di kantor dan butik milik Mami Niken sudah di serahkan Agatha untuk di kelolanya. Walaupun begitu Juli dan Agatha selalu menyempatkan waktunya untuk Quality time dengan keluarga kecilnya berlibur dengan jarak dekat entah itu ke mall, kebun binatang ataupun berenang.
"Mba Ale terlihat pucat, sebaiknya Mba istirahat saja di ruang kerja. Ini biar saya yang melanjutkannya." Saran Elsiya.
"Aku tidak papa El." Tolak Agatha.
"Tapi Mba terlihat ti..."
"Oh Astaga! Non Ale, Non." Panggilnya saat atasanya terjatuh pingsan.
"Wenda wen, bantu saya mengangkat tubuh mba Ale."
"Iya mba." Jawabnya berlari mendekati Agatha dan Elsiya.
Keduanya membawa atasanya ke mobil menuju Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit mereka di sambut oleh para perawat untuk di bawa ke IGD. Wajah kekhawatiran dari keduanya terlihat jelas. Mereka Duduk di kursi tunggu untuk menunggu hasil pemeriksaan Agatha.
Berkali-kali Elsiya mencoba menghubungi Suami atasanya. Namun masih belum di angkat. karena tak ada respon Ia pun segera menghubungi mantan atasannya Ibu Niken. Dan beruntungnya ia bisa mengabarkan perihal sakit Putrinya.
"Masih di ruang IGD sedang di periksa Bu." Jawab Elsiya.
"Juli sudah di hubungi?" Tanya Niken lagi.
"Sudah berulang kali, mungkin sedang sibuk jadi tidak bisa mengangkat telepon dari saya Bu."
"Astaga Juli." Niken terlihat memijit pelipisnya dan terdengar helaan nafas dari bibirnya.
"Tadi pagi Juli bilang ada dua pertemuan dengan clien, Sayang yang tenang. Juli sudah Mas Wa nanti kalau sudah senggang pasti menyusul." Ucap Sean mencoba menenangkan sang istri.
"Iya Mas, aku khawatir takut Ale kenapa-kenapa." Ucap Niken was-was. Wajar seorang ibu akan merasa khawatir pada putrinya.
"Tidak akan terjadi apapun padanya. Berdoa dan Percayakan semuanya pada Tuhan Ale pasti sembuh." Jawab Sean membuatnya agar lebih tenang.
Mana ada seorang ibu yang tau putrinya sakit akan merasa tenang.
"Dokter sudah keluar Bu." Ucap Wenda saat melihat wanita berjas putih keluar dari ruang IGD bersama perawat.
__ADS_1
"Dok bagaiamana keadaan putri saya?" Todong Niken.
"Nyonya yang tenang, tidak ada penyakit yang serius. Pasien hanya kelelahan. Jangan melakukan banyak aktivitas ibu hamil cenderung harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran." Terang Dokter Nora yang membuat semua yang ada di sana terdiam beberapa saat mendengar penjelasan dokter. Setelahnya mereka mengucap syukur atas kabar baik yang baru saja dokter katakan.
"Dokter anak saya hamil?" Tanya Niken sekali lagi dengan wajah sumringah.
"Iya Bu, Selamat putri anda hamil." Ucapnya sembari mengulurkan tangan bersalaman.
"Terima kasih Dok." Niken menyambut uluran tangan Dokter Nara lalu bergantian dengan Sean.
"Aku akan punya cucu lagi." Sean menarik kedua sudut bibirnya tersenyum bahagia.
"Iya Mas, Ini kabar baik. Nanti kita kabarkan pada seluruh keluarga." Ucap Niken lalu berhambur ke dalam pelukam suaminya.
Dokter Nora pamit undur diri meninggalkan keluarga pasien yang sedang berbahagia.
Juli sudah selesai meeting dengan cliennya. Sebelum mobil melaju meninggalkan restoran Juli merogoh ponselnya yang ada di saku jasnya. Ia mengeryitkan keningnya melihat banyaknya panggilan dari asisten istrinya. Pesan dari Ayahnya juga terlihat di layar ponselnya. Ia segera membuka dan membacanya.
[Datang ke rumah sakit, istrimu sakit Harapan]
Pesan Ayahnya membuatnya merasa khawatir.
"Aksa kita ke rumah sakit sekarang." titahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Siap Tuan."
"Bisa lebih cepat?" Tanya Juli dengan tidak sabaran.
"Ini sudah cepat Tuan, kalau melebihi batas kecepatan bisa celaka."
"Ya Tuhan." Juli merasakan pening di kepalanya. Ia menyandarkan punggungung dan kepalanya di jok seraya memejamkan kedua matanya.
Tak butuh waktu lama kereta besi sampai di halaman depan Rumah Sakit.
"Kau parkirkan mobilnya, Aku masuk duluan. Nanti kau menyusul." Cegah Juli saat Aksa hendak turun dari mobilnya untuk membukakan pintu untuknya.
"Siap Tuan." Aksa lekas melajukan mobilnya lagi menuju tempat parkir.
"Nona tolong cari pasien atas nama Valerina Agatha Lee ada di kamar nomor berapa."
"Sebentar Tuan saya cari dulu." Jawabnya seraya menatap layar komputer.
"Jul." Panggil Sean, Juli yang merasa namanya di panggilpun menoleh.
__ADS_1
"Tidak jadi Nona." Juli meninggalkan resepsionis menghampiri Ayahnya dengan tergopoh.
"Yah, Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Juli dengan wajah cemasnya.