
Seluruh keluarga besar Lee dan Hansen kini sedang berada di kamar rawat inap Agatha dalam suasana berbahagia menyambut kelahiran Baby Boy. Kamar yang cukup luas terasa sesak karena dua keluarga berkumpul di dalam satu kamar. Rambutnya yang hitam, hidung yang mancung, bibir yang tipis sudah seperti fotocopyan Dad Juli.
Juli yang sedang duduk di kursi dekat brankar terus menatap bayi mungil yang sedang di beri ASI di pelukan ibunya. Jika tak mengingat hari ini ada pertemuan penting dengan clien yang mengharuskan dirinya untuk hadir mungkin ia lebih memilih untuk tetap berada di rumah bersama istrinya. Dan tentu saja bisa menemani sang istri melahirkan. Ia juga baru saja sampai di Rumah Sakit sore hari setelah melihat pesan yang di kirim kakak iparnya. Tiada henti bibirnya terus mengukir senyum melihat hasil karya keduanya bersama Agatha.
"Sssssss Duh." Desisinya meringis merasakan perih di puntingnya. Juli mendadak panik melihat wajah istrinya yang terlihat berubah kesakitan.
"Kenapa sayang? apa ada yang sakit?" Tanyanya cemas.
"Tidak papa mas, aku baik-baik saja."
"Yang benar? Tapi kau terlihat tidak baik-baik saja."
"Ya begitulah rasanya menyusui Jul, Mami dulu juga seperti itu." Jawab Mami Niken yang baru saja masuk ke dalam bangsal.
"Oh begitu, Sayang Apa mau pakai susu formula saja?" Ucap Juli membuat penawaran pada istrinya.
"Jangan pakai susu formula, ASIku saja melimpah mas." Tolak Agatha merasa keberatan dengan tawaran sang suami.
"Iya lagian ASI itu baik untuk bayi." Timpal Wita.
"Bayi itu disarankan minum ASI sampai usia Dua tahun." Papar Mami Niken sedikit memberikan penjelasan.
Walaupun Juli di sebut Ayah beranak tiga namun ia tak banyak tau mengenai pelajaran bayi.
"Sebaiknya banyak-banyaklah mencari tau tentang wanita dan bayi di google atau bertanya dokter." Ujar Jonathan memberi saran.
"Memangnya kau sendiri sudah belajar?" Tanya Juli pada Kakak sambungnya.
"Aku sudah mulai belajar, Jika nanti Rena Hamil lagi aku sudah memahami semuanya." Jawab Jonathan dengan angkuhnya.
Juli berdecak sebal mendengar jawaban Jonathan. Sedangkan Wita hanya geleng-geleng mendengar perdebatan suaminya dan adik iparnya yang selalu membuat ramai jika keduanya di pertemukan.
__ADS_1
"Kalian seperti anak kecil saja berantem terus, ingat ada bayi yang butuh ketenangan." Ujar Papi Samuel yang merasa jengah melihat dan mendengar perdebatan putranya dan menantunya. Kedunya diam setelah mendapat teguran. Walau bibirnya terdiam tapi mereka terlihat Saling melirik sengit.
**
Keesokan harinya Maura ikut ke Rumah Sakit bersama Omanya, ia kini sedang berdiri di tepi box bayi sembari menatap adiknya yang sedang terlelap di dalam box bayi Tangannya terulur mengelus pipi gembul milik bayi laki-laki yang baru genap sehari.
"Mommy adik bayi kapan boleh pulang?" Tanya Maura menoleh Mommynya yang sedang duduk di atas brankar pasien di suapi Mami Niken makan siang.
"Tunggu perintah dari Dokter Sayang." Balas Agatha.
"Mommy adek bayi namanya siapa?" Tanya Maura. Agatha memang sudah punya nama tapi Juli belum menyetujuinya, ia bilang nama yang Agatha berikan terlalu chinnes.
"Belum tau, nanti Maura tanya Dad ya."
Maura mengangguk mengiyakan.
"Maura sudah makan?" Tanya Mami Niken.
"Sudah, makan bareng Kak Galen tadi sebelum ke rumah sakit." Jawabnya seraya mengotak atik ponselnya entah sedang apa. Tapi sepertinya ia akan mengambil gambar adiknya.
"Good Girl honney, Kak Galen sekarang di mana sayang kenapa tidak ikut ke mari?"
"Main sepak bola dengan temannya di lapangan."
"Oh begitu rupanya." Agatha mengangguk.
Maura kembali mendekati Omanya lalu minta duduk di tepi ranjang pasien. Ia ingin memeluk Momnya namun segera di cegah oleh Omanya karena takut melukai perutnya.
"Sayang mau apa?" Tanya Oma Niken.
"Mau peluk Mom, aku kangen." Maura kembali merentangkan kedua tangannya ke arah Agatha.
__ADS_1
"Sini peluk Oma saja." Balas Oma Niken. Maura menggeleng samar. mungkin ia sedang merindukan pelukan dari ibunya.
"Sayang." Oma Niken membawa tubuh cucunya ke dalam pelukannya. Memeluknya erat hingga Maura merasakan sesak di dadanya lalu mengendorkan pelukannya.
"Maaf, Apa Oma membuatmu susah bernafas?" Tanya Oma sembari terkekeh menatap wajah cucunya yang sudah ditekuk.
"Maura Sayang Oma." Maura kembali meringsek merapatkan tubuhnya ke tubuh Omanya.
Oma mengecup puncak kepala cucunya, "Oma juga menyayangimu." Balas Oma Niken.
Terdengar derit pintu kamar didorong. Seluruh orang yang ada di dalam kamar menoleh ke sumber suara. Menampilkan Juli yang masih memakai pakaian kerjanya. Lagi dan lagi Juli yang mengharuskan pergi menemui clien.
"Dad juga mau di peluk sayang."
Dengan senyum mengembang ia berjalan mendekati Istrinya yang sedang duduk di brankar.
"Daddy adik bayi namanya siapa? Mom bilang aku di suruh bertanya pada Dad." Tanya Maura.
"Nathan Gabriel Lee, panggilannya Nathan/Gabriel."
"Kau jadi menyematkan nama belakangku?" Tanya Agatha pada suaminya.
"Ya kenapa tidak, kurasa itu bukan nama yang buruk."
"Iya, Mami pikir juga itu nama yang bagus." Jawab Mami Niken.
Setelah melewati berbagai lika liku dan pahit manisnya kehidupan keduanya sudah di satukan kembali oleh Tuhan dalam ikatan pernikahan. Keduanya merasakan pertambahan kebahagiaan saat di karuniai buah hati lagi. Sudah cukup keduanya mengalami perpisahan jarak kini sudah saatnya hidup dalam Damai dan penuh suka cita.
Tamat
Saya ucapkan terima kasih yang sudah menyempatkan waktunya untuk mampir ke lapakku dan membacanya. Maaf jika ceritanya tak semenarik Novel karya author handal di luaran sana.
__ADS_1
Maaf jika isi ceritanya sangat berbelit-belit membuat kalian merasa jengah untuk membacanya.
Mampir juga yuk ke Novel aku yang ke dua yang berjudul Pelangi Di Atas Senja