One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 65


__ADS_3

"Ehm." Suara deheman Sean mengawali percakapan mereka.


"Ada hal penting apa hingga membawamu datang ke kantorku?" Tanya Sean.


"Aku ingin meminta pertanggung jawaban atas apa yang menimpa Putriku." Balas Samuel.


Niken masih menyimak, ia mengerutkan dahinya belum paham dengan apa yang Samuel katakan, meminta pertanggung jawaban atas Putrinya. Niken menatap laki-laki di hadapannya dengan penuh tanda tanya.


"Memangnya aku melakukan apa pada Putrimu?"


"Bukan kau, tapi Putramu. Aku ingin Putramu bertanggung jawab atas kehamilan putriku." Ujar Sean dengan gamblang.


"Kau pasti yang menyuruh Putrimu untuk menggoda Putraku agar pernikahanku dan Niken berantakan bukan. kau masih mencintai Niken dan berniat merebutnya lagi dariku. Jika kau masih mencintainya harusnya sejak dulu kau selalu membuatnya bahagia agar pernikahan kalian tak berakhir perceraian." Tuduh Sean.


"Jaga bicara Om. asal Om tau papi tidak pernah mengajarkan kami menjadi anak yang nakal." Jonathan merasa kesal saat ucapan Sean menurutnya terdengar menjengkelkan.


"Jo jaga bicaramu, panggil dia Ayah bukan Om." Titah Niken.


Niken juga cukup terkejut dengan ucapan Samuel mengenai putrinya yang di hamili oleh Putra sambungnya Juli.


"Ck, dia yang lebih dulu membuat masalah Mi." Jonatahan berdecak kesal.


"Sungguh aku tidak pernah menyesal bercerai dengan Niken. Bahkan aku sudah ikhlas kalian bersanding mungkin aku dan Niken memang tak jodoh. Jadi jika kau mengatakan aku mengajarkan Putriku menjadi wanita penggoda itu salah besar." Samuel menyanggah ucapan Sean untuk dirinya.


Ayah mana yang tega memperalat putrinya untuk kepentingan pribadinya. Dan samuel bukan termasuk Ayah yang seperti itu.


"Aku sudah mendapatkan jawabannya sekarang, kami permisi." Samuel pamit.


Samuel lekas bangkit dari duduknya pergi meninggalkan ruangan Sean di ikuti Jonathan yang mengekor di belakangnya.


Samuel benar-benar kecewa dengan hasil pertemuannya dengan Sean. Bukannya mereka berdiskusi nasib anak dan cucunya malah ia sendiri di tuduh hal yang bukan-bukan olehnya.


Jonathan melirik ke jok samping. Papinya terlihat sedang memijit keningnya yang mungkin berdenyut karena pusing memikirkan Ale adiknya.


"Sudah jangan di pikirkan terus Pi nanti Papi bisa sakit." Ucap Jonathan mengingatkan.


"Bagaimana Papi tidak pusing Jo, Sean sampai berpikiran jika Papi berniat merebut Mamimu darinya dan menjadikan Ale sebagai alat agar mereka berpisah."


"Aku juga tidak menyangka Pi dengan pemikirannya." ujarnya merasa kesal mengingat ucapan Ayah Sean yang tersimpan di memori otaknya.


**


Perasaan Agatha mendadak resah mengingat perbincangannya tadi pagi dengan Papi dan kedua kakaknya. Kepulangannya ternyata membuat masalah besar untuk keluarganya. Jika tau seperti ini harusnya kemarin dirinya tak ikut pulang bersama Jason.


Agatha berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Bukannya merasa lebih baik hati dan pikirannya kini malah menjadi tak karuan. Akhirnya Agatha duduk di lantai menemani putrinya menonton film kartun kesukaannya.


"Mommy Oppa bilang besok Lula mau di daptalin sekolah." Ucapnya di sela-sela menonton film.


"Oh ya Oppa bilang begitu? senangnya masuk sekolah." Ucap Agatha tersenyum.


"Oppa juga bilang mau beliin Lula sepeda, yey Lula nanti belangkat sekolahnya mau naik sepeda." Maura bangkit berdiri lalu berjingkrak kegirangan.

__ADS_1


Agatha menarik kedua sudut bibirnya membuat lengkungan melihat tingkah laku Putrinya yang keliwat bahagia.


Kemarin Papinya memang sudah bertemu dan mengobrol banyak hal dengan Maura. Tak sesuai bayangannya jika Papi dan Kakaknya tahu ia akan di usir dan tak di anggap anak lagi tapi nyatanya mereka malah menerima Agatha dan Putrinya dengan tulus walau ada kilatan kekecewaan di mata mereka.


Tok


Tok


Tok


"Non Ale." Panggil Mbak Nur.


"Iya mbak sebentar." Agatha menyahut dari dalam.


Agatha lekas bangkit dari duduknya. kakinya melangkah mendekat ke arah pintu dan membukanya.


"Di bawah ada Nyonya." Mbak Nur menujuk ke arah bawah.


"Mbak temenin Maura sebentar saya mau turun ke bawah."


"Iya Non siap laksanakan."


Agatha melangkah menuruni anak tangga. pandangan matanya menatap di mana maminya berada. Sudah lama rasanya ia tak bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya.


"Mami." panggil Agatha merentangkan kedua tangannya ke arah Niken.


Kedua tangan Niken tak menyambutnya. namun tatapan kebencian yang Agatha rasakan.


PLAK


"Mami melahirkan dan membesarkanmu untuk menjadi anak yang baik. Begini balasanmu pada Mami." Satu tamparan jatuh di pipi kiri Agatha.


Agatha meringis merasakan sakit. "Mami." Satu tangannya memegang pipinya yang memerah.


"Kenapa kau menggoda kakak tirimu le? Apa Papi yang mengajarimu menjadi wanita penggoda?"


"Aku tidak menggodanya. dia sendiri yang datang padaku untuk menghangatkan diri dengan mendatangi kamarku." Sangkal Agatha. Tidak terima dengan tuduhan Maminya.


"Dan Kau tak menolak saat Juli menyentuhmu? Atau kau justru menikmatinya saat dia menguasai tubuhmu."


"Aku tak semurah itu mi." Sanggah Agatha.


"Jadi siapa yang harus mami katakan murahan? Mami?" Tanya Niken ketus.


"Ya Mami benar aku memang wanita murahan, Jika kembalinya Ale ke rumah ini hanya membuat aib bagi keluarga Ale akan pergi jauh agar kalian bisa hidup damai dan bahagia." Ujar Agatha mengusap air mata yang menjatuhi kedua pipinya.


Agatha setengah berlari menaiki anak tangga. Menarik gagang pintu dan masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya berhenti tepat di depan lemari. Agatha segera mengeluarkan pakaiannya dan pakaian milik Maura dari dalam lemari lalu memasukannya ke dalam koper.


"Loh Non, Non Ale mau apa?" Tanya Mbak Nur panik.


Agatha hanya diam tak menanggapi pertanyaan Asisten Rumah Tangganya.

__ADS_1


"Lula ngga mau pakai jaket panas." Tolak Maura saat Agatha memakaikan jaket ke tubuh Maura dan memakaikan sepatu padanya.


"Maura kangen nggak Sama Nenek panti?"


"Mau main sana?" Tanya Maura.


Agatha mengangguk mengiyakan.


"Yey Main sana." Maura melompat kegirangan.


"Ayo sayang." Ajak Agatha menuntun tangan Maura, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk membawa koper.


"Non Ale, Non." panggil Mbak Nur mengejar anak majikannya yang akan pergi.


"Katakan pada semuanya. Tolong jangan mencariku lagi."


"Tapi Non.."


Agatha kembali melangkah keluar dari Rumah besar milik keluarganya.


"Ya Alloh Tuan Besar dan Tuan Muda sedang pergi, bagaimana ini?"


Tangannya masih saja mencari nomor telepon majikannya namun nihil nomor yang dihubungi sedang tidak aktif.


Agatha menghentikan laju taxi yang melintas di depan rumahnya.


Saat mobil taxi melaju pergi mobil milik jason memasuki halaman rumah ia mendapati Mbak Nur yang terlihat panik mengotak atik ponselnya.


Jason membuka seatbelt lalu keluar dari mobil.


"Mbak Nur sedang apa?" Tanya Jason.


"Alhamdulilah Tuan Jas sudah pulang." Ucap Mbak Nur mengucap syukur.


"Kenapa Terlihat panik, Ada apa?"


"I..itu Tuan Non Ale dan Non Maura baru saja pergi. Mereka juga membawa koper." Jelas Mbak Nur dengan suara tergagap.


"Apa?"


Bersambung. . .


Biasakan setelah membaca meninggalkan jejak dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Jangan lupa masukan Ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya ❤

__ADS_1


__ADS_2