One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 75


__ADS_3

Juli dan Aksa segera turun dari mobil berjalan menuju rumah panti. Baru sampai di teras Juli mendengar jelas suara gaduh dari dalam. Dengan langkah tergesa Juli langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Siapa yang hilang?" Tanya Juli. semua orang yang ada ruang tamu mendadak bungkam.


"Aku tanya sekali lagi siapa yang hilang?"Juli bertanya lagi dengan tak sabaran.


"Anu itu Ma...Maura Tuan Maura tak ada di sekolahnya saat saya jemput. Gurunya bilang tadi di jemput tantenya." Jawab Bu Calista tergagap.


"Aa..apa Maura tidak ada di sekolahnya." Juli tersentak mendengar jawaban Bu Calista.


"Sudah di cari?" Tanya Juli lagi merasa cemas.


"Sudah saya telepon dan sudah saya tanyakan pada wali murid barangkali Maura main ke rumah temannya namun tak ada satupun yang mengatakan Maura bersama mereka." Balas Bu Dewi.


Juli memijit pelipisnya yang berdenyut.


"Lebih baik kita cari sekarang." Ajak Juli pada semua orang.


"Aku ikut mas."


"Kau di sini saja, aku takut kau kelelahan nanti drop lagi." Tolak Sean.


"Tapi mas.."


"Kondisimu baru pulih, menurutlah."


"Aku berdoa semoga Maura lekas di temukan." Ucap Niken penuh harap.


"Jangan khawatir Maura pasti ketemu." Ucapnya menenangkan.


"Dok tolong jaga istri saya." pesannya sebelum pergi.


"Siap Tuan."


Mereka bergegas masuk ke dalam mobil melajukan mobilnya menyusuri jalanan mungkin saja pandangan matanya menangkap keberadaan putrinya.


Ingin rasanya minta tolong pada pihak berwajib untuk membantu tapi tak akan mungkin di terima pengaduan kami karena waktu hilang belum sampai 24 jam.


"Agatha sudah tau?" Tanya Juli.


"Kami belum mengabarinya." Balas Sean.


"Akan seperti apa jika nanti Agatha tau Maura hilang." Juli mengusap wajahnya kasar.


Mobil sudah melaju memutari kota hingga waktu sore namun Maura belum juga di temukan.


Niken yang tak di ijinkan ikut mencari beristirahat di rumah panti. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik putrinya. kedua matanya tak bisa terpejam. pikirannya bercabang memikirkan masalah yang ada di dalan keluarganya. padahal ia sudah menahan rindu untuk menemui putri dan cucunya tapi malah cucunya menghilang.


Agatha yang tak ada lemburanpun langsung pulang ke rumah. mendadak perasaannya tak enak. setelah turun dari sepeda motornya agatha berjalan menuju pintu utama. belum sempat mengetuk pintu ia langsung mendorong pintu yang sedikit terbuka.


"Atha sampai Bu, Maura." Serunya dengan suara sedikit keras. Agatha melepas sepatu yang ia kenakan lalu meletakannya di rak.


"Kau sudah pulang?" Tanya Bu yosi menghampiri Agatha.


"Baru saja bu. di mana Maura?" tanya Agatha mengedarkan pandangan matanya, ia menatap pada pria berpakaian rapi yang sedang duduk di sofa.

__ADS_1


"Kau baru saja sampai sebaikanya kau membersihkan diri dan istirahat sayang." Ucapnya lalu menuntun Agatha hingga kamar. Bu Yosi mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya Bu." Agatha merasakan sikap Bu Yosi yang sedikit aneh hari ini. tapi Agatha mencoba biasa saja.


Agatha hanya mengangguk angguk menurut.


Sesampainya ia di kamar dirinya di kejutkan mendapati Maminya ada di dalam kamarnya.


"Mami. Sedang apa di sini?"


"Kau sudah pulang sayang?" Tanya Niken membuka kedua matanya saat mendengar suara putrinya. ia lekas bangun lalu duduk.


"Ale." Panggilnya saat Agatha hendak keluar dari kamar.


"Ada apa lagi?" Tanya Agatha menatap tidak suka.


"Maafkan Mami nak." Niken bangkit dari ranjang lalu menghambur memeluk putrinya. air matanya lolos begitu saja.


Agatha hanya diam tangannya tak membalas pelukan Niken.


"Sayang Maafin Mami." Ulang Niken, ia mengurai pelukan lalu menatap wajah putrinya lekat.


"Aku lelah ingin istirahat, sebaiknya Mami keluar dari kamarku." Ujarnya dengan suara lirih.


"Ale." Niken mengusap air matanya yang membasahi kedua pipinya.


Niken keluar dari kamar Agatha langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Agatha bersandar di balik pintu. tubuhnya melorot ke bawah hingga ia terduduk di lantai. Dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak jatuh lagi. Ia mengingat jelas bagaimana maminya mengtakan bahwa dirinya murahan, anak yang tak bisa di banggakan.


Tok


Tok


Agatha masih saja terdiam, hatinya bagaikan di sayat-sayat jika mengingat kembali perlakuan wanita yang berstatus ibu kandung padanya.


"Kenapa Maura tak ada di kamar." Ingatannya kembali lagi pada putrinya yang belum ia lihat hari ini. ia lekas bangkit dan keluar mencari putrinya.


**


Desi masih fokus dengan jalanan. Ia mencoba mengakrabkan dirinya dengan Maura agar Maura tak takut padanya.


"Maura belum tau nama tante ya, nama tante lusi." Desi menyamarkan namanya. Desi juga memakai wig dan kacamata agar tak ada yang mengenali dirinya.


"Mom ngga pelnah celita aku punya tante." balasnya dengan wajah bingung.


"Tante saudaranya Dad Maura." Desi menjelaskan.


Maura mengangguk mengerti.


"Mom biasanya pulang jam berapa sayang?" Tanya Desi lagi melirik ke belakang lewat spion depan.


"Pulangnya sampai malem."


"Ooh ya? sibuk sekali, Mom bekerja di mana?"

__ADS_1


"Di pablik buat baju."


"Tante kita mau ke mana?" Tanya Maura yang sudah merasa lelah terlalu lama duduk.


"Kita mau ke rumah Oppa, tante di suruh menjemputmu sayang."


"Kenapa Mom tak ikut?"


"Oppa bilang tante di suruh hanya menjemputmu sayang."


Satu jam perjalanan membuat Maura merasa lapar. Jam juga sudah melewati jam makan siang.


"Tante kenapa belum sampai-sampai, apa lumahnya masih jauh?" Tanya gadis kecil yang duduk di jok belakang terlihat wajahnya tak nyaman.


"Masih jauh sayang. Maura laper ya?"


"Iya tante." Maura mengangguk.


Desi menepikan mobilnya ke pingggiran lalu memberikan sebungkus roti yang sudah di bukanya lalu di berikan pada Maura.


"Tante ada roti, Maura makan roti dulu ya sayang."


Maurapun akhirnya memakan roti yang di berikan desi padanya. Belum sampai habis Maura sudah menguap lalu menutup mata.


Desi tersenyum menyeringai, tak perlu melakukan kekerasan pada gadi kecil itu dia sudah diam dengan sendirinya. Desi kembali melajukan mobilnya yang ia kendarai sampai di pelabuhan.


"Ha..ha..ha Akhirnya dia dalam genggamanku." Suara tawa desi tak membuat Maura bangun dari tidurnya. Untung saja sebelum ia memberikan roti pada Maura ia sudah lebih dulu menaburkan obat tidur.


Sampailah keduanya di Kota Medan. Di sana dia akan melancarkan aksinya menghacurkan hidup Agatha secara perlahan lewat anaknya. Jika Maura mati Agatha pasti akan menderita dan tak ada alasan Juli menikahi Agatha.


Desi menoleh ke sana kemari memperhatikan sekitanya untuk memastikan tak ada orang yang melihatnya.


Ia menggendong Maura menuju sungai.


"Gadis kecil enyahlah dari muka bumi ini." Desi menurunkan Maura lalu ia hanyutkan ke sungai.


Desi lekas pergi meninggalkan Maura dan kota ini segera.


Perasaan Desi bahagia satu per satu masalah telah ia selesaikan walau harus dengan cara kotor sekalipun.


"Ale aku ingin melihat ekspresi wajahmu melihat putrimu telah tiada. Akan aku pastikan kau akan gila bila melihat jasadnyaha..ha..ha.." Desi tak hentinya tertawa.


Ponsel yang sedari tadi di nonaktifkan tak di sentuhnya. Biar saja jika dia sudah samapai di jakarta ia baru akan mengaktifkannya kembali.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤

__ADS_1


Mampir juga yuk ke Novel keduaku yang berjudul Pelangi Di Atas Senja



__ADS_2