One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 96


__ADS_3

"Kalian belum merencanakan honeymoon?" Tanya Jason.


"Di rumah saja sudah cukup." Jawab Agatha seraya meletakan teh di atas meja.


"Minggu depan Kak." Timpal Juli.


"Untuk apa honeymoon segala, Kita sudah memiliki dua anak dan aku ingin kita fokus pada pertumbuhan Maura dan Alika."


"Sayang kita perlu waktu bersama hanya berdua." Juli terus saja menyela ucapan Istrinya.


"Jadi menurutmu kita akan pergi tanpa Maura?" Tanya Agatha dengan nada kesal.


"Iya, hanya beberapa hari."


"Aku tidak setuju." Tolak Agatha cepat.


"Mommy haus." Maura turun dari sepedanya lalu berlari mendekati Mom Agatha yang sedang duduk di teras bersama Dad Juli dan Uncle Jason.


"Ini sayang, Duduk dulu." Maura menyodorkan gelas berisi air putih pada putrinya.


"Maura mau kue?" Tawar Agatha.


Maura mengangguk, Agatha mengambil potongan kue brownis lalu menyuapkan ke mulut putrinya.


"Makan sendili aja." Maura menerima potongan kue dari tangan Mom Agatha lalu memakannya. Lucu sekali bibirnya sampai belepotan karena coklat, Agatha mengambil tisu lalu membersihakannya.


"Kalau Maura tidak mau disuapi biar aku saja yang disuapi."


"Astaga sudah tua masih saja manja." Cibir Jonathan menatap jengah pada pasangan dua sejoli.


"Iya Kak, aku di sini juga dari tadi hanya jadi obat nyamuk." Timpal Jason.


Jonathan yang baru saja datang langsung ikut bergabung, Ia duduk di undakan tangga depan rumah.


"Astaga Kalau mau bilang, Ini aku suapin gantian." Agatha lekas beranjak seraya membawa sepotong brownis untuk kedua Kakaknya.


"Maaf ya kita bukan suamimu yang manja." Jonathan memalingkan wajahnya saat kue yang adiknya bawa sudah berada tepat di depan wajahnya.


"Aku doain nanti kalau sudah menikah bucinnya melebihi Aku." Doa Juli.


Jonathan mendelik saat mulut ini lancang berucap doa untuknya.


Jason malah ikut tertawa sembari memukul bahu Kakaknya, "Semoga tak terkabul Kak." Jason menenangkan Kakaknya yang sudah mengeluarkan asap tebal di kepalanya padahal ia sendiri ikut tertawa mengejek dasar adik laknat.


**


"Mas kita beneran akan pergi honeymoon?" Tanya Agatha seraya memasangkan dasi pada suaminya.


"Iya beneran, Kapan aku pernah membohongimu?"


"Dulu saat masih pacaran kau pernah berbohong."


"Kapan? Jangan mengarang cerita." Juli menatap wajah istrinya dengan serius.


"Dulu saat kau bilang akan mengajakku pergi nonton, Kau malah bilang sedang sakit flu lalu pura-pura bersin dan batuk."

__ADS_1


"Oh itu, Kan mau buat kejutan ulang tahun untukmu."


"Itu bohong kan namanya."


"Tetep beda Sayang." Juli kekeh membela diri.


"Beda apanya? Sama-sama bohong." Agatha mencubit hindung suaminya geregetan.


"Iya, Tetep beda itu namanya bohong demi kebaikan.


"Apanya yang baik, dasar pria tak pernah mau mengalah."


"Bukannya itu biasanya ada di diri perempuan." Juli menaikan satu alisnya.


"Baiklah wanita selalu benar." Juli mengecup pipi istrinya lalu segera meraih tas yang ada di ataa meja kerjanya.


Keduanya beriringan keluar dari kamar menuju ruang makan. Di sana terlihat sudah ada putrinya yang sudah duduk di kursi dengan pakaian sekolahnya dan Mami Niken juga Ayah Sean.


"Makan yang banyak sayang biar sehat." Ujarnya putrinya yang sudah mulai makan.


"Mommy ini ayam buatan oma enak." Ujarnya sembari menunjukan sepotong paha pada Mom Agatha.


"Kalau enak nasinya tambah ya sayang." Ucap Mami Niken Antusias. Ia merasa seneng sang cucu menyukai masakan yang ia masak.


"Iya Lula mau tambah tapi sedikit aja." Maura menyodorkan piringnya ke Oma Niken untuk di ambilkan nasi.


"Lagi doyan makan anak Mom." Agatha mengusap lembut kepala putrinya.


Semuanya tersenyum saat melihat polah tingkah anak gadis berkuncir dua ini. Selesai makan Juli beranjak dari kursi menuju mobil untuk mengantar putrinya lalu berangkat ke kantor. Di dampingi pengasuhnya juga untuk menjaga putrinya saat di sekolah.


"Sama saja kan di antar Dad?"


"Tapi Lula mau di tungguin bial sepelti temen-temen." Wajah Maura mendadak sedih.


"Kan ada Mbak Wita." Juli mencoba memberikan pengertian pada putrinya.


Maura tak membantah ia malah kembali berubah ceria. Saat di perjalanan Maura menceritakan kegiatan saat dirinya pertama kali masuk ke sekolah barunya sampai menceritakan pengalamannya saat ada pelajaran menanam sayuran di sekolanya. Juli sebagai pendengar yang baik mendengarkan setiap celotehan yang keluar dari bibir mungil putrinya.


"Sudah sampai." Belajar yang pinter sayang." Ucapnya seraya melepaskan sabuk pengaman lalu turun dari mobil menuntunnya sampai ke depan kelasnya.


"Wita tolong jaga Putriku dengan baik." Pesannya pada pengasuh Maura.


"Siap laksanakan Tuan." Jawabnya menunduk hormat.


"Sudah besar kalau di ajari Ibu Guru harus nurut ya sayang, terus jangan nakal." Juli mengecup kedua pipi Maura. Maura hanya mengangguk lalu melambai saat Dadnya sudah masuk ke dalam mobil.


**


Sudah lima hari Juli tidak masuk ke kantor. Dan sudah di nanti setumpuk berkas yang ada di atas meja kerjanya, ia mengecek satu persatu dengan teliti.


"Tuan, Ada Nyonya Muda datang."


"Suruh masuk." Titahnya.


"Baik." Aksa undur diri lalu mengajak Istri atasnya masuk ke dalam.

__ADS_1


"Mas, aku bawakan makan siang." Agatha membawa rantang di tangannya.


"Tau saja suaminya belum makan siang."


"Jelas tau, satu ikatan batin." Jawabnya asal.


"Masak apa?" Tanya Juli.


"Banyak."


"Makanlah." Titah Agatha.


Agatha menyodorkan di hadapan suaminya sepiring nasi beserta lauk pauk.


"Sayang suapi sekalian." Juli membuka mulutnya.


"Putrimu saja tidak manja, ini Dadnya malah manja. Malu!" Cibir Agatha.


"Biar." Juli tak mendengarkan cibiran istrinya.


Agatha geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya yang sangat manja.


"Kau tidak makan?"


"Makan mas, ini." Jawab Agatha seraya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya dan suaminya hingga makanan di piringnya habis tanpa sisa. Agatha mengelap bekas makanan yang tersisa di sudut bibir suaminya.


"Sweet banget si istriku, jadi makin sayang." Juli menatap wajah Agatha penuh damba.


Juli menyambar bibir istrinya, kedua lidahnya saling beradu. Ia semakin memperdalam pagutan keduanya hingga tubuh Agatha sudah berada di bawah suaminya. Tangannya tak tinggal diam dengan gerakan lembut membuat Agatha merasakan sensai yang luar biasa. Menyelinap ke dalam pakaian sang istri dengan buas.


"Emmmmhhh." Agatha melenguh saat tangan suaminya sudah menjamah ke area sensitifnya.


Ia mendorong agar suaminya menghentikan aktivitasnya.


Juli melepas pagutan keduanya lalu menatap istrinya yang masih berselimut gairah.


"Mas nanti kalau ada karyawanmu masuk bagaimana?" Tanya Agatha merapikan kembali rambut dan pakaiannya.


"Mana mungkin mereka berani masuk ke dalam kecuali atas izinku." Juli langsung menggendong sang istri berpindah ke kamar pribadinya. Rasanya ia tak mungkin akan bisa menahan keinginannya hingga malam tiba. Belum tentu akan bisa melakukannya karena putrinya terkadang selalu minta tidur bersama.


"Mas mau ke mana?"


"Sayang aku menginginkanmu." Bisiknya.


Agatha terdiam mengerti dengan perkataan suaminya. Dengan perlahan ia menjatuhkan sang istri ke ataa ranjang. Ia menelan salivanya saat dirinya menurunkan sang istri. Ia menelan salivanya merasakan ketegangan di bawah sana yang sejak tadi sudah meronta ingin keluar memasuki gua kenikamatan.


"Sayang aku mencintaimu." Bisik Juli sembari membuai pipi sang istri.


"Aku juga mencintaimu." Gairahnya semakin bergelora kala Agatha juga menikmati setiap sentuhan jemariku yang menjamah ke tubuhnya.


Hentakan demi hentakan mampu membuat suara sexy sang istri terdengar menggema di kamarnya. Tak lama Juli sudah ada di puncak kepuasan ia menanamkan cairan di dalam rahimnya berharap agar cepat tumbuh.


Ia mencium perut istrinya sembari mengelusnya, "Cepatlah tumbuh sayang, Dad menantimu." Setelahnya ia menutup tubuh polos istrinya dengan selimut lalu tidur bersama.

__ADS_1


__ADS_2