One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 46


__ADS_3

Juli mendirikan perusahaan cabang lagi di daerah semarang. perusahaan yang di bangun beberapa bulan lalu dan baru siap untuk di gunakan sekarang. ia juga sudah membeli rumah di kota ini untuk dia tinggali saat berkunjung ke perusahaan cabang.


"Aksa aku ingin berkunjung ke panti asuhan yang sudah 1 tahun ini kita berikan donatur, aku ingin melihat anak-anak." ajaknya pada asistennya setelah ia selesai makan siang.


"Bagaimana jika sore ini kita berkunjung ke sana?" balas aksa.


Pukul 15.00 juli sampai di pekarangan panti asuhan. aksa keluar dari mobilnya membukakan pintu mobil. berjalan mengekori tuannya hingga pintu masuk. terlihat anak-anak sedang bermain di halaman depan.


Tok Tok Tok


Aksa mengetuk daun pintu. tak lama kemudian salah satu penghuni rumah membukakan pintu.


"Selamat sore tuan juli dan tuan aksa." sapa bu yosi menunduk hormat.


"Selamat sore." balas aksa mengangguk sopan.


"Silahkan masuk tuan, silahkan duduk tuan." ajaknya masuk ke dalam rumah.


"Suatu kehormatan bagi kami tuan muda berkunjung ke panti asuhan kami." ujarnya setelah kedua tamunya duduk di kursi.


"Tuan muda ingin berkunjung kemari, ingin melihat anak panti." ucap aksa menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke panti asuhan.


Lintang membawakan teh untuk kedua tamu yang datang dan meletakannya di atas meja.


"Minumannya tuan." ucapnya sopan.


"Terima kasih." balas aksa.


"Nenek osi lihat aku menggabal beluang, ayo belikan nilai di sini." maura berlari membawa buku gambarnya menghampiri bu yosi.


"Mana nenek lihat, wah bagus gambar beruangnya. nenek kasih nilai berapa ya?" ucap bu yosi mengamati gambar yang di tunjukan padanya.


"Selatus." ucapnya bergelayut manja di paha bu yosi.


"Baiklah nenek kasih nilai seratus ya, ayo gambar hewan yang lain nanti nenek nilai lagi." ucap bu yosi mengembalikan bu gambar pada maura. tangannya mengacak rambut maura. ia berlari kembali ke dalam dengan wajah sumringah.

__ADS_1


Juli tak mengalihakan pandangannya pada gadis cilik yang ada di hadapannya. wajahnya seperti tak asing. ya dia berpikir seperti gadis cilik yang ia temui saat di jakarta di warung makan. tapi apa benar dia anaknya. tapi dulu di lihatnya masih sangat kecil.


"Dia anak yang aktif, dan kali ini dia sedang menyukai menggambar." ucap bu yosi melihat tatapan mata juli ke arah maura pergi.


"Ya di usianya saat ini memang sedang aktif-aktifnya sama seperti putriku." ucapnya mengingat keaktifan putrinya.


"Siapa tadi namanya?" tanya juli.


"Maura." balas bu yosi.


Setelah berbincang cukup lama juli dan aksa pergi meninggalkan panti asuhan. seketika hatinya merasa berat meninggalkan panti asuhan. ingin berlama-lama berada si sini namun atas dasar apa ia terus tetap berada di sini.


**


Setiap hari agatha selalu pulang malam mengikuti kewajibannya lembur di pabrik. jika dirinya pulang ke rumah ia hanya mendapati putrinya yang sudah terlelap tidur. sedangkan di pagi harinya ia meninggalkan putinya berangkat bekerja sebelum putrinya terbangun. waktu kebersamaannya dengan putrinya kini lebih sedikit. bukan karena ia egosi namun tuntutan kebutuhanlah yang memaksanya.


"Sayang mom berangkat kerja dulu ya." satu kecupan mendarat di kening putrinya yang masih terlelap dalam tidurnya.


Agatha segera melangkah keluar kamar pergi menunaikan kewajibannya sebagai seorang karyawan. tak lupa sebelum berangkat menyempatkan waktu untuk sarapan dan menyiapkan bekal untuknya saat istirahat nanti. tak lupa ia berpamitan dengan ibu panti lalu segera menaiki dan melajukan sepeda motornya.


"Hati-hati di jalan." ucap bu yosi menerima uluran tangan agatha.


Sudah 2 tahun ini agatha bertahan bekerja di pabrik. di tahun depan maura sudah mulai masuk ke sekolah TK.


Saat menstater sepeda motornya di lihatnya bensinya tinggal sedikit ia langsung melajukan sepeda motornya ke pertamina.


Mobil yang di kendarai juli dan agatha sama-sama belok ke ke pertamina. juli yang sedang menatap jalanan dapat melihat jelas wajah agatha walaupun memakai helm.


"Aksa apa kau bisa lebih cepat." seru juli.


"Siap tuan."


Agatha yang sudah selesai mengisi bahan bakarpun langsung meninggalkan partamina menuju pabrik. sedangkan juli memberi perintah pada aksa agar mengikuti sepeda motor yang di kendarai wanita mirip dengan kekasihnya itu.


"Tuan siap orang yang kita ikuti?" tanya aksa hati-hati.

__ADS_1


"Agatha."


"Bukannya nona agatha sudah tiada kenapa tuan masih berpikir jika wanita itu nona agatha?" tanya aksa lagi.


"Diam daan ikuti saja perintahku aksa." ketus juli.


Aksa terdiam tak mau lagi mengatakan hal apapun, tuannya akan murka jika ia berbicara lagi dan lebih aman jika ia diam saja.


Mobil yang di kendarai juli berhenti di depan pabrik melihat laju sepeda motor yang di ikutinya belok masuk ke dalam pabrik.


"Maaf mbak mau bertanya ini pabrik apa ya?" tanya aksa turun dari mobil dan menghentikan salah satu karyawan yang akan masuk ke dalam pabrik.


"Garmen mas." balas seorang wanita berhijab.


"Ooh ya terima kasih atas infonya." aksa kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


"Informasi apa yang kau dapat?"


"Ini Pabrik Garmen."


"Cari tau wanita itu secepatnya." perintah juli yang membuat aksa menghela nafas. lagi dan lagi ia mendapatkan perintah yang di luar pekerjaannya.


"Siap." alih-alih ia harus melaksanakan perintah dari tuannya.


Bersambung. . .


Maaf bila ceritaku tak sesuai keinginan pembaca dan terlihat sedikit bertele tele. terima kasih atas masukan untuk saya sendiri. dan saya akan berusaha menulis dengan baik lagi. terima kasih atas kritik dan saran yang kalian berikan.


Terima kasih kepada pembaca yang sudah setia membaca dan mampir ke lapakku.


Berikan dukungan dengan memberikan


Like


Comen

__ADS_1


Vote


__ADS_2