
Udara dingin di pagi hari membuat tubuh ini malas bangun lebih awal. Hujan belum juga reda dari semalam. Pasangan pengantin baru masih betah di atas pembaringan.
"Emmm." Agatha menggeliat saat mendapat serangan bertubi di pipinya.
"Mas." Panggil Agatha agar suaminya menghentikan aktivitasnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Juli saat tubuh Agatha kini berhadapan dengan sang suami.
"Mas Aku masih ngantuk, Jangan mengganggu tidurku." Ujarnya dengan bibir manyun. Juli merasa gemas melihat bibirnya yang begitu menggoda.
Cup
Satu kecupan berhasil membuat istrinya berhenti bicara.
Baiklah Agatha memang harus belajar sabar menghadapi suami mesum seperti Dia.
Juli meringis mendapatkan cubitan dari sang istri di perutnya.
"Harusnya di sayang bukan di siksa seperti ini." Ujarnya mendrama.
"Kau meresahkan Mas!" Ucapnya jujur.
Juli hanya terkekeh mendengar penuturan sang istri.
"Sayang mau ke mana?" Tanya juli melihat pergerakan sang istri yang hendak bangkit dari ranjang.
"Mau ke kamar mandi."
"Yakin bisa jalan?" Tanya Juli merasa ragu.
Agatha nampak berpikir sesaat sebelum melangkah.
Juli yang tau jawabannya langsung saja menggedong istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Aaaaaaaa....." Teriak Agatha saat tubuh ini bagaikan melayang di udara.
"Jangan teriak nanti semua orang datang ke kamar, di kiranya aku menyiksa istri." Juli mengingatkan.
Agatha menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik suaminya. Kedua tangannya juga melingkar di leher Juli erat. Sesampainya di dalam kamar mandi Juli menurunkan sang istri perlahan.
"Kenapa masih di situ Mas?" Tanya Agatha yang masih setia berdiri di ambang pintu.
"Kenapa memangnya? Tidak boleh?" Tanya Juli menaikan satu alisnya. Perlahan tubuhnya maju mendekati istrinya mengikis jarak.
"Eh mau apa Mas?" Tanya Agatha memundurkan langkahnya hingga tubuhnya terpentok tembok.
"Mau lihat." Ucapnya seraya mengedikan sebelah matanya.
"Lihat apa Mas?"
"Keluar Mas! Aku malu." Agatha mendorong tubuh sang suami keluar.
Saat suaminya sudah berhasil di keluarkan dari kamar mandi, Agatha langsung menguncinya dari dalam takut sang suami masuk lagi. Sungguh malu sekali rasanya, mungkin belum terbiasa lebih tepatnya.
__ADS_1
"Mas." Panggil Agatha menyembulkan kepalanya di ambang pintu.
"Ada apa sayang?"
"Aku lupa bawa handuk."
"Kenapa tidak bilang jika mau mandi, kita bisa mandi bersama."
"Bisa lama kalau mandi bersamamu." Jawabnya jujur.
"Ini." Saat tangan Juli terulur memberikan handuk ia langsung ikut menerobos masuk ke dalam.
"Mas kenapa ikut masuk?" Agatha kaget merasakan tubuhnya di peluk dari belakang.
"Mau mandi juga." Agatha pasrah saja dengan kelakuan sang suami.
Akhirnya keduanya mandi bersama. Saling menggosok punggung bergantian. waktu mandi yang harusnya bisa selesai dengan cepat malah menjadi lama. Di rasa Agatha sudah mulai merasa kedinginan ia segera mengakhiri mandi bersama. Takut nanti akan masuk angin jika masih ada di dalam bathtub
**
Hari ketiga setelah pernikahan Sejak Agatha dan Juli menikah Maura di latih tidur sendiri. Kamarnya juga tak jauh dari kamar Agatha tepat di sampingnya. Awalnya Maura tak mau namun Juli selalu menemani Maura hingga terlelap. Kamarnya dibuatkan seindah dan senyaman mungkin mulai dari gambar frozen dan cat warna blue menempel di dindingnya, Saat melihatnya Maura langsung mengiyakan mau tidur sendiri.
Tok
Tok
Tok
"Iya sayang sebentar, Mom lagi pakai baju." Balas Agatha bergerak cepat memakai pakaiannya setelahnya melesat berjalan ke arah pintu lalu membukanya.
"Kenapa di kunci, Lula ngga bisa masuk ini." Maura mengerucutkan bibirnya merasa kesal.
"Maaf Mom lupa menguncinya sayang."
Agatha menuntun tangan putrinya masuk ke dalam kamar lalu mendudukannya di tepi ranjang.
"Dad ngga belangkat kelja?"
"Libur sayang ini kan hari minggu, sini duduk deket Dad." Pintanya seraya menepuk pahanya agar Maura mendekat dan duduk di pangkuannya.
"Ngga mau, mau sama Mom." Balas Maura seraya bergelayut manja pada Agatha.
"Mom juga kangen sama Maura."
"Tidak kangen dengan Dad sayang?"
Maura menggelengkan kepalanya lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Agatha.
"Mom Lula mau makan nasi goleng telol mata sapi buatan Mom."
"Sekarang?" Tanya Agatha seraya tangannya terulur mengusap kepala putrinya.
"Iya, Lula udah lapel ini." Maura mengusap perutnya yang kini sudah keroncongan karena sudah masuk jam makan siang.
__ADS_1
"Sayang memangnya kau bisa masak?" Tanya Juli.
"Bisa mas, Dulu belajar di rumah panti."
"Baiklah, Ayo kita ke dapur." Maura mengikuti langkah Agatha seraya meremas daster yang sedang Agatha kenakan.
"Duduk dulu sayang." Agatha menyuruh Maura duduk di kursi.
"Telolnya yang setengah mateng." Teriak Maura saat Agatha sudah mulai berperang dengan alat masaknya di dapur.
"Non mau masak apa biar Bibi yang buatkan." ART menawakan diri saat melihat Agatha sedang memotong daun bawang.
"Tidak usah Bi, saya mau masak sendiri. Maura kangen masakanku."
"Oh begitu Non, ya sudah saya mau lanjut kerjakan pekerjaan lain."
"Bi Mami dan Ayah ke mana kok sepi?" Panggil Agatha hingga sang ART berhenti melangkah lalu menoleh ke belakang.
"Sedang pergi menghadiri acara pernikahan rekan bisnisnya Nyonya." Balasnya lalu kembali melangkah meninggalkan dapur.
"Oh begitu." Jawabnya seraya mengambil wajan lalu meletakannya di atas kompor. Ia segera menyalakan kompor lalu segera menggoreng bumbu ke wajan setelah itu memasukan nasi lalu mengaduknya dengan spatula.Tak butuh waktu lama nasi goreng dan dua telor mata sapi sudah siap di sajikan. Agatha segera mengambil dua piring lalu mengisinya dengan nasi goreng dan telor mata sapi.
"Sayang sudah matang nasi gorengnya?" Tanya Juli seraya menarik salah satu kursi lalu mendudukinya.
"Wah sepertinya enak ini." Agatha meletakan satu piring nasi goreng di hadapan sang suami.
"Enak Dad nasi golengnya, Lula suka." Celotenya memuji ibuny, setelah ia menelan nasi goreng yang baru saja ia kunyah.
"Dad coba ya." Juli lekas memasukan nasi goreng dalam mulutnya lalu menguyahnya. Ia menghentikan kunyahannya seraya menatap istrinya tanpa berkedip. ini adalah pertama kalinya ia memakan masakan istrinya dan menurutnya rasanya tak mengecewakan lebih enak dari nasi goreng yang ada di restoran.
"Enak, sekarang jago masak." Puji Juli.
"Jangan berlebihan Mas, sudah tugasku." Balas Agatha merendah.
"Sayang buka mulutmu aaaaa...." Pinta Juli seraya menyuapka satu sendok nasi goreng ke mulut istrinya.
"Aku bisa makan sendiri Mas." Tolak Agatha.
"Lula yang suapi Mom." Bukan Mom Agatha yang menerima suapan dari putrinya malah Dad Juli.
Ketiganya makan dengan di sertai canda dan tawa, betapa bahagia kehidupan mereka setelah di satukan dalam satu ikatan suci pernikahan.
Bersambung. . .
Mohon dukungannya dengan memberikan
Like
Comen
Vote
Jangan lupa masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤
__ADS_1