One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 73


__ADS_3

"Desi." Ucapnya seraya mengulurkan tangan menyalami lelaki yang baru saja tiba di hadapannya.


Chen tak menyambut uluran tangan Desi dan langsung mendudukan bokongnya di kursi bersebrangan dengan Desi.


"Langsung saja, aku bukan orang yang suka berbasa basi." Ucapnya tegas.


"Cih, jika aku tak membutuhkannya aku tak akan sudi meminta bantuannya. Songong sekali dia." Batinnya merasa geram dengan sikap Chen.


"Apa kau mencintai Agatha, maksudku Ale?" Tanya Desi.


"Lalu?" Tanya Chen mengerutkan keningnya merasa bingung.


"Kita bisa bekerja sama agar kau bisa menikah dengannya."


"Bukan kerja sama, tapi kau hanya ingin memanfaatkanku saja." Tuduh Chen, ia mengangkat sebelah bibirnya yang seakan tau akal bulus wanita di hadapannya.


"Kenapa dia bisa tau jalan pikiranku? apa dia paranormal."


"Bukan memanfaatkan, aku mengajakmu bekerja sama. jadi saling menguntungkan." Balas Desi menjelaskan.


Prok


Prok


Prok


"Rubah betina kau pandai sekali berkilah." Ucap Chen bertepuk tangan di sertai tawa dari bibirnya.


"Apa tadi dia memanggilku Rubah betina kurang ajar." Desi merasa geram pada lidah Chen yang begitu tajam melebihi silet. ingin rasanya mencabik-cabik mulutnya sampai tak berbent**uk.


"Jika sudah tidak ada yang mau di bicarakan lagi, saya permisi." Chen pamit lalu bangkit dari duduknya hendak melangkah pergi.


"Tunggu." Cegah Desi. ia lekas menahan langkah Chen yang belum jauh darinya.


Chen menghentikan langkahnya, ia tak berbalik hanya menoleh ke belakang.


"Dengarkan aku, bukankah kau mencintai Ale. Jadi aku bisa rujuk kembali dengan mantan suamiku dan kau bisa menikahi Ale, jadi kita sama-sama untung. Bagaimana apa kau mau?" Ucap Desi masih berharap agar pria menyebalkan ini dapat membuat rencananya berhasil.


"Tanpa campur tangan darimu aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Chen tersenyum sinis pada Desi.


Chen kembali melangkah pergi meninggalkan Desi yang masih berdiri mematung. Sungguh baru kali ini ada orang yang membuat darahnya mendidih.


Desi terperangah, merasa tidak percaya kalau ia gagal membuat pria keturunan cina itu mau bekerja sama dengannya. Ia harus memutar otak kembali untuk memisahkan Juli dan mantan kekasihnya.


Desi berjalan gontay masuk ke dalam mobilnya. wajahnya terlihat lesu dan pikirannya juga sudah buntu.

__ADS_1


"Arrggghhhhhh sial sial sial." Desi memukul stir kemudi berulang kali.


"Lihat saja Ale aku akan membuatmu menyesal telah berurusan denganku." Desi melajukan mobilnya meninggalkan halaman Coffee.


**


Samuel mengajak ketiga anaknya dan cucunya makan siang bersama di restoran. Mereka juga turut mengundang Chen beserta kedua orang tuanya yang kini sedang dalam perjalanan menuju kemari. Sambil menunggu keluarga Ming mereka terlibat obrolan kecil bersama.


"Oppa sama kangen Maura." Samuel membawa tubuh mungil cucunya ke dalam pangkuannya lalu mengecup singkat kedua pipi Maura bergantian.


"Maura kangen ngga sama Oppa?" Tanya Samuel.


"Lula juga kangen sama Oppa." Balas Maura.


"Maura suka ngga sama sepedanya?" Tanya Samuel.


"Suka, tapi mommy ngga ngebolehin Lula belangkat sekolah naik sepeda." Adu Maura merajuk.


"Kan sekalian mommy berangkat kerja."


"Tapi Lula pengin belangkat naik sepeda." Ucapnya lagi dengan mata yang sudah memerah seperti akan menangis.


"Sayang, Uncle juga ngga setuju kalo Maura naik sepeda. Lebih baik berangkat bareng Mom. Kalau berangkat naik sepeda sendiri nanti bisa tertabarak mobil sayang." Ucap Jonathan memberi pengertian.


Dari kejauhan ketiga orang yang sedang mereka tunggupun tiba.


"Apa kabar Sam?" Tanya Ming saling menjabat tangan. bergantian dengan Felicia dan Chen yang mengekor di belakang Ming suaminya.


"Kabar baik, bagaimana denganmu?" tanya Samuel balik.


"Kabarku juga baik."


"Ini pasti cucumu." Ujarnya menatap wajah Maura.


"Iya dia putri Ale pah." Bukan Samuel yang menjawab tapi Chen yang menjawab.


"Kemari sayang biar Oppa Ming menggendongmu." Ming merentangkan kedua tangannya pada Maura.


"Mamah juga ingin menggendongnya pah." Ucap Felicia menatap gemas pada gadis kecil di hadapannya.


Maura sudah berada di gendongan Kedua orang tua Chen secara bergantian.


Mereka mengakrabkan diri dengan Maura. Hingga keduanya menyuapi Maura bergantian.


"Cia tidak ikut?"

__ADS_1


"Cia sedang menghadapi ujian sekolah jadi dia tidak ikut." Balas Ming.


Samuel mengangguk mengerti.


"Sam aku ingin Ale dan Chen secepatnya menikah." Ucap Ming penuh harap.


"Aku juga menginginkan hal yang sama." Balas Samuel mengangguk setuju.


Sedangkan Agatha hanya diam mendengar obrolan dari kedua kepala keluarga.


"Bagaimana Chen kapan kau siap mempersunting putriku?"


"Kapan saja aku siap Uncle." Jawab Chen sungguh-sungguh.


"Ale will you marry me." Chen mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari sakunya lalu membukanya di hadapan Agatha.


"A..aaku, aku mau." Hatinya sungguh di buat bimbang namun dengan cepat


Agatha mengangguk dan mencoba tersenyum.


Chen lekas memasangkan cincin pada Agatha di jari manis tangan sebelah kiri.


"Selamat sayang." Ucap Felicia seraya membawa tubuh calon menantunya dalam pelukan.


Kedua keluarga nampak bahagia melihat momen di mana Agatha akhirnya menjemput bahagia.


Sepasang mata hazel menatap dari jauh bagaimana prosesi lamaran sederhana yang sedang berlangsung di restoran.


Hatinya mendadak terasa ngilu. Dadanya bergemuruh, rahangnya mengeras ada perasaan marah dalam dirinya melihat wanita idamannya akan bersanding di pelaminan bersama pria lain.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya dengan meninnggalkan jejak dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian



Jangan lupa Mampir ke Novel ke Duaku yang berjudul Pelangi Di Atas Senja

__ADS_1


__ADS_2