
Mobil yang menjemput sean dari bandara kini membawanya ke rumah milik putranya. setelah keadaannya membaik ia memutuskan pergi ke semarang. kemarin ia sempat terbaring di Rumah Sakit, niken istrinya sebenarnya melarangnya untuk berpergian jauh dulu mengingat sang suami baru pulih dari sakitnya, namun semua masalah yang menimpanya harus cepat selesai mengingat nama baik keluarga sedang di pertaruhkan. menerima beberapa foto dari mantan menantunya yang mengatakan jika putranya kini sedang berhubungan dengan seorang janda menjadikan amarahnya kembali memuncak.
Saat mobil berhenti tepat di depan rumah, aksa dengan segera membukakan pintu mobil. jangan di tanya wajah aksa saat ini seperti apa, ia sedang was-was tuan besar pasti akan menanyakan keberadaan atasannya di mana dan ia belum mempunyai jawaban. ia sendiri baru tahu jika tuan besar datang berkunjung ke kota ini hari ini. tak seperti biasanya berkunjung tak memberi kabar padanya.
"Selamat siang tuan." sapa aksa menunduk hormat.
"Siang, apa putraku ada di rumah sekarang?" tanya sean menghentikan langkah menoleh ke arah aksa.
"Tuan muda sedang pergi tuan." balasnya dengan perasaan yang di buat setenang mungkin padahal hatinya sedang gugup.
"Dengan seorang Janda?" tanya sean yang membuat aksa terkejut mendengar ucapan tuannya. bagaimana mungkin tuan besar menduga tuan muda mempunyai hubungan dengan seorang janda.
"Maafkan saya tuan, saya kurang tau ke mana perginya dan dengan siapa tuan muda pergi." aksa memilih berbohong agar dirinya aman dari amukan tuan muda nantinya.
PROK
PROK
PROK
"Kau sungguh asisten yang setia aksa, aku cukup kecewa padamu." ujarnya bertepuk tangan merasa tak puas dengan jawaban yang di berikan aksa.
"Maafkan saya tuan." aksa merasa bersalah namun dirinya tak mau ambil resiko setelahnya.
Sean melangkah masuk ke dalam rumah. sedangkan aksa merogoh saku jasnya dan mencoba menghubungi juli. mengabarkan jika tuan besar sedang berkunjung ke rumah. namun tak satupun panggilan teleponnya di angkat oleh juli. setelahnya ia mengirimkan pesan agar tuannya segera pulang.
Juli yang sedang asyik bermain air di kolam anak dengan putrinya tak mengetahui ada panggilan telepon dari aksa. ponselnya ia masukan ke dalam tas.
"Daddy aku mau main plosotan." ujarnya kaki mungilnya melangkah menuju prosotan. juli mengangguk membolehkan putrinya bermain sesuka hatinya. sedangkan agatha malah berdiri di tepian tak ikut terjun ke dalam air. ia mengambil beberapa gambar putrinya dan juli untuk di abadikan.
__ADS_1
"Mommy nda ikut belenang? ailnya segel loh." dengan cepat agatha menggeleng.
"Maura sama daddy berenangnya, mommy tunggu di sini."
ia sendiri malas untuk berenang padahal dulu berenang adalah rutinitasnya di hari minggu.
"Daddy ayo ke sana." Maura menunjuk kolam yang ada air mancur.
"Ayo." tangan juli menuntun tangan maura menuju tempat yang di inginkan putrinya.
Jarum jam di pergelangan tangan agatha sudah menunjukan pukul 12.00, ia segera memanggil juli dan maura untuk membersihkan diri dan makan siang.
"Maura bersih-bersih dulu sayang, habis itu makan siang." agatha mengintrupsi.
Maura dan juli lekas keluar dari kolam menuntun tangan maura menuju di mana agatha berada. juli pergi membersihkan diri sedangkan maura di urus oleh agatha.
**
Sesampainya juli di depan rumah ia keluar dari mobil masuk ke dalam rumah dengan santai. juli menghentikan langkahnya saat dirinya mendapati ayahnya tengah duduk di ruang tamu. raut wajah ayahnya terlihat tak bersahabat dan sudah bisa di tebak jika ayahnya sedang marah dengannya.
"Ayah." gumamnya pelan saat melihat ayahnya. sean bangkit dari duduknya melangkah menghampiri juli.
PLAK
"Memalukan!" sentakan dan satu tamparan ia layangkan untuk putranya. juli terkejut mendengar suara tinggi ayahnya.
Tatapan ayahnya begitu tajam. ada sorotan kekecewaan terlihat di bola matanya. juli masih bergeming tak menanggapi ucapan ayahnya.
"Kau menceraikan istrimu demi seorang janda?"
__ADS_1
"Aku tidak mengerti apa maksud ayah, siapa yang ayah katakan janda?" juli akhirnya buka suara.
"Kau lihat ini!" sean merogoh ponselnya dan menampilakn foto seorang wanita tengah berjalan bersama dengan juli. seketika mata juli membulat sempura.
"Jadi ayah salah paham ia mengira jika dirinya memiliki hubungan dengan seorang janda. dan dari mana ayah mendapatkan foto itu. apa ayah selama ini menguntitnya." juli terus saja bermonolog sendiri.
"Diam berarti tandanya benar alasan menceraikan desi karena kau memiliki hubungan dengan seorang janda?" tak hentinya sean mencecar dengan pertanyaan yang sama pada putranya.
"Desi wanita pilihan ibumu jul, ayah hanya menjalankan amanah. dan kau..." tatapan mata itu berubah menjadi sendu.
"Maafkan aku ayah." ucapnya lirih ia menundukan kepala, ada rasa bersalah dalam hatinya. namun ia harus mempertanggung jawabkan segala yang sudah ia perbuat beberapa tahun yang lalu.
"Ayah tak butuh maaf darimu, kau sungguh membuat ayah kecewa." ujarnya melangkah hendak meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
"Dia bukan janda, dan anak perempuan yang ada di gambar itu putriku putri kandungku." ucapnya dengan lancar. sudah saatnya ia berkata jujur pada ayahnya. sean menghentikan langkahnya menoleh saat juli selesai berucap.
"Agatha putri sambung ayah dia ibu dari putriku."
Bersambung. . .
Tetap biasakan setelah membaca meninggalkan jejak dengan memberikan
Like
Coment
Vote dan
Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya ❤
__ADS_1
Terima kasih kepada readers yang masih setia mantengin ceritaku yang masih amburadul dan mampir ke lapakku.