
"Maura kemari sayang." Oppa Samuel menepuk pahanya agar Maura mendekat. Begitu ia mendapat kabar dari anak tertuanya yang mengatakan jika cucunya sudah di temukan dirinya lekas meninggalkan pekerjaannya kembali ke Jakarta.
Maura langsung mendekat dan duduk di pangkuan Oppa Samuel.
"Oppa punya banyak coklat." Oppa Samuel menujuk beberapa kotak coklat bermacam bentuk di atas meja.
"Papi mau membuat cucumu sakit gigi dengan menyuruhnya makan coklat sebanyak itu?" Tanya Agatha yang duduk di seberang sofa yang di duduki Papi Samuel.
"Papi hanya membelikan apa yang Maura suka." Ucapnya membela diri.
"Tapi itu berlebihan Pi." Ucapnya geregetan seraya menujuk banyaknya kotak coklat.
"Ini semua untuk Lula?" Tanya Maura pada sang Oppa yang kini matanya sudah terlihat berbinar.
"Iya sayang." Papi Samuel mengangguk.
"Lula mau coba buka yang ini." Maura lekas turun dari pangkuan Oppanya lalu membuka satu kotak coklat dan menguyahnya.
"Enak Oppa." celotehnya di sela-sela ia mengunyah coklat.
Maura berlanjut ke kotak yang satunya, "Sudah cukup simpan lagi nanti terlalu banyak makan coklat bisa sakit gigi sayang." Agatha menumpuk beberapa kotak dan membawanya ke belakang untuk di simpan kembali.
"Oppa coklat Lula." Cicitnya seraya menunjuk coklat yang di bawa pergi Agatha. Kedua mata Maura sudah mulai memerah seperti hendak menangis.
"Besok kan bisa makan lagi sayang." Ucap Jason mencoba menenangkan keponakannya.
"Ingat terlalu banyak makan yang manis akan membuat gigi Maura sakit." Imbuh Jason.
"Kan Lula kalau mau bobo lajin gosok gigi Uncel jadi ngga mungkin sakit."
"Sekarang cukup makan coklatnya, lanjut besok lagi." Ucap Papi Samuel.
"Besok boleh makan lagi Oppa?" Tanya Maura.
"Iya boleh."
__ADS_1
"Yeeeeyyyyy." Maura berjingkrak dan melompat kegirangan lalu menari-nari.
"Sudah malam, Ayo tidur." Ajak Jason menuntun tangan Maura.
"Maura saja baru bangun tadi jam 16.00, ya kemungkinan Maura akan tidur agak malam." Terang Agatha. Jason melirik jam yang melingkar di tangannya yang bru menunjuk di angka 18.56.
"Oh ya? jadi Maura mau apa sekarang?" Tanya Jason lagi yang sudah membawa tubuh Maura ke dalam gendongannya.
"Nonton film saja uncle." Usul Maura.
"Baiklah ayo kita menonton." Jason mendudukan Maura di depan Televisi.
Mereka menonton Televisi bersama dan sesekali terdengar suara tertawa dari keduanya.
**
"Jul, kau sudah kembali?" Tanya Ayah Sean.
"Baru saja sampai." Balas Juli yang sama sekali tak menghentikan langkahnya. Ia terus saja berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Sedang di rumah Om Sam." Balas Juli dari balik pintu.
"Jul buka pintunya Ayah ingin bicara." Pintanya seraya mengetuk daun pintu dengan cukup keras agar sang pemilik lekas keluar.
"Apa si Yah? Aku mau istirahat cape." Tanya Juli dengan nada tak senang.
"Kenapa tak memberi kabar pada Ayah jika Muara sudah di temukan?" Cecar Ayah Sean.
"Aku tak kepikiran sampai sana Yah."
"Yang paling penting aku mengabari ibunya dulu." Imbuh Juli.
"Apa Ayah bukan orang penting?" Tanya Ayah Sean yang merasa putranya sudah tidak adil membandingkan dengan Agatha putri sambungnya.
"Tapi lebih penting Ibunya Yah." Juli kembali masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Ayahnya yang masih belum selesai bicara.
__ADS_1
Biar sajalah tubuh Juli sudah sangat lelah dan sedang membutuhkan ranjang dan kasur yang nyaman untuk melepas rasa lelah. Dari pada ia harus mendengarkan ocehan Ayahnya lebih baik ia tidur. Sebelumnya ia tidur Juli masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihakn diri lalu mengganti bajunya dengan pakaian yang bersih.
"Astaga dasar anak kurang ajar orang tua belum selesai bicara main masuk kamar. Tidak sopan!" Ayah Sean mendengus kesal pada putra semata wayangnya.
Ayah Sean harus cepat pergi tak ingin berlama-lama di depan kamar putranya bisa darah tinggi nanti jika ia masih saja berdiri dan marah-marah sendiri.
"Kenapa wajahmu mendung sekali Mas?" Tanya Niken yang sedang masak di dapur.
"Kesal dengan Juli." Balasnya ketus.
"Juli sudah pulang?" Tanya Niken menoleh pada suaminya lalu mematikan kompor berjalan menghampiri suaminya.
"Sudah, baru saja."
"Apa Maura dan Agatha juga ikut pulang kemari?" Tanya Niken lagi. Ia sudah dengar dari suaminya kemarin jika Maura sudah di temukan.
"Maura di rumah mantan suamimu." Balasnya lagi lalu bangkit meninggalkan istrinya.
"Ya Tuhan terima kasih Akhirnya Maura ditemukan." Niken mengucap syukur. Akhirnya Tuhan mengabulkan doanya.
Niat hati siang nanti Mami Niken akan berkunjung ke sana untuk menemui cucunya Maura.
Bersambung. . .
Mohon dukungannya dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Jangan lupa Masukan ceritaku dalam cerita favorit kalian ya❤
Jangan lupa mampir juga ke Novel keduaku yang berjudul Senja Di Atas Senja
__ADS_1