One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 67


__ADS_3

Dinginnya cuaca pagi ini membuat siapa saja betah bersembunyi di balik selimut. Agatha dan Maura masih saja meringkuk bersama. Suara ayam berkokok memaksa dirinya bangun dari alam mimpi. Agatha membuka kedua matanya sayup-sayup, ia meregangkan seluruh tubuhnya yang kaku. Tangannya meraih ikat rambut yang ada di atas nakas dan memakainya.


Masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru.


Perutnya terasa perih mungkin karena belum di isi sejak kemarin. Banyak pikiran dan kelelahan membuatnya tak merasa lapar. Ia segera melangkah menuju dapur untuk mengisi perutnya.


"Kau sudah bangun? Di mana Maura?" Tanya Bu Dewi.


"Iya Bu, Baru saja. Maura masih tidur mungkin kelelahan dalam perjalanan kemarin." Balasnya mengeluarakan mi instan dari lemari.


"Makanan sudah siap akan lebih baik jika perutmu di isi dengan nasi lebih dulu." Ujarnya mengingatkan.


Agatha memasukan kembali mi insatn ke dalam lemari. Ia berjalan mengambil piring di rak dan menikmati sarapan buatan Ibu panti.


"Bu apa aku masih boleh tinggal di sini lagi?" Tanya Agatha merasa sungkan.


"Tentu saja boleh, kami senang kalian tinggal di sini lagi. Apa mereka tak menerimamu?" Tanya Bu Calista yang baru saja muncul entah dari mana dengan sekantong kresek berisi belanjaan di tangannya.


"Tidak seharusnya aku kembali bersama mereka."


Agatha menceritakan segala hal yang membuat dirinya memutuskan kembali pergi meninggalkan keluarganya lagi.


"Jangan bersedih kami selalu ada untukmu." Bu Dewi dan Bu Calista mendekat memeluk Agatha. Mereka tak ingin Agatha berlarut larut dalam kesedihan mereka mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh iya tha umur Maura sudah cukup untuk masuk sekolah kan? pendaftaran peserta didik baru di sekolah TK PIUS sudah mulai di buka. Kapan kau akan mendaftarkan Maura ke sana?" Tanya Bu Dewi antusias.


"Rencananya hari ini aku akan ke sana untuk mendaftarkan Maura sekolah Bu." Balas Agatha seraya menuangkan air ke dalam gelas.


Ibu dewi menganggukan kepala mengerti.


Agatha melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Maura yang tadinya enggan untuk mandi langsung menjadi anak yang patuh saat mendengar ucapan Agatha yang akan mendaftarkannya sekolah. wajahnya terlihat sangat senang.


"Belalti besok Lula belangkat sekolah naik sepeda Mom?" Tanya Maura saat di perjalanan menuju Sekolah TK.


"No sayang, Besok Mom yang antar sekolah. Pulangnya di jemput Ibu panti."


Terlihat di kaca spion wajah Maura Merajuk. Agatha menghembuskan nafas kasar.


Sampailah keduanya di bangunan yang akan menjadi tempat menuntut ilmu putrinya. Letak Sekolah Maura cukup dekat dengan Rumah Panti jadi tak membutuhkan banyak waktu untuk bisa sampai.


Mereka melangkah menuju ruang kepala sekolah untuk mendaftar. Terlihat beberapa wali murid yang sama dengannya untuk mendaftarkan putra putri mereka di sini.


Seorang wanita bersama gadis kecil tampak menghampiri mereka, "Hallo selamat siang. Saya Elina, ini Franaiska anak saya." Terangnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan.


"Saya Agatha Ibunya Maura." Agatha menyambut uluran tangan Elina. "Sayang ayo salim dengan Tante Elina." Titah Agatha.

__ADS_1


"Cantiknya Maura." Ucapnya seraya mengusap rambut milik Maura.


"Anak ke berapa?"


"Pertama. Kalau Anak Mbak sendiri?" Tanya Agatha balik.


"Anak Ke 2."


Mereka mengobrol bersama sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam ruangan untuk mendaftar sekolah.


"Maura Natalia Hansen, Umur 5 tahun. Ini saya terima biaya pengambilan seragam ya Bu." Ibu Chelsie membaca data diri Maura.


"Iya Bu." Agatha mengangguk tersenyum.


"Ukuran seragamnya mau L, M, S atau Xl?"


"Ukurannya M Bu."


Bu Chelsie menyodorkan 3 setel pakaian pada Agatha.


"Selamat datang di Sekolah TK PIUS, Senin besok Maura sudah mulai berangkat ya Bu, Jam sekolah di mulai pukul 7.30 dan pulang pukul 10.00.


"Iya Bu terima kasih, Saya permisi."


setelahnya Agatha meninggalkan sekolah.


Juli baru bangun dari tidurnya saat matahari mulai meninggi di langit sana. Hari ini ia sengaja meliburkan diri dari kesibukannya di Kantor, terlebih setelah menangani proyek di Surabaya yang menyita banyak waktu serta fokus pikirannya, membuat ia sejenak mengistirahatkan Tubuh juga segala isi dalam kepalanya.


Ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas. mengaktifkan ponselnya yang sengaja ia matikan agar tak ada yang mengganggu istirahatnya. terlihat banyaknya panggilan telepon dari Ayahnya dan Jason, Juli membuka Pesan whatsapp yang masuk.


[Mami masuk Rumah Sakit, keadaannya kritis.] pesan dari Ayahnya.


Juli segera bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ia melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Griya Medika di Pusat Kota. Jalanan yang cukup lenggang membuat dirinya cepat sampai di sana. memarkirkan mobilnya dan keluar menuju ruangan di mana Mami Niken berada.


Terlihat di sana keluarganya dan kedua Orang yang tak Juli kenali namun sepertinya ia pernah melihat mereka sebelumnya sedang berdiri di antara keluarganya. Juli lekas menghampiri Ayahnya yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Yah." Panggil Juli.


"Jul kau sudah datang?" Sean bangkit dari duduknya.


"Bagaimana keadaan Mami?" Tanya Juli. keduanya berpelukan.


"Kritis." Ucapnya dengan wajah sendu.

__ADS_1


Netranya tak melihat keberadaan Agatha di antara keluarganya yang hadir. Dalam hatinya bertanya di mana Agatha dan Maura kenapa tak kelihatan.


Juli mendekat ke arah di mana Jonathan berdiri.


"Kak Jo Bagaimana Kabarmu? kapan kembali?" Tanya Juli basa basi.


"Baik, kemarin." Balasnya datar.


"Kak Aku tidak melihat Agatha dan Maura, ke mana mereka?"


"Untuk apa menanyakan adikku?" Balasnya ketus.


"Ada apa dengan kak Jo kenapa sikapnya jadi dingin begini padaku." gumamnya dalam hati.


Merasa ada yang aneh dengan sikap kakak sambungnya akhirnya Juli tak melanjutkan pertanyaannya takut nanti dirinya mendapat jawaban yang tak enak di dengar.


Juli mengamati Jason yang sedang mengobrol dengan Ayahnya cukup serius dari jarak yang tak terlalu dekat dan tak terlalu jauh.


"Yah Aku dan Chen pamit pergi." Jason pamit.


"Ayah harap kau bisa membawa pulang Ale."


"Aku usahakan Yah."


Juli mendengar samar percakapan mereka. Ada nama Agatha di akhir kalimat yang mereka sebut. entah mereka sedang membahas apa Juli masih belum mengetahuinya.


"Jul, Titip Mami. jika ada apa-apa segera hubungi aku." Pesan Jason.


"Kak Jas mau ke mana?" Tanya Juli penasaran.


"Ada urusan sedikit."


"Ooh begitu rupanya, Semoga semua cepat selesai." Jason mengangguk.


Bersambung. . .


Mohon dukungan semuanya, jangan lupa meninggalkan jejak dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Masukan Ceritaku ke dalam Cerita Favorit kalian ya ❤

__ADS_1


Saya ucapkan kepada kalian yang sudah menyempatkan waktunya untuk mampir ke lapakku dan setia menunggu ceritaku.


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan dan tetap semangat puasanya serta tingkatkan pahala kalian dengan melakukan hal yang positif dan bermanfaat.


__ADS_2