One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 17


__ADS_3

Sean dan niken istrinya kini sedang dalam perjalanan menuju rumah davit yang baru. juli menolak berangkat bersama dengan ayahnya, ia masih ingin bersantai di dalam kamarnya. ponsel yang sedari tadi berdering ia abaikan ia pikir pasti itu dari ayahnya yang menyuruhnya untuk segera menyusul. beberapa menit kemudian ia sudah bersiap untuk pergi menyusul kedua orang tuanya yang sudah berada di rumah om davit. juli melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. bibirnya tak berhenti bernyanyi mengikuti musik yang sedang ia putar, lagu denny caknan yang berjudul widodari menemani perjalannya menuju tempat tujuan.


sayang gondelono atiku,


yen takdire gandeng yo bakale gandeng,


Tuhan, terima kasih, hadirkan penjaga hatiku yang s'lalu setia menemaniku,


sepenggal lagu widodari milik denny caknan.


ponselnya berdering kembali ia masih saja tak menghiraukanya ia masih fokus pada lagu dan jalanan. weekend membuat jalanan senggang menjadi lebih padat dari biasanya. dengan sabar ia melajukan mobilnya dengan perlahan mengikuti kendaraan yang ada di hadapannya.


"Berisik." ia masih terus mengomel karena ponsel yang terus menerus berbunyi.


30 menit kemudian ia sudah sampai di kediaman om davit.


tin tin tin tin


di pintu gerbang terlihat scurity yang sedang berjaga membuka pintu gerbang. juli melajukan mobilnya hingga tempat parkir. ia turun dari mobilnya menuju pintu utama.


tet tet tet tet


baru saja ia memencet bel seketika pintupun terbuka lebar. wanita parubaya membukakan pintu dengan senyum mengembang. wajah wanita parubaya itu seperti tidak asing di matanya.


"Juli, kau juli kan putra sean dan elia." sapa tante sintia sambil memegang kedua bahu juli menatap tubuh juli dari atas sampai bawah.


"Kau sudah besar rupanya sekarang, ayo masuk, orang tuamu sudah menunggu di dalam."ajak tante sintia menggandeng juli hingga ke ruang tengah. terlihat di sana sudah ada ayahnya, mami niken, dan pria parubaya seumuran dengan ayahnya sepertinya itu om davit. karena sudah lama tak berjumpa ia sedikit lupa wajah sahabat ayahnya.


mereka terlihat asyik mengobrol masalah pekerjaan dan cerita di masa SMA hingga kuliah. mami niken terlihat sudah mulai akrab juga dengan om davit dan tante sintia.


"om, tante." sapa gadis cantik berambut pendek sebahu yang sedang menuruni anak tangga. terlihat anggun dengan gaun berwarna biru langit.


"hallo cantik." sapa mami niken tersenyum ramah. tangan desi terulur mencium punggung tangan ayah sean dan mami niken bergantian.

__ADS_1


desi menatap wajah juli yang memasang wajah dingin. desi masih ingat betul wajah juli seperti apa waktu mereka masih kecil. desi menatap juli tanpa berkedip semakin dewasa semakin terlihat tampan saja.


"Jul, apa kabar?" tanya desi melempar senyuman pada juli.


"Kabarku baik." jawab juli datar.


"Kau masih ingat denganku?" tanya desi lagi dengan perasaan gugup.


"Ya tentu." juli masih saja bersikap cuek pada desi. ya desi hanya menghela nafas mengahdapi sikap juli padanya. desi pikir karena lamanya mereka berpisah juli merasa canggung sekarang.


"ayo makan dulu sean, niken juli, kami sudah menyiapkan makan siang untuk kalian." ajak sintia pada keluarga sean.


mami niken dan ayah sean bangkit mengikuti davit dan sintia menuju meja makan. juli enggan untuk beranjak pergi ke meja makan.


"Jul ayo kita makan." ajak desi masih memasang senyum manis walau juli terlihat cuek dari awal pertemuan mereka.


"Aku tidak lapar. kalian saja yang makan." tolak juli.


"Jul kenapa masih di sini ayo kita makan." ajak ayah sean yang membuat juli tak bisa menolak permintaannya. ia langsung bangkit dari tempat duduknya mengikuti ayahnya ke meja makan. dengan malas ia mengikuti jamuan makan siang bersama.


"apa tadi dia mengatakan calon menantu memang siapa calon menantunya?" gumamnya dalam hati. terasa seperti gelitikan aneh di telinganya.


desi yang mendengar mamahnya mengatakan hal itu menunduk menahan malu.


"Jangan membuat anakku gugup sin." jawab ayah sean terkekeh.


"uhuk uhuk." juli tersedak mendengar ayahnya bicara.


"apa yang ayah katakan barusan jangan membuatku gugup apa maksud semua ini?"


desi dengan cepat meraih minuman di hadapananya lalu menyodorkannya pada juli.


"Pelan-pelan jul." ucap desi.

__ADS_1


juli langsung mengakhiri makannya walau makanan dalam piringnya masih tersisa banyak. ia sudah malas melanjutkan makannya bahkan kali ini ia benar-benar ingin minggat meninggalkan tempat ini.


*********


Agatha masih berkutat di depan ponselnya masih berusaha menghubungi juli lewat pesan dan menelponnya berulang kali. namun juli belum juga merespon dirinya. dengan kesal ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang.


"Apa mungkin ia sedang tidur siang atau pergi keluar kota mengurus pekerjaannya." gumam agatha dalam hatinya. ia terus saja berperang dengan pikirannya. apa sebaiknya ia datangi saja rumah ayahnya mungkin saja juli saat ini sedang ada di sana. tapi ia sendiri sebenarnya belum siap untuk berkata jujur pada ayah sean dan maminya. ia sendiri ingin mengatakan dulu pada juli baru nantinya berkata jujur pada seluruh keluarganya.


setelah berkirim pesan dengan bang kemal meminta pendapat kini agatha sudah berada di depan rumah ayah sean ia memutuskan untuk meghadapi semua masalahnya dan ingin segera merampukan semuanya secepatnya. terlihat ada 3 mobil di sana mobil ayah sean, mobil maminya dan mobil juli yang terparkir rapi di parkiran. ia segera melepas sabuk pengaman dan turun dari mobilnya berjalan menuju pintu masuk. jantungnya kini berpacu lebih cepat rasanya ia ingin lari sekarang. baru sampai di depan pintu agatha yang ingin memencet bel mengurungkan niatnya. ia mendengar jelas perdebatan ayah sean dan juli yang terdengar keras hingga ke luar.


"Jul dengarkan penjelasan ayah dulu, semua ini permintaan ibumu sebelum meninggal ia ingin menjodohkanmu dengan desi." ucap ayah sean menjelaskan.


"Ayah bahkan tak bertanya dulu padaku apa aku mau atau tidak menerima perjodohan ini."


"Awalnya ayah memang ingin bertanya padamu jul, namun ayah pikir kau pasti tak keberatan menikah dengan desi."


"Aku sudah punya kekasih." tolak juli masih enggan menerima perjodohan konyol ini.


"Mau tidak mau kau harus mau! ini permintaan ibumu jul." sentak ayah sean mulai tersulut emosi. karena sudah membuatnya malu di hadapan davit dan sintia.


"Kalau begitu aku akan membuat kekasihku hamil jadi dengan begitu aku bisa membatalkan perjodohan ini." ucap juli dengan senyuman menyeringai.


"Lakukan jul, jika kekasihmu hamil berikan tanggung jawab pada anaknya tapi jangan menikahinya aku tak akan pernah memberikan restu untuk kalian. dan kau, tetap akan menikahi desi."


"Sudah mas tahan emosimu jangan seperti ini, nanti mas bisa darah tinggi." ucap mami niken menenangkan dan mengingatkan suaminya yang sudah di puncak kemarahannya.


agatha menutup mulutnya dengan tangannya. ia berjalan mundur hampir tak percaya ayah tirinya ternyata begitu jahat. tubuhnya bergetar hebat mendengar pertengkaran ayah sean dan juli. sudah tak ada lagi harapan meminta pertanggung jawaban pada juli. langkah kakinya tak mampu melangkah masuk ke dalam. ia membalikan badan kembali masuk ke dalam mobilnya pergi meinggalkan kediaman ayah tirinya.


bersambung. . .


biasakan setelah membaca dengan meninggalkan jejak dengan memberikan


Like

__ADS_1


Comen


Vote


__ADS_2