
Agatha membuka kedua matanya dengan perlahan. ia menatap langit-langit di kamar yang berwarna putih. ia memegangi keningnya yang masih terasa sedikit pusing. melihat ke sekelilingnya terasa asing baginya. ia bertanya tanya dalam hatinya di mana ia sekarang? bukankah tadi ia sedang ada di jalan lalu kenapa sekarang ia bisa berada ada di sini. ia baru ingat saat sedang berjalan agatha merasa kepalanya yang amat terasa berat lalu semua pandangannya terasa buram dan brug ia jatuh tergeletak. lalu siapa yang sudah menolong dan membawanya kemari ia tak tau.
"Kau sudah sadar?" tanya seorang pria yang baru saja membuka pintu dengan memegang kantong kresek di tangannya. wajahnya tak asing seperti sudah pernah bertemu sebelumnya.
"Hey kau mau apa?" tegur dokter angga setengah berteriak lalu melangkah mendekat ke brankar lalu menahan agatha yang hendak turun dari brankar.
"Apa yang sudah terjadi padaku tuan?" tanya agatha kembali terduduk di atas brankar.
"Aku melihatmu yang tergeletak pingsan di pinggir jalan saat aku hendak pulang lalu aku membawamu ke Rumah Sakit." jelas dokter angga duduk di kursi sebelah brankar.
"Di mana rumahmu biar ku antar pulang?"
"A..aku tak punya tempat tinggal. aku baru saja di usir dari kontrakan." balas agatha menunduk menutupi kesedihannya.
"Apa kau tak punya saudara di kota ini?" tanya dokter angga lagi.
agatha hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Suamimu?"
"Aku belum bersuami." jawab agatha jujur.
"Tapi kau hamil." ujar dokter angga menatap perut agatha yang sudah mulai terlihat membuncit, dan dokter angga paham betul jika agatha adalah salah satu pasiennya di Rumah Sakit.
"Aku di hamili mantan kekasihku." jawab agatha lirih namun masih di dengar jelas oleh dokter angga.
"Dan dia tak bertanggung jawab?" dokter angga mencoba menebak.
Agatha hanya terdiam mendengar pertanyaan dokter angga yang terakhir tenggoroknnya sangat enggan untuk mengeluarkan suara untuk menjelaskan.
"Jika kau tak punya tempat tinggal kau bisa tinggal di rumahku bersama ibu, istri dan anakku." tawar dokter angga seraya memberikan bungkusan makanan pada agatha.
__ADS_1
"Aku tidak lapar dokter." agatha dengan cepat mendorong bungkusan makanan. agatha sudah ingat siapa orang yang sudah menolongnya barusan ia adalah dokter kandungan yang tadi pagi memeriksanya.
"Jika kau tak ingin makan sabaiknya kau pikirkan untuk anakmu. makanlah walau hanya 2 sendok." ujar dokter angga mengingatkan.
Agatha lalu meraih bungkusan dari dokter angga dan membukanya. walau sebenarnya ia sendiri merasa tak berselera namun ia tetap menyuapkan makanan sedikit demi sedikit ke mulutnya. benar kata dokter angga ia harus lebih mengutamakan anaknya daripada dirinya.
"Jika kau sudah selesai makan, beristirahatlah agar kondisimu lekas pulih." tangan dokter angga terulur mengusap puncak rambut agatha lembut lalu bangkit dari duduknya.
"Terima kasih sudah menolongku dok." ucap agatha seraya tersenyum ke arah dokter angga.
"Sama-sama." balas dokter angga menoleh lalu menarik gagang pintu keluar dari ruang rawat pasien.
Agatha mengucap syukur ia masih di pertemukan dengan orang baik seperti dokter angga. ia hanya bisa berdoa semoga kebaikan dokter angga di balas oleh Tuhan.
Agatha mengikuti kata dokter angga memejamkan matanya kembali mengistirahatkan tubuhnya agar kondisi tubuhnya lekas membaik di esok hari.
**
Setelah di nyatakan sembuh oleh dokter agatha sudah di perbolehkan pulang pagi ini. dokter angga mengajak agatha pulang bersama dan tinggal bersama. padahal agatha sudah menolak bantuannya namun dokter angga masih menjadikan kehamilan agatha yang sudah besar sebagai alasan untuk tetap meminta agatha tinggal di rumahnya.
"Iya."
"Apa tidak sebaiknya aku cari kontrakan saja dok." ucap agatha dengan perasaan ragu.
"Dengan kondisimu yang sedang hamil sebaiknya kau tinggal dengan orang banyak, jika nanti kau perlu sesuatu ada yang akan membantumu. dan yang pasti kau tak akan kesepian jika kau tinggal di sini." ujar dokter angga seraya melepas sabuk pengamannya.
"Ayo turun, apa kau masih ingin tetap di dalam mobil agatha?"ajak dokter angga yang sudah turun dari mobilnya.
"Eh iya dok." Agatha segera turun dan mengambil tas yang berada di bagasi belakang.
"Kemarikan tasmu biar ART yang membawanya." ujar dokter angga mengambil alih tas yang sedang di pegang agatha.
__ADS_1
"Eh dok tidak apa biar saya membawanya sendiri." tolak agatha.
"Eli kemari." panggil dokter angga pada salah satu ART yang sedang menyiram tanaman.
"Iya tuan." jawab eli menghampiri majikannya.
"Tolong kamu siapkan kamar untuk tamu saya dan tolong kamu bawakan juga tasnya." ujar dokter angga seraya memberikan tas pada eli.
"Baik tuan." jawab ART langsung melaksanakan perintah. sedangkan agatha berjalan mengikuti dokter angga masuk ke dalam rumah.
"Ayah yey ayah pulang." agatha menghentikan langkahnya saat suara seorang anak di rumah besar milik dokter angga terdengar. terlihat anak laki-laki dokter angga berlari menghambur ke tubuh ayahnya, dokter angga langsung menangkap dan menggendongnya. sedangkan anak perempuan yang terlihat sudah lebih besar sedang menonton televisi dengan tenang.
"Belum tidur siang?" tanya dokter angga mencium gemas pada putranya.
"Belum ngantuk yah, tapi bunda tadi suluh aku buat tidur." adunya dengan suara cadelnya. kedua mata agatha mendadak berkaca-kaca melihat adegan ayah dan anak yang begitu dekat. ia mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Maafin mommy sayang yang sudah memisahkanmu dari dadymu." gumamnya dalam hati.
"Kau sudah pulang mas?" tanya seorang wanita cantik pada suaminya yang sedang menuruni anak tangga. agatha menduga pasti itu istri dokter angga.
Kedua mata istri dokter angga menatap penuh tanya pada wanita yang sedang berada di belakang suaminya. sedangkan agatha yang di tatap menarik kedua sudut bibirnya tersenyum.
Bersambung. . .
Biasakan setelah membaca meninggalkan jejak dengan memberikan
Like
Comen
Vote
__ADS_1