
Ayah kembali ke mobilnya untuk mengambil ponselnya yang tadi tertinggal di dalam mobil. Saat ia akan kembali ke ruang rawat putrinya ia mendengar suara putranya, ia menghentikan langkahnya menatap punggung seorang lelaki berdiri lalu memanggilnya. Ternyata benar dugaannya bahwa lelaki itu putranya. Ayah dan anak berjalan beriringan menuju ke ruang rawat inap Agatha.
"Tidak usah cemas Jul, istrimu hanya kelelahan."
"Atha memang sudah merasakan tidak enak badan sejak kemarin, Dan aku juga tidak mengijinkannya berangkat ke Butik hari ini."
"Ayah sarankan nanti kau jangan memarahinya." Sean memberi peringatan.
"Iya yah."
lift yang membawa keduanya sampai di lantai 5. Pintu lift terbuka dan keluar dari lift menuju bangsal.
Ceklek
"Jul kau baru sampai?" Tanya Mami Niken yang kini sedang duduk di samping brankar menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Iya Mi, Aku langsung ke sini saat membaca pesan dari Ayah. Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Juli.
"Tadi sudah siuman, tapi tidur lagi, kau datang hanya seorang diri?"
"Dengan Aksa, nanti dia menyusul Mi.
Juli berdiri di sampaing istrinya mengamati wajah istrinya yang pucat.
"Apa kata dokter?" Cecar Juli, ia masih cemas dengan sakit yang menimpa istrinya.
"Hanya kelelahan butuh bed rest."
"Dia sudah tidak patuh Mi, tadi pagi aku tidak mengijinkannya pergi ke butik tapi tetap saja pergi."
"Sstttt Jul jangan keras-keras istrimu sedang istirahat." Mami Niken meletakan jarinya di bibirnya agar Juli merendahkan nada bicaranya.
"Apa kau lupa apa yang Ayah katakan saat di luar tadi?"
"Iya ingat yah, aku hanya sedikit kesal dengannya." Juli masih saja menggerutu.
"Jangan membuat Ibu hamil stres, kalau marah-marah terus lebih baik tunggu di luar saja." Ucap Mami Niken yang membuat Juli menoleh menatap pada Mami Niken.
"Apa Mi Atha hamil?" Tanya Juli memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Iya."
"Akhirnya kau hadir juga sayang, sampai bertemu di dunia jagoanku." Juli mengelus perut Agatha yang masih rata lalu mengecupnya.
"Memangnya anakmu laki-laki di panggil jagoan?" Tanya Ayah Sean mengangkat sebelah alisnya.
"Semoga saja laki-laki." Juli tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Dua anakmu saja perempuan semua. Kemungkinan yang ke tiga juga perempuan." Ucap Ayah Sean kembali menatap layar ponselnya.
"Tidak masalah, yang penting ibu dan calon bayi sehat semua Yah." Juli duduk di kursi samping brankar.
Mami Niken dan Ayah Sean duduk di sofa memperhatikan Juli yang masih setia duduk di samping Agatha seraya menggenggam tangan istrinya. Tangannya terus terulur mengusap lengan Agatha.
**
"Kau harus makan yang banyak agar kandunganmu sehat sayang." Juli menyuapkan bubur pada istrinya saat makan malam.
"Mas pait." Ia menggeleng menolaknya.
"Aku lemes."
"Ya jelas lemes, perutmu juga kosong.Tidak ada tenaga." Juli meletakan kembali maknannya di atas nakas.
"Makan buah ya, Mas kupasin." Tawar Juli lagi.
lagi-lagi Agatha hanya menggeleng. Juli merasa bingung menghadapi keadaan istrinya yang sekarang. Jika tau begini Juli tak akan memaksa istrinya hamil lagi.
"Apa saat hamil Maura juga begini?" Tanya Juli.
"Tidak Mas, buktinya waktu itu aku bisa kabur dari rumah."
"Iya sampai membuat semua orang kewalahan mencarimu."
"Iya, lupakan semuanya sayang. semua sudah masa lalu."
"Sekarang pengin makan apa, biar Mas belikan."
"Aku mual mas, tapi aku lemes mau ke kamar mandi."
"Ayo biar Mas gendong."
Juli menggendongnya lalu menurunkan istrinya perlahan. Agatha memuntahkan seluruh makanan yang ada di dalam perutnya.
Juli membantu memijit tengkuk leher Agatha.
"Sudah?" Tanya Juli.
"Sudah Mas."
Juli kembali menggendong tubuh istrinya lalu menurunkannya lagi di atas brankar.
"Anak Daddy jangan rewel yah, kasihan Mom kalau rewel." Ucapnya seraya mengusap perut sang istri.
**
__ADS_1
Maura sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Mami Niken juga di sibukan dengan kegiatan dapurnya di bantu ARTnya.
"Oma." Sapa Maura yang terlihat sedang menuruni anak tangga di dampingi pengasuhnya. Ia menoleh menghentikan aktivitasnya di dapur.
"Cucu Oma sudah siap berangkat ke sekolah rupanya." Menatap gadis kecil yang begitu cantik rambutnya di kepang dua sehingga terlihat menggemaskan di mata Mami Niken.
"Sudah Oma, Oma masak apa?"
"Nasi goreng untuk cucu Oma yang cantik, Tunggu sebentar sayang."
"Oma kenapa Mommy lama di Rumah Sakit?" Tanya Maura seraya duduk di salah satu kursi.
"Oma tanya kalau rumah sakit itu tempat untuk orang sehat atau sakit?"
"Sakit."
"Nah berarti Mommy sedang sakit makanya masih di rumah sakit." Balas Mami Niken menjelaskan.
Maura hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Omanya.
"Sarapannya mau di suapi atau makan sendiri?"
"Sendiri saja Oma Maura kan sudah besar, kata uncle Jo kalau sudah bisa ngomong R berarti sudah besar." Jawabnya dengan percaya diri.
Mami Niken tersenyum mendengar jawaban cucunya. Padahal ia masih kecil belum dewasa tapi sikapnya seperti wanita dewasa.
"Good Girl honney, makan yang banyak supaya cepat tumbuh tinggi dan besar." Ucap Mami Niken seraya menyiapkan bekal Roti tawar yang di olesi selai coklat untuk cucunya.
"Sayang nanti jangan lupa di makan bekalnya." Mami Niken megusap kepala Maura lembut.
"Iya Oma."
Mami Niken memasukan bekalnya ke dalam tas cucunya.
"Aku juga sudah menyiapkannya untukmu." Ujarnya pada Wita pengasuh Maura.
"Terima kasih Nyonya, repot-repot." Jawabnya merasa sungkan.
"Saya tak merasa kerepotan, malah berterima kasih sudah mau menjadi pengasuh cucuku."
"Sudah tugas saya Nyonya."
"Oma Maura sudah selesai." Ucapnya seraya membawa piringnya ke dapur namun di cegah oleh pengasuhnya.
"Biar Mbak Wita saja." Ucapnya meraih piring yang sedang Maura pegang.
"Good Morning Mi." Sapa jonathan membuat langkah Wita terhenti. Namun setelahnya ia kembali melangkah menuju wastafel untuk mencuci piring bekas makannya dan anak asuhnya.
__ADS_1