
Deg
Jantungnya seakan berhenti berdetak dan nafasnya seperti kian memberat, ia sendiri seperti tak percaya dengan ucapan dari mulut putranya. tatapannya menatap lekat pada kedua manik putranya, terlihat tak ada kebohongan di sana berarti semuanya benar adanya.
"Apa kau sudah mulai gila jul?" kaki sean melangkah mendekati putranya kembali.
"Ya aku memang gila, aku gila mengetahui mami kekasihku menikah dengan ayahku."
"Jadi kau sudah lama memiliki hubungan dengan ale?" tanya sean menghentikan langkahnya tepat di depan wajah juli. yang ia tau putranya dulu seorang playboy jadi ia tak berpikir jika putranya sudah melabuhkan hatinya pada seorang wanita.
Juli hanya menganggukan kepala membenarkan ucapan ayahnya.
Sean mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangannya. sekali lagi ia masih syok mendengar pernyataan ini. ketegangan di antara keduanya semakin terlihat jelas.
"Kenapa kalian tak mengatakan semuanya sejak awal? kenapa baru sekarang kau berkata jujur pada ayah jul?" ucapnya dengan wajah penuh kekcewaan.
"Maaf yah, ale yang memintaku untuk merahasiakan semuanya."
juli bersimpuh di kaki ayahnya berharap ia mendapatkan maaf darinya. ia memeluk kaki laki-laki setengah abad itu erat. laki-laki yang belum genap berusia 52 tahun ini masih bergeming saat tangan juli menyentuh kakinya.
"Ayah maafkan aku, maafkan aku." juli terisak di bawah kaki ayahnya.
Sebenarnya ia bukanlah sosok yang tega terhadap putranya tapi ia menilai ini sudah keterlaluan. sean masih bergeming menatap lurus ke depan. masih belum tau keputusan seperti apa yang akan ia ambil.
"Aku ingin bertemu dengan ale dan anaknya, bisakah kau membawa ayah menemui mereka." bukannya ucapan memafkan yang ia dapat dari ayahnya tapi keinginan bertemu dengan agatha dan anaknya. apa itu berarti ayahnya sudah memafkan dirinya atau belum ia masih belum mengerti maksud dari ucapan ayahnya.
"Sekarang yah?" juli mendongak ke atas menatap wajah ayahnya, karena jaraknya di bawah ayahnya.
"Besok." juli mengusap air yang menggenang di sudut matanya.
__ADS_1
Keesokan harinya Sean sudah bersiap untuk sarapan di meja makan. raut wajahnya masih sama dengan hari kemarin. namun perasaan juli kini sudah lega setelah ia berbicara jujur pada ayahnya.
Juli yang jarang sarapan di rumah kini ia duduk di samping ayahnya menemaninya sarapan. masih hening tak ada suara yang terdengar di antara ke duanya. nasi goreng yang tersaji di atas meja makan menggugah selera, mereka menikmatinya dengan khidmat.
"Siapa nama anakmu?" tanya sean setelah menelan makanan terakhir yang masuk ke dalam mulutnya.
"Maura Natalia Hansen."
"Berapa usianya?" tanyanya lagi mengambil gelas di depannya dan setelahnya meneguknya.
"4 tahun lebih yah."
Sean menyemburkan minuman dalam mulutnya. ia teringat kembali pada perdebatannya dengan putranya beberapa tahun yang lalu. yang akan menghamili kekasihnya agar perjodohannya gagal.
"Ayah." panggil juli. sean memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
**
Agatha sudah siap untuk berangkat pagi ini, ia duduk di atas sepeda motornya ia melajukannya dengan kecepatan normal di bawah 50. dari arah yang sama ia di srempet sepeda motor dari belakang samping kanan.
"Aaaaaaa." agatha berteriak saat dirinya jatuh beserta sepeda motornya mencium aspal jalanan. rasa sakit tangan dan kakinya menggesek aspal membuat dirinya tak sadarkan diri di tempat. sepeda motor yang menyrempet bukannya berhenti menolong malah kabur begitu saja. banyaknya orang yang ada di tempat segera menolong agatha membawanya ke Rumah Sakit dengan mobil.
Tak butuh waktu lama agatha telah sampai di Rumah Sakit. brankar dari IGD datang menjemput pasien yang barusaja tiba. setelah di baringkan di atas brankar para suster segera melajukan brankar ke ruang IGD.
Seorang lelaki berperawakan tegak yang sedang berjalan menatap brankar pasien yang sedang melaju berlawanan arah dengannya, ia melihat jelas wajah pasien. dengan cepat ia menghentikan langkahnya.
"Berhenti sebentar sus." jason menghentikan laju brankar dan mendekat ke arah brankar.
"Ale." bibirnya bergetar saat kedua matanya menatap pasien yang terbaring.
__ADS_1
"Apa anda mengenal wanita ini?" tanya salah satu perawat.
"Iya dia adikku." ujarnya menganggukan kepalanya ia juga tak mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tuan permisi, kami harus melakukan tindakan pada pasien." perawat melajukan kembali brankar ke ruang IGD.
Jason yang berniat untuk pulang ke Bandung mendadak ingin tetap berada di Rumah Sakit. kedatangannya ke salah satu Rumah Sakit di pusat kota karena menjenguk sahabat semasa SMA yang sedang sakit kemarin malam dan pagi ini ia berniat berpamitan dengan sahabatnya untuk kembali ke Bandung.
Lama ia menunggu duduk di depan ruang IGD sendirian akhirnya pintu terbuka menampilkan seorang perawat yang barusaja keluar dari dalam ruang IGD.
"Bagaimana keadaan adik saya sus?" tanya jason langsung melemparkan pertanyaan dengan raut wajah cemas.
"Tidak ada luka serius yang di alami pasien, hanya terdapat luka sobek di bagian siku dan kaki. pasien sudah mendapatkan jaitan dan nanti pasien sudah boleh di pindah ke ruang bangsal. saya permisi." balasnya ramah.
Jason merasa lega saat dirinya puas dengan jawaban perawat. rasa khawatir yang menyelimutinya hilang begitu saja. saat brankar keluar dari ruang IGD ia langsung mengekor ke mana arah brankar melaju. seperti mimpi setelah beberapa tahun ia di pertemukan dengan wanita yang mirip dengan adiknya. ia berharap jika wanita yang ada di hadapannya adalah adiknya.
Bersambung. . .
Terima kasih kepada readers yang sudah menyempatkan waktu mampir ke lapakku dan setia menunggu ceritaku.
Tetap biasakan setelah membaca meninggalkan jejak dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya ❤
__ADS_1