
Di tengah panasnya terik matahari di siang hari agatha berjalan kaki menyusuri jalanan tanpa alas kaki, flat shoes yang ia pakaipun ia tenteng. pikirannya berkelana entah ke mana. buliran air mata yang sudah menggenang tumpah membasahi kedua pipinya. sesekali ia menghentikan langkahnya menghembuskan nafas berulang kali berusaha menetralkan pikirannya. ingin rasanya ia berteriak mengeluarkan semua beban yang ada di dalam hatinya supaya hatinya lebih tenang.
"hiks. .hiks." sepanjang jalan ia terus menangis. ia tak peduli dengan pandangan orang lain yang melihatnya merasa iba.
Flash back on
"Nona Valerina kapan terakhir anda haid?" tanya doker Geri.
"Tanggal 3 bulan lalu dok." jawab agatha dengan wajah dibuat setenang mungkin, padahal dalam hatinya ia merasa khawatir.
"Haid saya memang tidak teratur dok, maaf dok apa ada penyakit serius dalam rahim saya?" agatha memberanikan diri bertanya agar perasaannya lebih tenang setelah mendapat jawaban dari dokter yang memeriksanya.
"Silahkan nona berbaring di sini saya periksa dulu nona, nanti saya jelaskan." agatha menuruti perintah dokter Geri berbaring di atas brankar pasien.
Dokter Geri membuka kaos yang agatha pakai ke atas sampai ke bawah payudara lalu mengoleskan gel ke perut agatha. kemudian alat transduser di tempelkan di atas perut agatha dan di putar di permukaan perut agatha, terlihat titik tanda janin yang saat ini tumbuh di rahim agatha.
"bisa kita lihat di dalam rahim nona sudah tumbuh janin, walau terlihat baru sebiji jagung." dokter Geri menjelaskan secara detail. agatha tampak terkejut mendengar penjelasan dari dokter.
"sa. .saya hamil dok?" agatha terbata bata masih tidak percaya dengan semuanya.
"Selamat nona, nona saat ini sedang mengandung dan usia kandungan nona sudah menginjak 6 minggu." dokter Geri tersenyum ramah pada agatha.
"Nona hamil di usia muda dan umur nona baru menginjak 18 tahun, kandungan nona masih sangat muda bisa dibilang rawan saya harap anda selalu berhati-hati dalam setiap aktivitas. suster Lusi menuliskan mengatakan bahwa nona selalu mengalami pusing dan mual, saya sudah menuliskan resep untuk mengurangi rasa pusing dan mual. silahkan nona tebus obatnya di apotik." jelas dokter setelah selesai memeriksa agatha.
agatha mematung suara di tenggorokannya tercekat tak mampu berkata apa-apa lagi. matanya membulat sempurna ia masih syok mendengar penjelasan dari dokter Geri.
Flasback off
Agtaha mengusap kembali air matanya, ia melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti. mengingat banyaknya masalah yang ia hadapi bertubi tubi, dari perceraian kedua orang tuanya lalu maminya yang menikah dengan ayah kekasihnya sekarang ia hamil anak dari kakak tirinya. sungguh agatha hampir di buat gila saat ini. ia tak menyangka buah cintanya malam itu dengan juli menghasilkan janin. pandangannya seketika kosong ia berjalan dengan langkah gontay.
"Awas!" teriakan dari seorang pria yang menarik tangan agatha hingga ia jatuh dalam pelukannya.
__ADS_1
"Apa kau sudah gila hah? jika kau ingin mati jangan di sini, kau akan merugikan orang lain!" sentak lelaki yang baru saja menolong agatha.
Agatha hampir saja tertabrak mobil yang sedang melaju kencang, jika saja ia tak diselamatkan mungkin saja ia saat ini sudah di larikan ke Rumah sakit. namun Tuhan menurunkan malaikat untuknya dan Tuhan masih berbaik hati memberikan umur panjang untuknya.
Agatha mendongak melihat siapa orang yang baru saja menolongnya. wajahnya terlihat tak asing seperti pernah melihatnya tapi di mana dan kapan agatha tidak ingat.
"Seharusnya kau membiarkan aku mati!" agatha melepas pelukan pria asing dan menuding dada milik si pria dengan jari telunjuknya.
"Alloh membeci orang yang berputus asa, jika kau ada masalah selesaikan semuanya dengan kepala dingin bukan malah menyakiti diri sendiri." ucap si pria memberikan saran.
"Walaupun kita berbeda keyakinan aku yakin di semua agama pasti sama. bukankah bunuh diri itu di larang oleh agama."jelas si pria itu lagi menatap kalung salib yang melingkar di leher agatha.
"Kenapa ujian yang Tuhan kasih ngga ada habisnya, kenapa malah semakin berat?" gumam agatha lirih. wajahnya menampakkan raut kesedihan yang mendalam.
"Tuhan memberikan ujian pada hambanya tak akan melebihi batas kemampuan setiap manusia. jika Tuhan sudah memberikan ujian padamu berarti Tuhan percaya kau mampu melewati semuanya. selalu berdoa tetap dekatkan diri pada Tuhan mohon diberikan kekuatan dan keikhlasan agar ujian yang sedang kau hadapi akan terasa ringan."
"Tapi aku sudah hampir tidak kuat menjalani semua ini, semuanya terasa berat." agatha mengusap genangan air di ujung matanya dengan jarinya.
"Yakinlah jika suatu hari nanti kebahagiaan akan menghampirimu." ucap si pria itu masih terus menenangkan agatha.
Ayah sean kini sedang duduk bersama dengan sahabatnya semasa SMA yang sudah lama berpisah beberapa tahun lalu karena mereka membangun perusahaan di Negara Jepang. mereka melepas rindu dengan mengobrol dan di temani secangkir kopi dan biscuit yang berada di atas meja. Davit dan istrinya Sintia baru saja tiba di indonesia langsung bergegas berkunjung ke kantor milik Sean. putri pertama mereka juga terlihat hadir di antara mereka Desi namanya, Desi juga dulu pernah menjadi teman masa kecil juli sebelum Desi pindah mengikuti kedua orang tuanya.
"Putrimu sudah besar rupanya sekarang, cantik seperti mamanya." puji ayah sean pada putri davit.
"Terima kasih om." jawab Desi menyungingkan senyum.
"Sean maafkan kami yang tidak bisa hadir di pernikahanmu waktu itu." ucap Davit penuh sesal.
"Tak apa, aku sangat tau kesibukan kalian. doakan saja semoga pernikahanku dan niken langgeng." ucap sean.
"Pasti kami doakan." jawab davit dan sintia serempak.
__ADS_1
"Apa juli masih ingat denganku om?" tanya Desi.
"Tentu saja des, kau kan teman masa kecilnya pasti juli tak akan mungkin lupa denganmu." jawab ayah sean.
"Kau tidak lupa kan dengan perjodohan kita waktu itu?" Tanya Sintia mengingatkan di sela-sela obrolan mereka. perjodohan yang di inginkan ibunya juli pada saat ia masih hidup ia menginginkan desi menjadi menantunya. dan sintia juga menyetujuinya dengan bersatunya juli dan desi membuat hubungan persahabatan mereka akan menjadi lebih erat lagi.
"Tentu saja aku ingat, tapi aku belum memberitahukannya pada juli." Ucap Sean jujur.
"secepatnya sean aku tidak mau menunggu lebih lama lagi."
"Kalian sudah tidak sabar ingin memiliki menantu secepatnya?" tanya sean terkekeh mendengar keinginan davit.
"Lebih tepatnya ingin segera menimang cucu." mereka semua tergelak mendengar jawaban dari Sintia. Desi terdiam ia menahan malu mendengar jawaban dari mamahnya. wajahnya kini sudah memerah seperti tomat.
Putaran jam mulai melaju, waktu siangpun sudah berganti menjadi sore. matahari yang tadinya berada di ufuk timur kini sudah berada di ufuk barat. waktu bekerja untuk karyawan sudah hampir habis, mereka yang tidak lembur mulai membereskan meja dan menata berkas yang berserakan mereka kumpulkan di atas meja, dan laptop yang sedari pagi menemani mereka bekerja kini sudah di matikan lampu ruangan juga sudah mulai padam.
Ayah Sean kini sudah berada di rumah bersama niken istrinya. duduk di ruang tamu sambil mengobrol membahas masalah perjodohan juli dengan Desi anak dari sahabatnya semasa SMA.
"Bagaimana jika juli menolak perjodohan ini mas?" tanya niken istrinya dengan raut wajah gelisah.
"Mas akan berusaha membuatnya menerima perjodohan ini, lagi pula mereka sudah saling kenal jadi mereka sudah tak canggung lagi jika sudah menikah nantinya." ucap ayah sean dengan tenang.
"siapa yang akan di jodohkan yah?" tanya juli yang muncul tiba-tiba dari balik pintu.
juli mendapatkan pesan whatsapp dari ayahnya yang menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah, ia langsung bergegas pulang ke rumahnya di antar oleh aksa asistennya. pekerjaan di kantor cabang membuat dirinya bekerja lebih keras agar perusahaan semakin maju. telinga juli begitu tajam mendengar setiap kalimat yang ayahnya katakan. ia begitu penasaran siapa yang akan di jodohkan oleh ayahnya dirinya atau orang lain.
bersambung. . .
biasakan setelah membaca selalu meninggalkan jejak dengan
Like
__ADS_1
Comen
Vote