
Agatha melangkah dengan perasaan gelisah menuju ruang tamu. Seharusnya ia tak kabur ke kota ini lagi agar keluarganya tak bisa menemukannya, namun ia sendiri takut tak di terima lagi di kota manapun seperti dulu ia hamil. Jika saja ia pergi hanya seorang diri mungkin ia bisa pergi lebih jauh lagi namun ada anak yang harus ia bawa ke manapun ia pergi. Mau tidak mau ia harus kembali ke tempat yang mau menerima kehadirannya dan putrinya.
Langkah Agatha berhenti saat dirinya sampai di ruang tamu. Terjawablah sudah jika calon suami yang Bu Yosi maksud ialah Chen.
Jason berdiri dari duduknya saat kedua matanya melihat kemunculan Adiknya dari dalam.
"Ale."
"Untuk apa kalian datang kemari?" Tanya Agatha mendengus kesal menatap kehadiran Jason dan Chen di hadapannya.
"Kenapa pergi lagi? apa kau ingin membuat kami kelimpungan lagi mencarimu?" Bukan malah menjawab pertanyaan yang di lontarkan adiknya malah ia melayangkan pertanyaan pada Agatha.
"Bukankah kehadiranku hanya aib bagi keluarga kalian, lantas kenapa harus mencariku? Harusnya kalian bahagia aku pergi."
"Ale, Kakak.."
"Sudahlah lebih baik kalian pulang saja, berhentilah membujukku agar aku kembali lagi bersama kalian!" Titah Agatha. Ia membalikan badan hendak masuk lagi ke dalam. Namun kabar buruk yang Agatha dengar membuat langkahnya terhenti.
"Mami Kecelakaan." Sergah Jason.
"Apa?"
"Ia mami kecelakaan dan membutuhkan banyak darah. Golongan darahmu dan Mami sama kan?" Jelas Jason.
Agtha terdiam mendengar ucapan kakaknya. Rupanya kemarin malam mimpi buruk Mami kecelakaan rupanya benar adanya. Memang ikatan batin antara Ibu dan Anak sangatlah kuat.
"Ale." Panggil Chen yang membuat ia tersadar dari lamunannya.
"Saat ini Mami sedang membutuhkanmu Ale. Buanglah jauh pemikiran burukmu itu. Semua manusia pasti memiliki kesalahan dan dosa di masa lalu. Aku percaya Tuhan saja Maha Pemaaf jadi bagaimana mungkin kami tak saling memafkan." Imbuhnya lagi.
"Agatha mereka benar walau bagaimanapun Beliau adalah wanita yang sudah mengandung dan melahirkanmu ke dunia. Maafkan segala Ucapan yang membuat hatimu sakit nak. Jangan biarkan para setan menguasai hatimu dengan terus menerus membencinya. Tuhan tidak suka melihat para Hambanya saling menyimpan dendam." Timpal Bu Calista yang sedari tadi menjadi pendengar di belakang Agatha.
"Bu bukannya aku tidak mau mendonorkan darahku untuk Mami, Tapi apa Mami mau menerima darah dari seorang ******." Bibir Agatha bergetar saat mengingat kembali ucapan Maminya saat bertemu kemarin siang.
Baru separuh perjalanan menuju rumah Gani memutuskan kembali lagi ke Rumah Panti mengambil barang yang tertinggal di sana. Baru saja samapi di teras rumah Gani mendengar perdebatan dari luar dirinya tak langsung masuk ia masih berdiri di teras tak berniat menguping namun karena suaranya terdengar keras dan jelas jika Agatha menolak kembali bersama keluarganya.
"Memangnya kau pikir semua manusia terlahir sempurna tanpa dosa?" Suara yang tak asing mampir ke telinga. Agatha menoleh ke arah sumber suara. Benar dugaanya ia mengenal betul suara itu, suara Abang angkatnya Gani.
Bukannya Agatha menjawab ia malah menundukan kepala. entah mengapa jika Gani sudah bicara mulut sialan ini tak mampu lagi membantah.
"Jangan sampai menyesal tak bisa melihat orang tuamu lagi selagi masih hidup. Inget pesan Abang." Ucap Gani lagi. setelahnya ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.
"Saya Permisi." Pamitnya seraya melempar senyum pada semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
Agatha masih saja diam. Rupanya ia sedang menimbang setiap ucapan yang dia dapat dari beberapa orang. Rasa sakit yang ada di relung hatinya masih membekas namun ada rasa sayang terselip di hatinya yang membuat ia memutuskan untuk pergi menemui ibunya.
Dengan langkah tergesa ia masuk ke dalam kamar mengambil sling bagnya dan menyambar jaket Maura yang tergantung.
"Ibu percaya kau anak yang baik dan berbakti. Semoga Mamimu lekas kembali sehat. Salam untuk seluruh keluargamu." Bu Yosi memeluk Agatha sebelum melepas kepergian Agatha.
"Amiin." Agatha mengaminkan doa baik yang panjatkan Ibu Yosi.
"Kau yakin akan membawa Maura pergi bersamamu?" Tanya Bu Yosi.
"Maura terbiasa tidur bersamaku, Agatha takut Maura akan mencariku jika aku tak ada di sampingnya."
"Sayang, di luar ada uncel Jas." Ucap Agatha pada putrinya.
"Mana?"
"Di depan, Ayo kita temui." Ajaknya seraya menuntun tangan mungil putrinya.
"Hati-hati di jalan Sayang jika sudah sampai hubungi nenek ya." Bu Yosi mencium seluruh wajah Maura.
Maura mengangguk patuh.
**
"Cepat sembuh Mi." Ucap Agatha penuh harap, ia mengusap air mata yang sudah menggenang di sudut matanya.
"Sudah selasai Mbak." Ucap suster pada Agatha.
"Ooh iya Sus."
Ayah Sean masuk ke ruang rawat terlihat hanya seorang diri.
"Sudah selesai Sus?" Tanya Sean.
"Sudah Tuan."
"Bisa tinggalkan kami sebentar?"
Suster menganggukan kepala lalu melangkah keluar ruangan meninggalkan Aku, Mami dan Ayah Sean.
"Ale, terima kasih kau sudah mau mendonorkan darah untuk Mami."
"Sudah seharusnya Yah."
__ADS_1
"Ale, Ayah minta bisa kau tinggalkan putra Ayah." Ucap Ayah Sean.
"Kau tidak usah khawatir, Juli akan memberikanmu tanggung jawab penuh atas Maura." Imbuhnya lagi.
Dada Agatha begitu sesak mendengar permintaan Ayah sambungnya.
"Ayah sangat mencintai Mamimu, Ayah tidak ingin berpisah darinya." Ucap Ayah Sean, matanya menatap wajah Niken penuh cinta.
"Maafkan Ale sudah membuat banyak masalah. Jika kembalinya Ale hanya jadi penghalang hubungan Mami dan Ayah, Ale minta maaf." Ucap Agatha menahan air mata yang memaksa jatuh.
Sean tersenyum mendengar ucapan putri sambungnya. Tak perlu susah payah menyuruh Agatha menjauh dari putranya.
Tin
Tin
Tin
Suara klakson kendaraan yang ada si belakang Agatha sangat memekikan telinga.
"Woy jalan mau mati tetap diam di situ!" Teriak salah satu pengendara.
Agatha tersadar dari lamunannya. Ia segera menarik gas sepeda motornya meninggalkan perempatan lampu merah.
Di perjalanan tak hentinya dia merutuki kebodohannya bisa-bisanya dia melamun saat berkendara untung saja Tuhan masih melindunginya.
Entah mengapa setelah kepulangannya dari Jakarta Agatha lebih banyak melamun apalagi setelah dirinya bertemu dengan Ayah sambungnya dan sekarang ia lebih banyak diam. Ibu panti juga merasa aneh atas perubahan sikap Agatha.
Bersambung. . .
Maaf baru bisa Up. kemarin masih dalam masa pemulihan banyak isitirahat. Mohon doanya agar aku selalu di berikan kesehatan dan bisa Up tepat waktu.
Selamat Hari Raya Idul Fitri Minal aidzin wal'faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin semua.
Mohon dukungannya dengan cara meninggalkan Jejak dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤
__ADS_1