
Mami Niken menghentikan laju mobilnya di pekarangan rumah panti. Ia segera turun dari mobil lalu membuka pintu belakang mengeluarkan makanan serta buah-buahan di kedua tangannya untuk putrinya. Ia merasa khawatir mendengar dari ketiga Ibu panti mengenai kondisi putrinya yang jarang sekali makan dan kini tidurnya juga tak teratur. Mami Niken berjalan menaiki undakan anak tangga menghampiri putrinya dan temannya.
"Aku turut prihatin atas apa yang menimpa Maura. Semoga Maura lekas di temukan." Bang Gani mendoakan. Ya setelah mendengar kabar hilangnya maura Jika tak lembur sampai malam Bang Gani mampir berkunjung ke rumah panti hanya sekedar menanyakan soal perkembangan Maura dan menghibur Agatha. Niatnya hari minggu ini ia ingin ikut mencari Maura.
"Amiin, makasih doanya Bang."
"Eh ada tamu. Sudah lama?" Mami Niken menghampiri keduanya lalu mengulurkan tangannya bersalaman.
"Belum lama Tan, baru sekitar 15 Menitan duduk di sini." Balas Bang Gani tersenyum ramah.
"Eh ini tante bawa kue, Ayo di cicipi." Titahnya seraya meletakan sekotak kue brownis di atas meja.
"Eh jadi ngrepotin Tan kan jadi enak ini." Balasnya terkekeh, ia lekas mengambil potongan kue dan memasukannya ke dalam mulutnya lalu menguyahnya.
"Tante ngga ngrasa di repotin kok." Balasnya seraya duduk di kursi sebelah putrinya.
"Enak?" Tanya Mami Niken.
"Mantul mantap betul." Balas Bang kemal setelah ia menelan makanan dalam mulutnya lalu mengacungkan jempolnya ke arah Mami Niken.
"Kalo enak dimakan lagi." Pintanya lagi.
"Siap Tan 86."
"Sayang kau juga harus makan yang banyak. jangan sampai kau sakit karena mengabaikan kesehatan." Ucapnya lalu mengambil potongan kue lalu menyuapkannya pada putrinya.
"Aku tidak lapar." Ucapnya datar.
"Mana ada seorang ibu yang sedang kehilangan anaknya tak merasa cemas? Mungkin itu hanya ibu sepertimu di dunia ini yang tau anaknya hilang dan jatuh tak merasa bersedih." Sindir Agatha lalu bangkit dari duduknya, ia meninggalkan kedua manusia beda generasi di teras.
"Ale." Panggilnya saat melihat putrinya yang sudah bangkit dari duduknya. Wajahnya mendadak sendu.
"Biarkan saja dia pergi Tan jangan di susul. Biarkan Atha merasa tenang." Cegah Bang Gavin saat Mami Niken hendak menyusul Agatha masuk ke dalam rumah.
Ia kini menyadari bahwa ia belum menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya. penyesalan yang ia rasa belum juga membuat putrinya kembali percaya padanya.
Mami Niken kembali duduk di kursi.
"Tante maafkan sikap Atha. Dia masih merasa kehilangan putrinya, jadi menurutku tante harus tetap berusaha mengambil hati atha lagi aku yakin suatu saat nanti pasti dia akan kembali menjadi putrimu yang dulu." Ucap Bang Gani memberikan pengertian pada Niken.
"Terima kasih Nak Gani sudah membuat hati Tante sedikit lebih baik." Air mata yang sejak tadi tertahan kini mulai menerobos keluar.
__ADS_1
Sementara Agatha di dalam kamarnya tampak sedang duduk di atas kasur busa yang tergeletak di lantai seraya memeluk bingkai foto putrinya saat bersama dirinya di kebun binatang 2 tahun yang lalu.
"Sayang Mom kangen." Di tatapnya foto Maura lalu menciumnya berulang kali.
"Kau di mana sekarang nak? sudah makan belum?" Tanya Agatha seolah olah dirinya sedang mengobrol dengan putrinya.
Mami Niken mengamati dari luar kamar Agatha karena pintunya tak tertutup rapat dari dalam ia ikut merasa prihatin melihat kesedihan yang Agatha rasakan. Ia harus lebih keras lagi untuk ikut membantu mencari cucunya demi menebus kesalahannya pada putrinya.
**
"Lilinnya jangan di tiup dulu ya, Papah mau atur video dulu." Seru Bagaskoro pada kedua anak beda jenis kelamin yang sedang duduk berdua di sofa panjang di Ruang rawat inap.
Kue ulang tahun dengan lilin yang menyala juga sudah siap. Usia Gavin hari ini sudah bertambah satu tahun menjadi 9 tahun. Ia sebenarnya tak ingin bila ulang tahunnya di rayakan seperti tahun sebelum-sebelumnnya namun sang mamah tetap saja memaksanya untuk menuruti kemauannya.
"Pah aku ngga mau di rayain." Ujarnya merajuk. Gavin bersidekap dengan wajah ditekuk karena merasa kesal.
"Sayang ini yang terakhir tahun selanjutnya mamah tidak akan merayakannya lagi Mamah janji." Ujarnya masih mencoba merayu agar putra tunggalnya menurut.
"Janji." Gavin menatap kedua netra Ibu kandungnya dengan penuh harap.
"Iya Mamah janji." Ucapnya seraya mengacak rambut putranya.
"Iya Lula juga ikut meniup." Balas papah Bagaskoro mendekat ke arah di mana semua orang berkumpul. Ponsel sudah terpasang di tripod tinggal menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan tiup lilin saja. Ia selalu ingin merkam setiap momen yang keluarganya lakukan untuk kenang-kenangan di masa tuanya nanti.
"Biar kau saja yang meniup?" Pinta Gavin menyenggol bahu Maura.
"Ngga mau, kan Uncle bilang tiupnya bareng kakak." Tolak Maura.
"Lula saja." Kekeh Gavin.
"Ngga mau." Maura menggeleng cepat.
"Boy jangan ribut terus ayo sekarang menyanyi lalu berdoa terakhir tiup lilinnya." Seru Papah Bagaskoro melerai perdebatan kedua anak di sampingnya yang sedari tadi terlihat seperti kucing dan tikus. Sedangkan Mamah Mayang hanya geleng-geleng melihat keduanya yang sedari awal bertemu selalu saja ada saja yang di ributkan.
Hanya terdengar helaan nafas dari Gavin. Perintah kedua orang tuanya mutlak dan tak mungkin bisa di bantah.
Baiklah mereka kali ini menang. Kali ini Gavin akan menjadi anak yang patuh.
Hari telah berlalu setelah acara perayaan ulang tahun yang di adakan di rumah sakit kini mereka memboyong pulang Maura ke kediamannya. Kondisi Maura yang sudah pulih namun masih dalam pantauan jadi sudah di perbolehkan pulang. Maura terlihat tak bersemangat dalam melakukan hal apapun karena selalu teringat pada kedua orang tuanya.
"Sayang kenapa makanannya cuma di aduk-aduk? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Mamah Mayang yang sejak tadi tak hentinya memperhatikan Maura.
__ADS_1
"Enak aunty. Lula hanya kangen dengan Mom and Dad."Balasnya menunduk. Kedua matanya berkaca-kaca saat mengungkapkan rasa rindunya pada Ibu serta Ayah kandungnya.
"Sayang." Mamah Mayang bangkit dari duduknya lekas menghampiri Maura lalu memeluknya.
"Jangan sedih, nanti setelah kondisi Lula membaik Aunty and uncle antar pulang ke semarang." Ucapnya seraya mengelus kepala Maura penuh kasih sayang.
"Aunty janji?" Maura mendongakan kepala menatap kedua mata Mamah Mayang dengan penuh harap."
"Iya Aunty janji." Ujarnya dengan menujukan jari kelingkingnya.
"Kenapa tidak tinggal di sini saja biar Gaga ada temennya." Gaga buka suara.
"Kan Gavin temannya banyak di Sekolah, lagian kita bisa mengunjungi Lula ke sana kapanpun. Iya kan Pah?" Ujarnya memberi usul dan pengertian pada putranya.
"Iya kak, Aunty benar kakak bisa belkunjung ke lumah panti kalau mau belmain denganku lagi."
"Rumah panti, maksud Lula Panti Asuhan?" Tanya Uncel memastikan telinganya tak salah dengar saat mendengar ucapan Maura.
"Iya itu tempat tinggal Lula uncel." Jelas Maura.
"Lula punya Mom and Dad?"
Maura hanya mengangguk sebagai jawaban.
Bagaskoro terdiam mendengar jika Maura tinggal di Rumah Panti dan masih punya orang tua, jadi apa maksudnya dari semua ini.
Bersambung. . .
Mohon dukungannya dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤
Jangan lupa juga mampir ke Novel ke duaku yang berjudul Pelangi Di Atas Senja
__ADS_1