One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 90


__ADS_3

"Sudah sampai." Chen menghentikan laju mobilnya tepat di depan butik Calon mertuanya.


Keduanya melepas sabuk pengaman lalu turun bersama. Di depan pintu Mami Niken nampak tersenyum berdiri menyambut putri dan calon menantunya.


"Sayang Mami kira nanti sore datangnya." Ucapnya seraya memeluk putrinya lalu beralih memeluk Chen bergantian.


"Kebetulan Chen ada waktu senggang Mi."


"Ayo sayang kalian harus coba Gaun dan tuxedo yang Mami buat untuk kalian."


"El tolong ambilkan gaun yang kemarin." Titahnya. Wanita yang di panggil El nampak terkejut saat pandangan matanya menatap lelaki yang berdiri di samping Agatha.


"Ini Mbak Ale Gaunnya silahkan dicoba." Agatha menerima sembari tersenyum.


Agatha masuk ke ruang ganti mencoba gaun berwarna putih khas pengantin. Setelah menunggu beberapa menit kemudian Agatha keluar dengan begitu anggun dan cantik.


"Cantiknya putri Mami." Puji Mami Niken berjalan mendekati Agatha.


"Chen Bagaimana menurutmu, Ale cantik kan?" Tanya Mami Niken pada calon menantunya.


Chen yang sedang menatap ponsel segera mengalihkan pandangannya di mana Agatha berdiri. Kedua mata Chen tak berkedip menatap dari atas sampai bawah wanita yang akan menjadi istrinya dua hari lagi. Sangking terpesonanya ia terus saja menatap Agatha dengan senyum tipis di bibirnya.


"Chen Bagaimana pendapatmu?" Ulang Mami Niken.


"Cantik Mi." Pujinya sembari tersenyum.


"El kau sudah mengambil tuxedo untuk calon menantuku?" Tanya Mami Niken yang membuat Elsiya tersadar dari lamunannya.


"Eh maaf Bu saya lupa." Ucapnya lalu kembali masuk ke dalam mengambil 2 tuxedo yang akan di coba Chen.


"Kebiasaan." Ucapnya seraya geleng-geleng kepala.


"Ini tuxedonya Chen, eh Mas." Ucapnya kikuk. Elsiya merasa gugup saat ia memandang kedua mata Chen. Tak di sangka mulutnya sudah lancang memanggilnya langsung dengan nama.


"Wajahmu seperti tidak asing, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Chen pada Elsiya sebelum ia masuk ke ruang ganti.


"Apa kau lupa kalau kita dulu satu sekolah dan..." Ucap Elsiya sebelum akhirnya suara bariton dari Agatha menghentikan percakapan keduanya.


"Chen kapan kau akan mencoba tuxedomu jika masih berdiri di sana?" Tegur Agatha saat melihat Chen tengah mengobrol dengan Karyawan Mami.


"Iya sayang aku akan segera mencobanya, tunggu sebentar." Ucap Chen berjalan menuju ruang ganti.


Sebetulnya ini terlalu dekat figthing gaun mendekati hari H. Tapi mau bagaimana lagi ini sudah menjadi kesepakatan bersama bila hari pernikahan dipercepat.

__ADS_1


"Wah Tampannya calon menantu Mami." Ucapnya saat Chen baru keluar dari ruang ganti.


"Chen memang tampan sedari dulu." Agatha mendekat lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Chen.


Elsiya yang sedari tadi menunduk terlihat mencuri pandang menatap kedua calon pengantin yang terlihat mesra memembuat hatinya terasa ngilu. Agatha yang menangkap gelagat aneh Elsiya langung melirik wanita yang sedang berdiri tak jauh darinya yang kini sudah salah tingkah saat ia kedapatan menatap Chen lalu menunduk kembali.


Agatha semakin merasakan sikap aneh dari Elsiya, entah ini perasaannya saja atau ia sedang merasa cemburu.


**


Wanita cantik berambut sebahu duduk bersandar di sofa, melepas rasa penat di tubuhnya karena lelah bekerja. Ia menyandarkan kepalanya seraya memejamkan kedua matanya.


"Chen I love you." Suara teriakan dari salah satu penonton pertandingan sepak bola di halaman sekolah.


"Chen semangat sayang Ceryl mendukungmu dari sini." Gadis berambut panjang seraya melambai berteriak dengan suara centilnya.


Elsiya nama gadis berpenampilan culun berambut kempang dua berkacata besar berjalan seorang diri dengan setumpuk buku di kedua tangannya. Ia baru saja keluar dari ruang perpustakaan untuk mecari buku sebagai bahan untuk mengerjakan tugas.


Ia mengabaikan suara sorak sorai dari siswi SMA yang sedang menonton dan memberi dukungan pada pria populer seantero SMA. Elsiya tak pernah dengar Salah satu di antara mereka berpacaran dengan Chen. Malah yang Elsiya dengar kekasih Chen bukan asli dari sekolah ini melainkan dari sekolah tetangga.


Bugh


Elsiya yang tak tau jika bola akan mengarah padanya jatuh tepat di kepalanya langsung ambruk pingsan di tempat. Lelaki yang tadi sudah menjadi tersangka utama menendang bola mengenai kepala Elsiya langsung menghampirinya lalu menggendong dan membawanya ke ruang UKS.


"Kau sudah sadar?" Tanya Lelaki yang sedang duduk di kursi samping brankar.


"A..aku di mana?" Tanya Elsiya wajahnya terlihat begitu kebingungan.


"Elsiya syukurlah kau sudah sadar." Verin yang muncul dari luar langsung mendekati sahabatnya dengan wajah cemas.


"Aku tidak papa hanya sedikit pusing." Balas Elsiya, ia mencoba untuk duduk namun lekas di cegah oleh Chen.


"Istirahatlah, kau bilang masih pusing kan?"


"Aku minta maaf sudah membuatmu pingsan tadi." Ucap Chen lagi.


"Oh iya tidak papa, tidak ada luka serius yang perlu dikhawatirkan." Balas Elsiya.


"Semoga cepat membaik, aku pamit." Chen segera bangkit meninggalkan ruang UKS lalu kembali berkumpul dengan anak-anak.


"Dia benar-benar tampan." Puji Elsiya Bergumam saat Chen berpamitan. Ia menatap kepergian Chen sampai hilang dari pandangan matanya.


"Kau bilang apa tadi?" Tanya Verin agar Elsiya mengulangi ucapannya. Kedua mata Verin mengikuti arah pandang mata Elsiya.

__ADS_1


"Tidak ada." Sanggahnya.


"Jangan bilang kau menyukai Chen pria tertampan seantero sekolah. Jika itu benar saat ini kau dalam masalah besar." Ucap Verin menasihati Elsiya.


"Ya aku juga sadar siapa aku, mana mungkin dia akan menyukai gadis culun sepertiku." Balas Elsiya sadar diri.


"Baguslah akhirnya kau sadar juga. Jika anak-anak dengar kau menyukai Chen kau pasti akan di hina seluruh penghuni satu SMA." Verin bernafas lega mendengar kewarasan sahabatnya.


Elsiya harus menelan pil pait hanya bisa mengagumi pria seperti Chen. Pria berwajah chiness yang begitu dikagumi banyak wanita.


"El kau mau ijin pulang atau tetap di sekolah?" Tanya Verin.


Elsiya tak menanggapi pertanyaan Verin hingga akhirnya Verin mengulangi pertanyaannya seraya menggoyang tangan Elsiya cukup keras.


"El bagaimana kau mau ijin pulang atau tetap di sekolah?" Elsiya tersadar dari lamunannya saat merasakan tangannya mendapat guncangan.


"Aku mau tetap di sekolah aja, toh di rumah juga tak ada siapaun Ibu masih di Puskesmas sedangkan Kak Hendy sedang menginap di rumah Kakek." Balasnya dengan wajah sendu.


"Kau yakin masih kuat?" Tanya Verin sekali lagi untuk memastikan.


Elsiya hanya mengangguk.


"Baiklah jika itu maumu, memaksa orang keras kepala sepertimu juga percuma." Ucap Verin pada akhirnya.


"El buka pintunya, makan dulu sebelum tidur. Ibu sudah masak rendang untukmu." Titah Ibu Indri seraya mengetuk pintu cukup keras. Elsiya membuka kedua matanya samar saat mendengar suara ketukan pintu dan suara ibunya dari luar. Rupanya Elsiya tertidur di sofa sebelum ia membersihkan tubuhnya, karena merasa letih setelah bekerja ia ketiduran sejak ia baru sampai di rumah.Ternyata semuanya hanya mimpi masa lalunya saat pertama kali ia berinteraksi langsung dengan Chen dan entah mengapa sampai kini rasanya masih sama ada rasa debar dalam dadanya jika melihat dan dekat dengannya.


"Iya Bu sebentar." Balasnya seraya bangkit dari sofa.


"Ibu tunggu di meja makan." Ucapnya lagi lalu pergi menuju ruang makan.


"Ah malas sekali rasanya." Elsiya lekas menyambar handuk lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya ia keluar untuk ikut makan malam bersama keluarganya.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya dengan memberikan


Like


Coment


Vote dan


Jangan lupa masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya ❤

__ADS_1


__ADS_2