One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 93


__ADS_3

"Kenapa bisa Mas?" Tanya Agatha penasaran.


"Sebelum acara di mulai Chen menemuiku, Dia bilang ingin aku yang menjadi suamimu. Aku sangat terkejut mendengar permintaannya. Aku juga sempat menolak dengan alasan Chen bisa menjadi Ayah dan suami yang baik untukmu dan putri kita. Chen bilang Kau dan Maura akan bahagia jika Aku yang jadi suamimu." Jelas Juli.


"Dia bilang seperti itu padamu?" Tanya Agatha lagi. Sedangkan Juli hanya mengangguk.


"Apa kau lebih berharap Jika Chen yang menjadi pendamping hidupmu?" Tanya Juli dengan wajah sedih. Ia membuang muka ke samping agar Agatha tak melihat wajahnya yang sedang kacau.


"Aku menerima siapapun dia pria yang akan menikahiku Mas, termasuk dirimu."


"Benarkah? Aku ingin mendengarnya lagi, bisakah kau mengulangnya lagi?" Pinta Juli tersenyum.


"Aku ikhlas jika kau menjadi jodohku." Ucapnya lirih namun Juli masih dapat mendengar jelas ucapannya. Agatha kembali menunduk pipinya memerah bak kepiting rebus, ia merasa malu.


Juli langsung memeluknya dari belakang. Jantung Agatha berdetak semakin cepat saat kedua tangan suaminya melingkar di perutnya. Juli juga menjatuhkan dagunya di bahu Agatha.


"Aku mencintaimu Sayang sangat sangat mencintaimu, Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai bagian dari hidupmu. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan putri kita." Ucapnya sungguh-sungguh.


Juli melepas pelukannya lalu membalikan tubuh Agatha sehingga keduanya kini saling berhadapan. Kegugupan Agatha semakin terlihat jelas, ia langsung memutuskan kontak mata dengan sang suami. Juli menangkup kadua pipi Agatha lalu pandangan mereka bertemu lagi. jarak keduanya sangat dekat hingga Juli dapat merasakan hembusan nafas Agatha.


"Mas a...aku aku mau mandi dulu." Ucap Agatha tergagap, ia merasa gugup saat Juli menatapnya begitu lekat.


"Kita bisa mandi bersama." Juli mengerling nakal.


"Apa!" Agatha terkejut dengan tawaran Juli. Dia sendiri sedang mencoba untuk menghindar malah suaminya itu mengajaknya untuk mandi bersama.


"Ayo." Juli menarik pergelangan tangan Agatha, baru memegang knop pintu kamar mandi namun Agatha memanggilnya.


Seketika Juli menghentikan langkahnya. "Mas." Panggil Agatha lagi.


Juli menoleh namun genggaman tangannya masih belum ia lepaskan.


"Mas mandi duluan saja. Nanti gantian."


"Kenapa? Bukannya tadi kau bilang ingin mandi." Tanya Juli manaikan satu alisnya.


"Aku malu." Ucap Agatha menunduk.


"Kenapa mesti malu? Aku sudah pernah melihat semuanya bahkan sudah menyentuhnya." Bisik Juli.


Seketika Agatha terlihat gugup dan salah tingkah di buatnya.


"Dasar mesum." Ucap Agatha memukul pelan lengan suaminya.

__ADS_1


Juli tersenyum menanggapi perlakuan istrinya itu.


"Baiklah, kalau begitu biar aku mandi duluan." Juli melepaskan gengaman tangannya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sebelum membersihkan diri Agatha membersihkan riasan di wajahnya. Ia mencoba melapaskan resleting yang tak dapat ia jangkau. Juli yang sudah selesai mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan rambut yang basah lekas mendekat.


"Jika tak bisa melakukannya sendiri kenapa tak meminta tolong padaku hm." Ucapnya seraya membantu Agatha menurunkan resleting hingga bawah.


Nampaklah kulit putih dan mulus yang membuat Juli menelan salivanya. Dengan susah payah ia menahan segala perasaan yang bergejolak dalam dirinya. Tangannya terulur mengusapnya hingga Agatha meremang memejamkam kedua matanya saat jari suaminya megusap punggungnya.


"Apa kau sangat gugup?"


"A..aku aku."


Juli lekas membalikan tubuh istrinya agar menghadap padanya. Ia menangkupkan kedua pipi Agatha lalu memagut bibir ranumnya yang begitu menggoda. Agatha membuka mulutnya membuka akses untuk suaminya memasuki rongga mulutnya, mengabsen setiap inci di dalamnya. Juli melepas pagutannya, Agatha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.


Keduanya masih berdiri tanpa mengikis jarak. Pandangannya tak lepas dari sang istri yang masih memasang wajah gugup.


"Mas aku mandi dulu." Agatha langsung masuk ke dalam kamar mandi lalu mengunci pintu.


"Oh Jantung berdetaklah secara normal." Agatha memegang dadanya yang kini sedang berdetak tak beraturan.


**


"Apa Maura nantinya tak akan rewel jika tak ada aku di rumah."


"Jika semua orang yang ada di rumah tak mampu membuat putri kita tenang pasti mereka sudah menghubungi kita, dan terbukti sampai sekarang mereka belum menghubungi kita kan." Juli mencoba membuat istrinya kembali tenang.


"Iya mas semoga saja Maura anteng."


"Kau sedang tak kedatangan tamu kan?" Tanya Juli dengan senyum nakalnya.


"Tamu?" Agatha mengerutkan keningnya bingung, ia mendadak menjadi wanita bodoh. Agatha masih belum paham dengan arah pembicaraan suaminya.


Agatha masih saja terus berpikir, "Iya tamu bulanan." Balas Juli langsung pada intinya.


"Oh itu, aku baru saja selesai dua hari yang lalu mas." Balasnya dengan malu-malu.


"Apa aku boleh melakukannya lagi, Aku sudah lama menahannya." Ucapnya tanpa mengikis jarak keduanya.


Juli masih menatap kedua manik milik istrinya, ia berharap mendengar jawaban yang ia inginkan.


"Boleh mas." Agatha mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Kedua mata Juli berbinar kala istrinya mengijinkannya.


Juli langsung menggendong tubuh istrinya lalu menjatuhkan perlahn ke atas ranjang.


Keduanya memulai ritual malam pengantin baru, walau ini bukan hal pertama bagi keduanya namun kecanggungan di wajah Agatha begitu terlihat. Kedua mata Agatha terpejam, ia menggeliat saat tangan suaminya mulai menjelajah masuk ke dalam pakaiannya. Tak ada penolakan seperti waktu itu, Ia membiarkan sang suami menguasai tubuhnya.


"Rilex sayang, tenang aku akan pelan-pelan kok." Ucapnya seraya membuai pipi Agatha yang serasa mulus saat Juli menyentuhnya.


Agatha masih tegang namun ia mencoba terlihat tenang, ia tak ingin membiarkan sang suami merasa kecewa atas sikapnya.


Juli mulai melucuti pakaian yang di pakai istrinya dan dirinya lalu melemparkannya ke lantai.


"Ini perutmu kenapa?" Tanya Juli mentap dan menyentuh bekas jahitan di perutnya.


"Ini Bekas operasi cesar saat melahirkan Maura."


"Ini pasti terasa sakit, Maafkan aku yang tak berada di sampingmu saat berjuang melahirkan putri kita." Ucapnya penuh sesal. Lalu mengecup bekas jahitan di perutnya.


"Ini bukan salahmu Mas, aku yang salah karena tak memberimu kabar."


"Aku berjanji ada di sampingmu saat melahirkan adik Maura nanti." Jajinya menatap Agatha lalu beralih mengecup keningnya.


Pengantin baru kembali melanjutkan ritual mereka setelah melakukan sesi perbincangan agar sang istri tak merasa tegang.


Hawa dingin dari AC pendingin tak membuat keduanya merasakan kedinginan. Peluh yang membanjiri tubuh keduanya dan erangan dari bibir keduanya saling bersautan. Tanpa mereka sadari waktu sudah menujuk di angka 03.00 pagi. Juli merampungkan kegiatannya berharap benih yang ia tanam membuahkan hasil yang baik.


"Selamat beristirahat Dek." Juli menggelar selimut seraya meninggalkan kecupan di kening sang istri yang sudah menyambangi alam mimpi.


"Semoga adik untuk Maura hadir secepatnya di tengah-tengah keluarga kecil kita." Doanya seraya mengusap perut istrinya sebelum ia beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Bersambung. . .


Maaf para readers baru up dari kemarin aku sibuk banget,


Mohon dukungannya dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Jangan lupa masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤

__ADS_1


__ADS_2