One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 87


__ADS_3

"Oma jangan pulang, mau bobo baleng Oma." Rengek Maura saat Mami Niken pamit pulang.


"Oma besok kemari lagi, jangan sedih begini dong sayang." Mami Niken merasa jadi tak enak hati meninggalkan cucunya.


"Ngga boleh, maunya sekalang." Maura kembali merajuk. Maura juga tak mau melepas pelukannya dari tubuh Omanya.


"Maura besok kan bisa main sama bobo siang bareng Oma. Ini sudah malam dan Oppa Sean juga sudah menunggu Oma di rumah." Ucap Agatha ikut berusaha menenangkan putrinya.


"Oma." Kedua mata Maura sudah berkaca-kaca.


Maura mengeluarkan suara tangisnya dan Mami Niken merasa bersalah jika memaksakan diri harus pulang.


"Iya Oma bobo di sini, Mau bobo sekarang?" Tanya Mami Niken seraya mengusap kepala Maura lalu mencium keningnya.


"Iya bobo sekalang, Ayo." Maura menarik jari Mami Niken agar mengikuti pergerakan langkah kaki Maura.


"Maura tidak di buatkan susu dulu Le sebelum tidur?" Tanya Mami Niken yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang bersama Maura.


"Maura jarang minum susu kalau mau tidur paling sering langsung merem matanya."


"Mudah sekali menidurkannya." Balas Mami Niken seraya menggelar selimut untuk Maura.


"Loh loh sudah merem." Mami Niken mengintip wajah Maura, ia merasa heran melihat begitu mudahnya menidurkan cucunya hanya dengan menemaninya saja matanya sudah terpejam.


"Ya seperti itulah Maura, Dia tak pernah susah tidur. jika aku pulang kerja dia juga sudah tidur Mi." Jelas Agatha.


"Le bagimana kalau Maura sekolahnya pindah di sini saja. Biar nanti Mami yang nungguin." Mami Niken bernego.


Agatha menoleh dan menatap tidak senang pada Ibu kandungnya, "Terima kasih atas tawarannya, aku masih bisa menjaganya." Balas Agatha dingin.


"Apa salah Mami ingin mengantar dan menemani Cucu Mami?" Tanya Mami Niken, wajahnya mendadak kecewa.


"Takut merepotkan Mami." Tolak Agatha.


"Mami kan orang yang sibuk, banyak hal yang Mami kerjakan. Mengurus butik, mengurus suami dan di tambah mengurus cucu nanti jadi kewalahan."


"Bagaimana jika Butik Mami Ale yang kelola?"

__ADS_1


Agatha mematung mendengar permintaan Maminya.


"Le kau mau kan?" Tanya Mami Niken lagi.


Agatha menarik nafas sebelum ia memberikan keputusannya. "Maaf Mi Ale tidak bisa." Tolaknya lagi.


"Mi sudah malam, lebih baik kita tidur." Agatha ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Alhasil mereka tidur bertiga seranjang. Ukuran ranjangnya cukup luas dan mampu menampung untuk 3 orang.


Sebelum tidur Mami Niken mengirimkan pesan pada Suaminya jika dia menginap di rumah mantan suaminya.


Lampu utama sudah Agatha padamkan.


"Tidur yang nyenyak cucu Oma, Mimpi indah sayang." Ucap Mami Niken memberikan kecupan singkat di kepala Maura.


**


"Mau pilih undangan yang mana Le?" Tanya Mama Felicia meletakan beberapa undangan di atas meja.


"Em apa ngga sebaiknya nikah sederhana saja Tante, Ale kan sudah punya anak. Malu kalau nikahnya rame-rame." Agatha merasa sungkan.


Hari ini Kedua Orang Tua Chen datang berkunjung ke kediaman Lee. Mendengar putri Agatha sudah di temukan mereka langsung terbang ke Indonesia. Mereka juga berniat ingin mendiskusikan pernikahan putranya bersama Agatha.


"Iya ya jeng betul itu. Ayo pilih salah satu." Titah Mamah Felicia. Agatha Merasa enggan tapi harus memilih.


"Yang ini saja Tante." Ucapnya seraya menunjuk satu undangan yang menurutnya simpel dan tak terlihat mewah.


"Baikalah, Tante langsung pesankan ya."


"Mami udah ngga sabar melihatmu bersanding dengan Chen sayang." Wajah Mami Niken tampak berseri.


"Aku juga udah ngga sabar." Balas Mamah Felicia.


"Gedung tempat berlangsungnya acara juga sudah aku tentukan dan Catringnya juga sudah aku pesankan." Papi Samuel baru saja muncul langsung ikut bergabung dengan yang lain.


"Baiklah berarti sudah siap semua ya?" Tanya Papah Ming memastikan.


"Sepertinya sudah semua." Balas Mami Niken Mantap.

__ADS_1


"MUA sudah di booking?" Tanya Cia.


"Ah Iya itu, Mami akan hubungi orangnya." Mami Niken bangkit dari duduknya menjauh seraya mencari nomor ponsel Alena dan menghubunginya membooking riasannya untuk acara pernikahan putrinya.


"Kapan acaranya berlangsung?" Tanya Ayah Sean.


"Minggu depan." Balas Papah Ming.


"Terlalu lama." Papi Samuel merasa keberatan, Ia ingin secepatnya menikahkan putrinya agar Agatha dan Maura ada yang menjaganya.


"Ya ampun sam kau sudah tidak sabar punya menantu rupanya." Felicia terkekeh mendengar ucapan Samuel.


"Tiga hari lagi bagaimana?" Usul Chen ikut bergabung seraya memangku Maura.


"Nah iya Tiga hari lagi, Aku setuju." Timpal Papi Samuel.


"Tanyakan pada mempelai wanita maunya kapan. Ini malah pada diskusi sendiri." Cia yang gregeten mendengar perdebatan antar keluarga lekas menengaih.


"Bagaiman Le jika tiga hari lagi?" Tanya Mamah Felicia.


Agatha hanya mengangguk mengiyakan.


Seluruh keluarga tersenyum lega. Sedangkan perasaan Agatha seperti bimbang kembali. Padahal sebelumnya ia sudah mantap dengan keputusannya menerima lamaran Chen.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Jangan lupa Masukan ceritaku ke dalam cerita Favorit kalian ya ❤


Mampir juga ke Novel keduaku yang berjudul Pelangi Di Atas Senja

__ADS_1



__ADS_2