One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 20


__ADS_3

Pagi ini agatha sudah bersiap untuk mencari rumah kontrakan yang akan ia tempati. di perjalanan agatha melihat penjual lontong dan sate ayam ia langsung memesannya untuk mengisi perutnya yang belum terisi sejak bangun tidur. puji tuhan perutnya tak rewel ngidam makanan yang aneh-aneh mungkin anaknya tau jika agatha kini hanya sendiri. tanpa di sadari ia mengelus perutnya yang masih belum terlihat membucit. selesai sarapan dengan berjalan kaki ia menyusuri perkomplekan yang sederhana dengan membawa tas besar di tangannya, ia harus berhemat agar uang dalam tabungannya tak langsung habis untuk biaya hidupnya yang baru ia mulai.


"Maaf bu mau tanya apa ada rumah yang mau di kontrakan?" Tanya agatha menyapa wanita parubaya yang sedang menyapu halaman.


"Ada mba rumahnya pak RT tapi rumahnya masuk gang mba." jawabnya dengan logat jawa.


"Saya agatha bu, bisa antar saya ke rumah yang punya kontrakan?"


"Bisa mba, mari saya antar." ucap bu anisa menyandarkan sapu ke tembok rumahnya.


"Saya bu maryam panggil saja bu mar, mba bukan asli orang sini ya?" tanya bu mar menatap agatha dari atas sampai bawah di tengah-tengah perjalanan menuju rumah pak RT.


"Iya bu saya dari Jakarta."


"Pantes logat bicaranya seperti bukan orang sini."


"Kita sudah sampai mba, ini rumahnya." bu mar menghentikan langkahnya di depan rumah pak RT yang berhalaman cukup luas.


"Terima kasih bu mar." ucap agatha menunduk.


*


Agatha kini sedang melihat lihat kondisi rumah yang akan di kontraknya bersama pemilik rumah kontrakan pak woro namanya, rumahnya memang tak terlalu luas ya cukup untuk dirinya tinggali hanya ada ruang tamu, 2 kamar kecil, dapur dan kamar mandi. ia merasa cocok dengan tempatnya tapi harga sewanya ia sendiri belum di beritahu oleh pemilik kontrakan. mudah-mudahan ia bisa membayarnya tiap bulan.


"Jadi berapa uang sewanya pak?" tanya agatha antusias setelah puas berkeliling.


"1.200.000 mba, bagaimana mba?" pak woro menjawab sambil menyalakan sebatang rokok di tangannya.

__ADS_1


"Apa ngga bisa diturunin pak jadi 1 juta." ujar agatha mengajaknya bernego.


"Belum boleh neng, kalau 1 juta itu baru buat sewa tempatnya saja belum sama bayar listrik sama airnya." ucap pak RT seraya terkekeh.


"Apa pas malem mba mau pakai lilin terus mandinya di sungai." ujar pak woro lagi.


Agatha hanya tersenyum menanggapi lelucon dari pemilik kontrakan. agatha pikir pemilik kontrakan orangnya galak tapi ternyata orangnya tak seseram wajahnya terdengar dari nada bicaranya orangnya suka bercanda.


Setelah terdengar kata sepakat diantara mereka dan penyerahan uang sewa agatha sudah mulai mengotrak hari ini. tas yang berisikan baju ia letakan di lantai ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas kasur yang tergeletak di lantai. ya kini ia sungguh hidup apa adanya kasur yang dulu ia tempati sangat nyaman terasa empuk berbeda dengan yang kini ia tiduri lumayan keras. tapi ia bersyukur kini sudah mendapatkan tempat untuk berteduh. ia memijit kakinya yang terasa linu, setelah hamil tubuhnya mudah sekali lelah.


*


Juli manyandarkan kepalanya di sofa di ruang kerjanya. ia memijit pelipisnya yang kini terasa berdenyut. bahkan ia tak berkonsentrasi dalam pekerjaannya hari ini. berkas yang sudah menggunung di atas meja ia abaikan. sudah beberapa hari ini jam tidurnya menjadi tak beraturan di malam hari dan selalu bolos dari kampus hanya untuk mencari agatha. ia tak yakin dengan ucapan diana waktu ia berkunjung ke coffee milik ken.


Flashback on


"Iya ken bahkan aku menguntit jenny sampai ke rumahnya setiap hari namun hasilnya sama agatha tak bersamanya." jawab juli dengan wajah sendu.


"Mungkin agatha kini tinggal bersama kekasihnya." timpal diana yang muncul dari luar coffee menghampiri juli dan ken.


"Kekasih?" tanya juli menautkan kedua alisnya.


"IYA KEKASIH AGATHA, APA PERKATAANKU KURANG JELAS?" ujar diana meninggikan suaranya.


"Astaga ana kau bisa membuat kami tuli jika kau teriak-teriak seperti itu, telinga kami masih waras dan tolong rendahkan suaramu kau bisa membuat para pelanggan kabur." sergah ken galak.


Diana mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. memperlihatkan foto agatha yang sedang berpegangan tangan namun tak terlihat bagitu mesra.

__ADS_1


"Kau dapat dari mana foto ini?" tanya ken menatap adiknya dengan sorot mata tajam.


"Ini pasti foto editan." ucap ken lagi masih mengamati foto yang di perlihatkan adiknya.


"Ck, tentu saja bukan editan ini asli aku mengambilnya pada saat acara perpisahan di sekolah waktu itu." diana berdecak kesal mendengar tuduhan kakaknya.


Juli terdiam mencerna apa yang di katakan diana barusan. juli jadi menerka-nerka apa mungkin agatha memutuskan berpisah karena laki-laki ini.


"Kulihat pria yang sedang dekat dengan agatha pria dewasa. ternyata selera agatha kini pria dewasa." ujar diana memanas-manasi juli.


Diana tersenyum menyeringai tak sia-sia sepertinya diana membuat karangan palsu, nyatanya ia berhasil membuat juli cemburu dan marah. ia berharap juli nantinya akan berpaling padanya dan membenci agatha.


Api cemburu dalam hatinya kini berkobar. dada yang biasa bernafas lega kini mendadak terasa sesak. jantungnya juga seperti berhenti bekerja. keinginan untuk hidup bersama kini sirna sudah tak ada lagi harapan.


Flashback Off


Apa mungkin ini saatnya ia harus melupakan agatha, melepaskannya bersama pria lain dan mengubur harapannya untuk hidup bersama hingga tua nanti.


bersambung. . .


biasakan setelah membaca meninggalkan jejak dengan memberikan


Like


Comen


Vote

__ADS_1


__ADS_2