
Beberapa menit Freya merasa kepanasan, ia yakin jika itu memang karena dirinya yang memakan makanan pedas yang berlebih.
“Kenapa panas?” tanya Freya menatap ke arah George.
Beberapa kali Freya meletakan telapak tangan George yang terasa dingin di pipinya, karena dengan hal itu akan membuatnya nyaman saat bersentuhan dengan laki-laki itu.
“Ada apa? apa memang sepanas itu?” tanya George yang kini mulai merasa khawatir.
George langsung menatap ke arah Greta, ia yakin jika ini adalah perbuatan dari wanita itu. Entah apa yang akan Greta lakukan tadi, yang jelas Freya yang terkena jebakan itu.
“Ge ... George..., ini benar-benar sangat panas. Bi-bisakah kita ke luar? aku tidak tahu jika akan merasakan panas yang seperti ini hanya karena makanan tadi terlalu pedas,” kata Freya dengan tatapannya yang terlihat memohon.
George meletakan telapak tangannya di dahi Freya yang sepertinya merasa kepanasan dan tidak nyaman. Wanita yang terlihat tenang itu, bahkan terlihat mati-matian menahan panas.
“Apa yang Anda berikan pada calon istri saya?” tanya George dengan nada yang kini terdengar tak suka. Ia tak tahu Freya akan setuju atau tidak jika George akan meminta wanita itu menikah dengannya, yang jelas hanya Freya yang George inginkan.
“Sa-saya tidak tahu,” jawab Greta.
Tatapan mata Samoni kini menatap ke arah Greta tajam, Greta tahu jika Samoni kini merasa marah padanya saat tahu niat wanita itu.
“Rendahan!” marah Samoni.
George yang tidak mempedulikan itu lagi, ia langsung membawa Freya yang kini terlihat lemas dan terlihat tidak bertenaga.
“Bertahanlah,” kata George meminta Freya untuk bertahan sebentar lagi.
“Tuan ada apa?” tanya Donald yang diikuti oleh Fina yang juga merasa khawatir saat Freya terlihat lemas tak bertenaga.
“Pa ...nas ... Fina tolong ambilkan air,” kata Freya dengan nada melengguh karena kepanasan.
“Saya tahu hotel untuk menginap yang paling dekat di sini. Akan saya tunjukan,” kata Fina yang langsung saja mendapat tatapan tidak suka dari George.
“Tuan, bagaimanapun saya paling mengerti akan masalah ini. Sudah sering sekali orang-orang akan membuat rencana seperti ini. Yang diberikan pada Freya saat ini adalah obat perangsang. Saya yakin pengaruh obat itu benar-benar sangat kuat, bahkan Freya yang saya kenal kuat saja sampai seperti ini.”
__ADS_1
*****
Setelah mereka berada di hotel terdekat.
George langsung memanggil dokter pribadi keluarganya yang merupakan seorang wanita. Itu sebenarnya adalah dokter dari nenek George yang telah meninggal.
Sementara Freya yang kini sedang di periksa. George langsung menemui Donald yang berada di luar bersama dengan Fina.
“Kamu masuk terlebih dahulu,” kata George yang langsung diangguki oleh Fina.
Melihat Fina telah berjalan masuk, George langsung menatap ke arah Donald. “Apa yang terjadi?” tanya George.
“Tuan, sepertinya Nona Freya akan di jebak untuk tidur dengan seseorang. Dari yang saya dapat, jika tuan Sam ingin tidur dengan Nona Freya hingga membuat Anda marah. Tapi, saya juga mendengar jika rencana dirubah karena Nona Greta ingin Nona Freya terlihat rendahan di mata Tuan Sam,” jelas Donald yang bisa mendapat informasi kurang dari satu hari.
“Lalu kedatangan aku membuat rencana wanita itu berubah lagi bukan?” tatapan George kini terlihat tajam.
George tidak mentolerir kesalahan orang-orang yang berani mengusik wanita miliknya. Apalagi George tahu jika wanita itulah yang menjadi penyebab kejadian 3 tahun lalu.
Kejadian dimana Freya menghilang dan mengalami lupa ingatan hingga tak mengingat siapapun.
George berniat masuk untuk melihat keadaan Freya saat ini. Tapi di saat itu ia bisa melihat dengan jelas jika kini Freya terlihat masih kepanasan.
“Kenapa? kenapa tidak ada perubahan sama sekali?” tanya George dengan tatapan matanya yang kini jelas terlihat khawatir.
“Maaf Tuan, obat perangsang itu diberikan dengan jumlah tinggi, cara satu-satunya adalah dengan dia tidur bersama laki-laki,” kata dokter itu.
Sepertinya Greta sangat membenci Freya, hingga ia memberikan obat perangsang itu dalam dosis yang sangat tinggi. Bahkan saking bencinya wanita itu, ia sampai memberikan dosis yang paling kuat.
“Keluarlah,” kata George.
Fina yang melihat jika Freya tidak ada perubahan sama sekali. Ia merasa bingung, apa yang harusnya dirinya lakukan saat ini?
“Saya akan keluar,” kata Fina dengan nada lemahnya.
__ADS_1
Sepertinya tidak ada pilihan lain selain mereka harus melakukan hal itu, jikapun Freya akan membenci Fina karena Fina tidak bisa berbuat apapun, Fina akan patuh dan menerima itu.
“Apa memang begitu panas?” tanya George yang kini langsung menatap ke arah Freya dengan tatapan mata yang terlihat gelisah.
Siapapun laki-laki yang kini ada di tempat yang sama dengan freya saat ini, mereka pasti akan merasa gila. Bagaimana tidak, wanita itu hampir mengenakan setengah pakaiannya itu.
Freya baru saja dimandikan oleh dokter dengan air yang benar-benar sangat dingin. Tapi karena sudah beberapa menit berlalu dan tidak ada perubahan, dokter khawatir jika Freya akan sakit dan masuk angin. Belum lagi kini keadaan Freya yang lemah akan makanan pedas.
“Maaf,” kata George yang meraba wajah Freya yang kini benar-benar terlihat seperti seorang wanita yang berbeda.
Meskipun kepanasan dan tak nyaman, Freya berusaha mati-matian untuk tidak lepas kendali. Wanita itu juga terlihat tidak terlalu gelisah saat George mengusapkan tangannya di pipi wanita itu.
“A-apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Freya dengan mengertak gigi gerahamnya dengan kuat, ia yakin jika kondisi tubuhnya ada yang berbeda.
“Benci saja aku, aku tidak peduli!” kata George yang pada akhirnya memutuskan untuk menghabiskan malam dengan Freya.
Sekalipun wanita itu mati-matian berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpengaruh. Pada akhirnya ia menjadi lemah saat bibir George menempe pada bibirnya yang mungil.
“Maaf,” kata George yang merasa mengambil keuntungan dalam kesialan Freya.
Entah kenapa, George yang tidak ahli dalam bercinta, ia seakan ahli dalam berciuman. Padahal ini yang ia lakukan pertama kali.
“Apa memang berciuman semanis ini?” tanya George yang merasa jika bibir Freya terasa meleleh di mulutnya.
George tidak tahu bagaimana memulai itu, tapi ia terus saja bergerak dengan menggunakan insting miliknya itu.
“Ma-maf,” kata George dengan kalimat yang tertahan.
“Sa-sakit, bisakah berhenti?” mohon Freya yang kini menatap George dari bawah. Laki-laki itu jelas sedang memimpin.
Siapapun yang menjadi George akan berfikir jika tidak mungkin ia akan berhenti, dan sama seperti George yang merasa tidak akan bisa mengontrol dirinya lagi.
“Maaf,” kata dengan disertai hembusan nafas dingin itu mulai keluar dari mulut George yang wajahnya terlihat di penuhi keringat.
__ADS_1
Setelahnya, apa yang terjadi sudah bisa di tebak.