
Freya saat ini sedang berada di sebuah restoran. Ia tidak menyangka jika dirinya akan makan bersama dengan George. Mungkin terdengar seperti sebuah acara makan biasa, tapi kini mereka hanya makan berdua tanpa ada Donald.
Donald, laki-laki itu sedang menunggu di di luar ruangan itu. Hingga yang ada di tempat itu hanya mereka berdua.
Meskipun sejak acara makan itu telah di mulai, tak ada percakapan ataupun bentuk ramah tamah dari George, tapi Freya tidak peduli. Ia kini hanya diam dan memakan makanannya seperti biasa.
“Bagaimana makanannya?” pertanyaan George sedikit membuat Freya merasa terkejut dan tak menyangka.
“Lumayan,” jawab Freya.
Freya yang tidak pandai memasak ataupun menilai makanan, apa yang bisa ia makan akan ia makan, tidak peduli itu enak atau tidak, yang terpenting baginya ia akan merasa kenyang.
Itulah pengalaman hidupnya saat bertahan hidup di tengah latihan keras yang ayahnya berikan untuknya saat itu.
“Apa ada yang terasa kurang?” pertanyaan George dengan nada datar dan seolah tak peduli. Jelas, itu hanya nada suaranya saja yang tak peduli, sangat berbeda dengan sikapnya yang peduli.
“Tidak ada, itu cukup mengenyangkan. Tidak ada yang perlu untuk dirubah lagi.” Penjelasan Freya diangguki oleh George.
Entah apa yang sedang direncanakan oleh laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. Freya tak tahu dan tak bisa untuk menebaknya. Laki-laki itu seakan bisa bersikap seenaknya sesuai apa yang ia mau.
“Saya ke toilet dulu,” pamit Freya yang hendak melangkah.
“Tidak perlu berbicara formal, kita bukanlah orang asing yang hanya bertemu sekali.” Entah apa yang dimaksud oleh George, Freya hanya mengangguk.
...----------------...
Saat Freya di toilet.
Freya merapikan baju yang ia kenakan, mungkin dulu ia tidak terlalu peduli pada penampilan. Tapi saat ini ia peduli dengan penampilan, itu karena sejak tiga tahun yang lalu, ayahnya mengajarkan dirinya untuk selalu bersikap layaknya ia seorang wanita terpandang.
Usia Freya kini sudah menginjak 23 tahun, ia yang masih sangat muda, tapi ia sudah belajar banyak hal yang seharusnya keterampilan itu dimiliki oleh seorang laki-laki.
“Kenapa tidak bisa dibuka?” tanya Freya berusaha membuka pintu yang entah kenapa tiba-tiba saja terkunci.
Ting
Sebuah pesan masuk.
__ADS_1
“***Apakah baik-baik saja di dalam kamar mandi?”
“Kamu pasti merasa kedinginan bukan?”
“Bagaimana jika aku buat kamu seharian di kamar mandi***?”
Pesan-pesan yang bermunculan di ponsel Freya, tanpa tahu siapa pengirimnya itu, Freya sudah bisa menebak jika pesan itu dikirim langsung oleh Helena.
“Jadi? apa kamu berniat untuk mengurungku di toilet?”
Setelah pesan balasan itu terkirim, Freya hanya diam menatap pintu yang terkunci. Apa Helena berfikir jika ia akan takut hanya dengan sebuah ancaman ini?
Apakah Helena berfikir jika hidup Freya tak pernah dalam bahaya? atau apakah ia tidak tahu jika Freya sangat mudah menghadapi situasi seperti ini?
Freya bisa saja mendobrak dan menghancurkan pintu itu jika ia mau, tapi ia tidak ingin jika harus membuat keributan. Jadi, Freya memilih untuk menghubungi George, lebih tepatnya Freya akan meminta bantuan pada Donald agar datang.
“Kekanak-kanakan sekali! sepertinya hidupnya itu terlalu indah hingga bisa bermain seperti ini!” Freya menatap pintu toilet dengan tatapan menerawang jauh.
Tak lama, pintu terbuka.
Orang pertama yang Freya lihat itu adalah George, sekilas George menunjukkan raut wajahnya yang terlihat berbeda dari biasanya. Tapi begitu menatap mata Freya langsung. Wajah George kembali datar tak tersentuh.
Freya tak menyangka jika George akan ikut ke toilet umum ini. Freya berfikir jika hanya akan ada Donald yang datang. Tapi, ia tidak menyangka jika George akan ikut datang.
“Tuan tidak bisa melemparkan tanggungjawab begitu saja nona. Bagaimanapun Anda datang bersama tuan, jadi sudah seharusnya jika Tuan menjamin keselamatan Anda.” Donald mengerti dengan tatapan mata Freya langsung mencoba menjelaskan.
Freya yang mendengar itu hanya mengangguk, ia paham akan itu. Tidak mungkin tuan George yang terhormat hanya membiarkan orangnya diperlakukan tidak hormat.
“Selidiki siapa yang mengunci pintu ini, bawa dan urus orang itu dengan baik!” perintah dari George langsung saja diangguki oleh Donald.
...----------------...
Sementara itu.
Helena berkali-kali memaki Shasa, ia yang gagal untuk mengerjai Freya merasa kesal. “Bagaimana bisa dia mendapatkan foto itu?” kesal Helena.
Helena tak menyangka jika Freya mendapatkan foto perselingkuhannya dengan Riko, adik tiri George. Helena diam-diam berselingkuh karena awalnya ia merasa kesepian dengan kesibukan George. Apalagi, adiknya George itu dengan gigih mengejar dirinya.
__ADS_1
“Sa-saya tidak tahu nyonya, sepertinya ia memiliki seseorang yang membantunya untuk menyadap ponsel Anda.”
“Jadi orang itu menyadap ponselku? kenapa dia bisa mendapatkan foto-foto itu sedangkan aku saja sudah menghapusnya!”
“Anda adalah orang-orang yang hanya akan berurusan dengan beberapa orang penting saja. Mungkin, mereka juga menyadap ponsel orang-orang yang berhubungan dengan Anda.”
Ada tatapan tak menyangka di wajah Shasa saat ini, ia tak menyangka bisa melihat foto dimana Helena sedang tidur bersama dengan adik tiri George, Riko. Padahal Shasa tahu jika Riko itu adalah adik dari tuan George.
“Jangan menatapku seperti itu! cukup kerjakan saja tugas kamu itu dengan baik! aku ingin kamu mendapat informasi tentang siapa orang yang membantu Freya.”
Helena tak menyangka jika ada orang kuat yang membantu Freya. Ia pikir jika Freya tak memiliki hal yang bisa ia banggakan untuk bersaing dengannya.
“Baik nona,” Shasa segera melihat komputernya itu. Ia langsung fokus pada apa yang harus ia lakukan.
Ting
“Tunggu kejutan selanjutnya,” sebuah pesan yang tiba-tiba saja terkirim, Helena yakin jika itu adalah nomor Freya.
“Dasar sangat memuakkan! sebelum kamu berhasil dengan rencana yang akan kamu buat, aku harus lebih dulu membuat kamu menjauh dari George! dia milikku!” Tatapan tajam itu terlihat.
“Karena hanya Helena seorang yang paling pantas bersanding dengan tuan George yang terhormat.”
......................
“Apa sangat menyenangkan menatap ponsel?” tanya George dengan nada dingin dan acuhnya.
Freya yang awalnya tersenyum saat menatap ponselnya, itu tidak lain karena Freya berhasil menggertak Helena.
Walau tidak ada niat bagi Freya untuk menyebarkan foto itu, karena sebenarnya ia masih tidak percaya dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Helena.
Pantas saja laki-laki itu seolah jijik menatap wanita yang menjadi tunangannya. Ternyata karena wanita itu memang tak tahu malu dan tidak tahu batas.
“Tidak ada hal yang penting. Saya hanya sedang berkirim pesan dengan adik laki-laki saya yang berkuliah saat ini,” jelas Freya yang mendapat tatapan tak percaya dari George.
“Hubungan kalian tidak sedekat itu!”
Mendengar yang George katakan, Freya bungkam, bagaimana George bisa tahu jika ia memang tidak terlalu dekat dengan adiknya selama ini.
__ADS_1
“Tapi akhir-akhir ini kami menjadi dekat.”