
Keesokan harinya.
Freya yang berniat membeli pakaian untuk dirinya ke pesta ulangtahun anak dari teman Madam Amilia yang masih muda. Karena yang ulang tahun itu adalah anak bungsu dari seorang model ternama di negara Z.
“Freya, kamu ada di sini?” tanya Athaya tidak sengaja bertemu dengan Freya. Padahal ia akan berniat menjual obat penawar pada salah satu orang yang tidak sengaja terkena racun racikannya.
“Ya kamu ...?” Freya tak mengetahui nama Athaya, saat itu yang ia ingat hanya Fina karena sikapnya wanita itu yang banyak bicara.
“Athaya, aku Athaya. Untuk apa kamu ke sini?” tanya Athaya penasaran. Ia melihat jika kini Freya masih saja bersama dengan Shan.
Tatapan Shan terlihat jelas jika ia tidak menyukai akan kehadiran Athaya saat ini. Saking jelasnya rasa tidak suka Shan, Freya bahkan sadar akan hal itu.
Tanpa berkata sepatah katapun, Athaya tiba-tiba saja memberinya selembar kertas yang Freya dan Shan tak tahu itu isinya apa.
“Buka saja nanti, jangan di sini. Ingat! aku hanya ingin kamu buka tanpa ada siapapun saat kamu membukanya nanti,” ujar Athaya yang langsung pergi begitu saja.
Malam pesta pun akhirnya tiba.
Freya datang ke acara itu bersama dengan Shan yang senantiasa akan mengawalnya. Madam Amilia yang biasanya akan ikut ke acara apapun, apalagi jika itu berhubungan dengan orang dekatnya, biasanya akan datang. Hanya saja kini Madam Amilia sedikit sibuk hingga ia akan datang sedikit telat.
“Oh ya ampun ..., aku kira pujian dari orang-orang tentang kamu hanya hal yang dilebih-lebihkan saja. Ternyata kamu memang secantik yang orang-orang katakan,” ujar Diana.
Sang tokoh utama acara itu.
Diana adalah anak yang supel dan mudah bergaul, ia ramah dan juga tidak sungkan untuk berbicara ataupun bercerita dengan siapapun. Sifatnya itulah menjadikan ia sangat populer.
“Iya terima kasih, kamu jauh lebih cantik.”
“Hahaha, ya ampun ..., kamu bisa saja. Padahal tanpa harus memuji berlebihan begitu aku juga sudah merasa sangat senang. Tapi kamu benar-benar cantik, dan jauh lebih cantik dariku,” ujar Diana sedikit sungkan.
Saat ada orang yang jauh lebih cantik dari kamu, tapi justru orang itu mengatakan jika kamu jauh lebih cantik darinya, apa yang akan kamu lakukan? tentu pasti akan merasa sungkan bukan?
__ADS_1
Tapi Freya memang memuji Diana sesuai dengan apa yang menurutnya cantik. Bukankah standar setiap wanita itu berbeda-beda?
Jika bagi-bagi kebanyakan orang standar kecantikan identitas dengan wajah anggun, dewasa, feminim, dan cantik. Bentuk wajah yang hampir sempurna dengan hidung yang lancip, mungkin itu yang kebanyakan orang pikiran. Bagi Freya, Diana sudah termasuk ke dalam standar kecantikannya.
Mungkin dia tidak secantik kebanyakan, tapi ia imut dan manis saat tersenyum. Pipinya sedikit cabi dengan mata bulatnya yang membuatnya terlihat layaknya ia masih anak-anak.
“Aku yakin siapapun yang akan menjadi kekasih kamu, mereka pasti tidak akan pernah tega untuk menyakiti kamu, apalagi berselingkuh,” kata Freya menatap ke arah Diana.
“Terima kasih atas doa dan pujiannya. Sayangnya aku selalu tidak beruntung dalam hal percintaan, mantanku kebanyakan berselingkuh dan putus denganku,” jawab Diana dengan senyum tulus dan nada candaan. Freya yakin ada kesedihan dalam kata itu yang tak ingin untuk ditunjukkan pada siapapun.
Di saat Freya hendak berkata-kata lagi, tiba-tiba suara riuh mulai terdengar dan bersahutan dari luar hingga ke dalam. Acara yang harusnya akan ramai cukup saat Si tuan acara datang. Justru karena kehadiran laki-laki itu mendadak ramai dan sunyi secara bersamaan.
“Tuan George,” kata Diana tak percaya.
Diana sangat mengagumi seorang George, ia sampai tak sadar langsung mendekat ke arah laki-laki itu untuk menyapanya.
“Tuan Anda datang?” tanya Diana dengan disertai nada yang tak percayanya.
“Ah tidak! bagaimana mungkin kami tidak senang akan kedatangan Anda. Kami benar-benar merasa senang dan akan menyambut Anda dengan senang hati.”
George yang mendengar itu mengabaikan itu, ia lalu berjalan ke arah Freya yang terlihat cantik dengan gaun berwarna hijau muda.
“Kamu sangat cantik dengan gaun hijau muda itu, seperti ratu kodok,” ujar George membuat suasana menjadi hening saat itu juga.
Putri kodok yang ada dipikiran George kini itu, tak lain karena warna kodok yang ia temui berwarna seperti gaun hijau yang Freya pakai.
Pujian yang baru pertama kali George ucapkan pada seseorang. Malah membuat Freya yang mendengarnya merasa tersinggung.
“Putri kodok? apa maksudnya itu?”
“Gaun hijau ini sangat cantik, kamu seperti Putri kodok saat memakainya,” ujar George dengan wajahnya yang terlihat serius.
__ADS_1
“Jadi saya terlihat jelek?”
Orang-orang yang dari tadi hanya akan terdiam, mereka semakin hening dengan apa yang Freya katakan. Baru pertama kalin mereka lihat seorang George berinsiatif untuk berbicara langsung pada seseorang. Tapi entah ada masalah apa antara mereka berdua, orang-orang yang ada di sana kini malah berfikir jika George bukan sedang memuji seseorang.
Melainkan ia sedang menyinggung seseorang.
“Siapa yang berani mengatakan kamu jelek?” ada raut wajah tidak suka untuk sekilas saat George berfikir ada yang menjelek-jelekkan Freya.
“Anda sendiri yang mengatakan saya jelek! memang siapa lagi kalau bukan Anda!” kesal Freya dengan nada kesalnya. Freya tidak peduli akan ada berita apa nanti besok. Ia hanya akan mengungkapkan kekesalan yang ia rasakan atas ucapan George itu.
“Sejak kapan aku mengatakan kamu jelek?”
Donald yang paham situsi memilih mendekati George. Tuannya yang tidak pernah memuji siapapun dan terasa kaku, kini untuk pertama kalinya ia berniat untuk memuji seseorang, sayangnya pujian itu malah terdengar seperti ejekan.
“Warna merah di kalung kamu juga lucu seperti cabai, lalu rambut ungu kamu terlihat pas di atas kepala kamu seolah kamu seperti terong,” entah apa yang di bisikan oleh Donald, George seolah masih ingin terus memuji Freya.
Donald yang sadar jika ia tidak bisa untuk berbuat sesuatu lagi. Ia akhirnya hanya diam dan melihat reaksinya Freya pada akhirnya.
“Dasar laki-laki brengsek!”
Freya tidak menyangka jika akan mendapat sebuah penghinaan seperti hari ini. Ia yang memang sangat menyukai warna merah yang identik dengan darah, malah dianggap cabai seolah identik dengan hal yang tidak benar
Cabe-cabean.
Dan rambut ungunya, Freya hanya mengikuti saran dari salah satu teman obrolnya saat itu. Walau Freya tidak tahu jika saran itu yang sebenarnya sangat menyesatkan dirinya. Tapi pada akhirnya apapun yang Freya pakai itu tetap terlihat pas dan cocok.
Melihat kepergian Freya dengan nada kesalnya itu, otomatis George menatap ke arah Donald yang tak mengatakan apapun.
####
Apa kayak gini ya yang dimaksud pujian mematikan?🤭
__ADS_1
Next time bakal bikin scene yang seru.