
Berbeda sekali dengan suasana rumah Yoshua yang sedikit berisik dengan pertengkaran. Kini di rumah keluarga Garlfried, atau lebih tepatnya keluarga Freya.
Suasana rumah yang mirip sebuah mansion itu, kini terlihat sangat tenang dan santai. Padahal anak mereka sudah hilang selama lebih dari seminggu, dan mungkin jika dihitung hampir 12 hari Freya menghilang. Seolah tak ada yang berubah, keluarga itu pun malah berbicara dengan santai saat makan malam bersama.
“Apa Yoshua sudah pulang hari ini?” tanya Camilla yang langsung diangguki oleh Greta.
“Iya Bu, Kak Yoshua sudah pulang saat Greta meminta dia untuk segera pulang,” jelas Greta dengan nada yang terdengar senang.
“Baguslah kalau begitu, setidaknya kamu tidak akan terus marah karena laki-laki yang kamu cintai itu tidak terus mencari wanita itu bukan?” seolah menganggap jika Greta itu adalah anak kesayangannya, Camilla bahkan seakan lebih sayang pada Greta dibandingkan dengan Freya.
“Bu, Ibu tahu 'kan jika sejak awal aku sangat menyukai Kak Yoshua, jadi tidak ada salahnya bukan kalau hari ini aku akan berjuang untuk mendapatkan dirinya?”
“Tentu, kamu berhak untuk mendapatkannya jika kamu menginginkannya,” kata Camilla tanpa peduli dengan perasaan Freya.
Jika melihat sikap Camilla yang sangat menyayangi dirinya, kadang Greta berfikir jika mungkin Freya adalah orang luar, sedangkan dirinya adalah anak kandung dari keluarga Garlfried.
Entahlah, Greta pun tak yakin dengan pemikirannya saat ini.
Dan jika Freya adalah orang luar, Greta tidak tahu alasannya dengan jelas, mengapa Ayah dan Ibunya mau merawat orang luar? ada rasa tidak percaya dan tak yakin jika Freya adalah orang luar, karena Greta yakin mereka tidak akan memperlakukan Freya dengan cukup baik selama ini.
Meski Freya tak mendapatkan kasih sayang dan hidup terkekang dengan pelatihan tanpa bisa ia tolak, Greta jelas tahu sifat ayahnya yang tak akan mau mengeluarkan uang untuk orang lain yang tidak ada hubungannya dengan keluarga mereka.
...****************...
Freya yang sudah merasa sangat bosan, akhirnya ia mendapat kabar jika laki-laki yang ia cari selama ini sudah datang. Laki-laki yang tak ia ingat dengan jelas namanya. Padahal Freya sempat mendengar nama laki-laki itu.
“Nona, tuan George ingin menemui Anda,” kata Rea memberita tahu.
“Menemuiku hari ini? apa tuan yang itu ada di sini?” karena tidak tahu namanya, Freya kesulitan untuk bertanya dengan jelas, harus 'kah ia mengatakan jika laki-laki itu adalah laki-laki yang hampir saja akan ia bunuh?
Tidak mungkin 'kan? Freya tidak mungkin membuat takut pelayan kecil itu, apalagi Freya seolah bisa memahami jika hati pelayan itu sangat lembut.
__ADS_1
“Mari akan saya antar,” tanpa berkata lagi, Freya lalu mengikuti ke arah mana Rea berjalan.
Sebuah ruangan dengan dilengkapi fasilitas super canggih yang baru Freya lihat. Rasanya alat-alat canggih itu lebih mahal dibandingkan kastil mewah sekalipun.
Berbeda dari desain mansion yang hampir keseluruhan di dominasi warna emas, justru ruangannya kini berada, terkesan tak menyatu karena warna dan desainnya yang benar-benar berbeda.
“Unik dan menarik,” kata Freya tanpa sadar saat ia mengomentari apa yang ia lihat kini.
Mendengar itu, Rea lalu tersenyum dengan tatapan yang menganggap jika Freya itu lucu saat ini.
“Nona Anda bisa tunggu sebentar, tuan sebentar lagi akan datang. Sepertinya hari ini Tuan ada urusan yang mendesak yang harus beliau urus,” kata Rea yang dijawab dengan anggukan.
......................
Melihat jika George datang dengan Donald, Rea yang melihat itu langsung pamit karena merasa ia sudah tak dibutuhkan lagi di sana.
Tatapan mata laki-laki itu tidak berubah, selalu saja menunjukkan kesan tak tersentuh. Apalagi dengan bola matanya yang hitam pekat, seakan membuat Freya tak mampu untuk terus menatap mata itu.
“Tuan, biar saya yang akan menjelaskan,” tahu jika tuannya hanya diam seolah tidak akan berbicara, Donald mengambil langkah awal.
“Tuan ingin mengajukan sebuah perjanjian sebagai syarat jika Anda ingin pergi dari tempat ini,” kata Donald menjelaskan.
Tak lama, Donald lalu menjelaskan apa yang ia bawa, sebuah dokumen perjanjian.
“ Di sini tertera jelas jika nona Freya akan menjadi pasangan dari tuan George untuk sementara waktu, dalam hal artian, selama ada acara penting yang akan tuan George hadiri. nona Freya akan menjadi pasangan dari tuan George, atau lebih tepatnya partner bagi tuan George,” jelas Donald.
“Apa ada yang kurang paham dari apa yang saya jelaskan tadi?” tanya Donald dengan sikap sopan miliknya.
“Tidak ada! hanya saja, kenapa saya diharuskan melakukan itu? bukankah sudah seharusnya kalian membebaskan saya dari sini?” Freya yang tidak sadar akan kesalahan yang ia lakukan, ia bahkan masih tidak menyadari jika kini dirinya tidak ada kesempatan untuk memilih.
Tapi, sikapnya itu adalah pendiriannya. Ia memiliki pendirian yang kuat dan sangat keras kepala.
__ADS_1
“Di wilayah milikku, siapapun yang masuk ke sini, otomatis akan menjadi milikku! siapapun itu!” kata George yang terdengar datar dan tajam.
Mendengar itu, seakan mengingatkan Freya jika ia kini telah menjadi seorang tawanan. Freya tidak ada pilihan untuk bisa menolak itu semua, karena ia telah gagal dalam membunuh orang itu.
Bagi George, tidak ada yang bisa untuk masuk ke wilayahnya tanpa seizin darinya. Dan hotel yang waktu itu juga adalah salah satu hotel miliknya, maka tidak heran jika ruangannya jauh berbeda dari ruangan lainnya.
“Atas dasar apa saya menjadi milik Anda? saya adalah milik saya sendiri!” kata Freya memang keras kepala dan tegas.
Meski tahu bisa saja ia akan mati ataupun dihukum jika terus melawan, tapi Freya tak peduli. Mentalnya sejak kecil sudah diuji dengan kuat, jadi kematian adalah hal yang tidak ia takutkan lagi.
Karena kini, Freya juga seolah ingin menghapus rasa takutnya saat ia kecil dulu. Walau sebenarnya ia juga sangat menganggap penting sebuah nyawa, apalagi jika hal itu adalah nyawanya sendiri.
“Milik kamu sendiri? apa kamu memiliki pilihan saat ini?” kata tajam itu seakan berhasil membuat Freya tersinggung.
“Jika saya tidak memiliki pilihan, maka saya akan melawan!” tegas Freya tak kalah sinis.
Menyadari jika kedua orang yang ada dihadapannya sama-sama keras kepala dan dominan, Donald pun akhirnya mengambil langkah kembali.
“Nona, mohon kerja samanya. Anda tahu jelas jika Anda tidak kini tidak memiliki pilihan lain. Saya tahu jika Anda ingin segera keluar dari tempat ini, jadi sebaiknya Anda mau bekerja sama,” jelas Donald yang membuat Freya bungkam dan tak berkata-kata.
Mendengar hal itu, entah mengapa langsung menyadarkan Freya jika ia kini tidak memiliki pilihan selain menerima syarat itu. Lagipula itu bukanlah syarat yang sulit, hanya menemani George dan menjadi partnernya saja 'kan?
Freya yakin bisa jika hanya itu tugasnya.
“Baik, tapi saya ingin pulang sekarang, karena saya akan menerima syarat itu. Kapanpun saya akan dibutuhkan, Anda bisa menghubungi saya,” kata Freya pada akhirnya telah mengambil keputusan.
“Anda sangat bijak,” puji Donald yang memuji akan keputusan Freya yang tidak keras kepala.
Entah apa alasan tuannya ingin menjadikan Freya sebagai partnernya. Donald tak berani bertanya, ia tidak berani menebak-nebak itu semua.
Donald hanya akan mengangguk dan mengikuti semua perintah George. Ia tidak akan bertanya ataupun perlu alasan untuk perintah dari tuannya.
__ADS_1