Pembalasan Dendam Si Cantik

Pembalasan Dendam Si Cantik
George yang selalu ada


__ADS_3

Sejak kejadian itu.


Freya sibuk di perusahaan Garlfried.


Freya memfokuskan dirinya pada perusahaan yang diwariskan kakeknya untuknya. Hingga Freya yang tidak mampu mengurus perusahaan Farh yang di berikan George untuknya. Membuat Freya berfikir mengembalikan perusahaan itu padanya.


“Freya, aku bukanlah seseorang yang akan mengambil kembali apa yang telah aku beri. Apa kamu pikir aku adalah orang tak tahu diri seperti itu?”


George tidak peduli apa alasan Freya menemui dirinya secara langsung. Tapi apa yang telah ia berikan, tidak akan pernah George minta kembali.


“Aku kesulitan, tidak mungkin juga perusahaan ini dan itu aku urus semuanya. Apalagi banyak hal yang perlu untuk dibereskan.”


Penjelasan Freya langsung diangguki mengerti oleh George. “Aku paham,” kata George yang langsung memberikan Freya sesuatu.


“Jika kamu kesulitan masalah biaya kerugian, kamu tak perlu khawatir. Aku akan membantu kamu. Dan kalau kamu memerlukan tenaga kerja, aku akan memberikan orang berbakat untuk membantu kamu.”


Kata-kata George seakan ia tidak akan pernah menerima apa yang telah ia berikan.


“Kenapa kamu terdengar memaksa? apa kamu tahu jika aku juga memerlukan waktu luang untuk beristirahat.”


“Maka itu aku tawarkan tenaga untuk kamu,” kata Georgia.


“Anda tahu bukan jika saya sangat tidak suka jika harus bergantung pada siapapun itu? karena saya tidak ingin terus bergantung pada Anda.”


Siapa yang tidak akan lemah jika terus diberikan perhatian yang benar-benar sangat luar biasa.


“Tidak perlu merasa terbebani, karena aku akan senang jika kamu begitu bergantung padaku.” Senyuman yang masih terasa kaku dan terasa datar itu terlihat.


Tidak mudah bagi George untuk tersenyum. Laki-laki itu sudah sangat lama berwajah dingin dan datar. Ia laki-laki yang terkenal acuh dan tidak peduli dengan dunia.


Dan untuk pertama kalinya seorang George bisa merasa peduli. Dan itu pada Freya. Donald adalah saksi bisu bagaimana kehidupan laki-laki yang begitu ia kagumi itu. Laki-laki dingin tak tersentuh yang selalu bersikap tenang dan baik-baik saja selama ini.


“Baiklah,” Freya rasa akan percuma berdebat dengan George yang tidak akan mengalah itu.


“Aku menemukan bukti baru,” kata Freya langsung memberikan sebuah bukti yang baru saja ia dapat.


“Bukti ini mengarah pada dua arah, yang satu itu mengarah pada kamu. Tapi yang satu lagi seolah mengarah pada orang lain yang tidak diketahui.”


Melihat itu, George hanya tersenyum dingin. Akhirnya orang itu bergerak juga. Sepertinya ia ingin jika nanti George akan dibenci oleh Freya.


“Apapun yang akan terjadi, kamu tidak bisa marah dan membenciku begitu saja. Aku akan menjanjikan kamu satu hal, jika aku tidak bersalah.”

__ADS_1


Tatapan yakin George terlihat.


“Apa kamu ada bukti yang bisa memastikan jika kamu tidak bersalah? jika memang ada, tolong tunjukkanlah bukti sekarang.”


“Tidak. Bukti itu bukan aku yang memegangnya, ada orang yang memegang itu. Dan itu bukan aku. Suatu saat akan kamu ketahui itu,” kata George langsung.


Freya tidak mengerti.


Kenapa George berkata seolah berbelit-belit, laki-laki itu tidak mengatakan apapun dengan jelas. Seolah apa yang ia pegang hanyalah sebuah jebakan yang memang sudah direncanakan.


“Sebenarnya aku sangat ingin kamu hidup dengan ketidaktahuan tanpa harus mengetahui jika dunia ini sangat kejam. Sayangnya keluarga kamu sendiri yang membuat kamu menjadi kejam.”


George berkata seperti itu sambil menatap ke arah Freya dengan tatapan dalam yang tidak bisa untuk dideskripsikan.


“Tuan, sepertinya ada hal yang harus kita urus,” kata Donald yang menunduk hormat serta berbisik pelan.


“Aku pergi,” kata George tanpa berniat untuk berbalik.


Melihat hal itu, Freya hanya diam.


“Sepertinya laki-laki itu sangat menyayangi Anda. Saya bisa melihat dengan jelas tatapan matanya yang berkata jika dia rela melakukan apapun demi Anda,” jelas Fina yang tidak terlalu dianggap serius oleh Freya.


Freya mendapatkan hadiah dari Frans.


Di hadiah itu, tertulis sebagai tiket liburan untuk Freya berlibur sementara waktu. Sepertinya Frans khawatir jika Freya terlalu larut dalam pekerjaannya itu hingga ia mengabaikan kesehatannya.


“Maksudnya apa ini?” tanya Freya tak mengerti.


“Sebelum kamu resmi menjadi pemimpin di perusahaan Garlfried. Mungkin Frans ingin memberikan hadiah itu pada kamu. Kamu tahu bukan jika nantinya kamu pasti akan sibuk dengan banyaknya pekerjaan. Jadi mari kita berlibur,” kata Fina dengan kedipan matanya.


“Padahal kita harus mempersiapkan acara peresmian itu terlebih dahulu. Pasti akan sibuk bukan? jadi kita berlibur nanti saja,” kata Freya yang fokus pada tugas yang harus ia kerjakan itu.


“Ayolah Freya, ini tidak akan lama. Paling tidak kita akan berlibur satu sampai dua hari saja 'kan? jadi ada baiknya kita mengistirahatkan pikiran kita dari tugas yang menumpuk ini,” kata Fina menatap dengan mata yang berkedip-kedip lucu.


“Baiklah.”


Mendengar ucapan Freya itu, Fina langsung tersenyum dengan senang. Akhirnya ada waktu dirinya untuk bisa berlibur walau hanya sejenak.


Itulah yang Fina pikirkan pada awalnya. Hingga ia kini sadar jika dirinya lebih baik bekerja dibandingkan harus mengawal majikan yang sedang bersama pasangannya.


“Kenapa? bukankah kamu sibuk?”

__ADS_1


“Donald yang urus,” kata George langsung.


George bukanlah tipe laki-laki romantis yang dengan mudahnya bisa mengatakan kata-kata cinta. Ia juga bukanlah laki-laki yang pandai menggombal.


Tapi apa yang George lakukan adalah hal yang paling diimpikan setiap wanita. Yaitu pembuktian secara nyata tanpa perlu berjanji apapun.


Seperti saat ini, padahal Freya tidak pernah berkata jika ia akan berlibur di sebuah pulau. Tapi laki-laki itu tahu dengan jelas, dan pada akhirnya George mendadak ikut berlibur dengan menggunakan pesawat pribadinya.


“Bukankah Donald sekarang juga ada di sini?”


Donald yang mendengar itu hanya diam. Haruskah ia mengatakan jika tuannya langsung berangkat ke sini begitu mendengar berita Freya berlibur.


Tuannya itu sebenarnya khawatir jika nanti Freya akan dekat dengan laki-laki secara tiba-tiba. Padahal Freya kini bukanlah perempuan yang mudah di dekati oleh laki-laki.


“Saya akan menyelesaikan tugas itu dengan cepat Nona,” jawab Donald tanpa berniat menjelaskan.


“Oh baiklah,” acuh Freya.


Entah kenapa suasana liburan yang Freya pikir akan terasa membosankan. Justru suasana liburan itu malah terasa lebih menyenangkan dengan adanya George.


“Rambut hitam kamu seperti-”


“Tuan,” Donald berniat mencegah tuannya yang ingin menggombal lagi. Sudah cukup rasanya laki-laki itu menggombal, dia itu tidak pandai menggombal jadi itu akan terasa aneh dan menyebalkan.


“Kenapa kamu memotong ucapan Tuan kamu sendiri? bukankah itu sangat tidak sopan?” kata Fina, ia tahu jika George memang tak pandai menggombal seperti yang sempat diberitakan saat itu.


“Saya-” bagaimana caranya Donald mengatakan jika ia tahu apa yang akan tuannya katakan. Itu hanya akan membuat Tuan malu.


“Tidak apa-apa, lanjutkan saja.”


Mendengar ucapan Freya, dengan percaya diri dan tanpa melihat Donald yang seolah meminta agar ia tidak mengatakan apapun. George tetap melanjutkan perkataannya yang terpotong.


“Rambut mu sehitam arang hitam yang terbakar hingga hangus, matamu itu secoklat lumpur yang ada di sawah. lalu-” George sebenarnya ingin melanjutkan ucapannya itu.


Tapi melihat tawa Fina yang tertahan, ia merasa ada yang salah. Melihat ke arah Donald yang sepertinya hanya pasrah.


“Tuan, apa Anda tidak ada kata-kata lain selain arang hitam? lalu kenapa harus secoklat lumpur? bukankah ada pribahasa lain yang lebih indah?” batin Donald yang hanya terdiam.


“Apa yang salah?” tatapan heran George berikan.


Beruntungnya Freya tidak marah. Ia tahu jika laki-laki itu memang tidak pandai dalam menggombal. Dan itu pertama kalinya seorang George dengan polosnya itu, ia menggombal.

__ADS_1


__ADS_2