Pembalasan Dendam Si Cantik

Pembalasan Dendam Si Cantik
Rencana


__ADS_3

Greta yang mendapatkan apa yang diinginkannya itu, ia terlihat tersenyum senang. Seolah Greta baru mendapat undian hadiah besar.


“Apa yang membuat kamu sangat senang?” tanya Samoni yang menatap Greta dengan tatapan mata menyelidik.


Greta yang baru masih ke dalam mansion milik Samoni itu, ia sedikit terkejut. Tapi beberapa detik kemudian ia langsung merilekskan wajahnya dan tersenyum.


“Kamu pulang? apa ada hal yang akan kamu urus di sini?” tanya Greta yang langsung mendekat ke arah Samoni yang sepertinya sedang berada dalam suasana hati yang buruk.


“Ada apa tuan? apa ada hal yang bisa saya bantu?” tanya Greta semakin mendekat ke arah Samoni.


“Memang apa yang kamu bisa selain memuaskan diriku? kamu itu bukanlah saudara kamu yang sangat pintar itu. Andai kamu memiliki setengah kemampuan Freya, setidaknya kamu akan berguna,” kata Samoni terdengar mengeluh akan kenyataan dirinya yang kini terdesak.


Greta yang mendengar itu rasanya marah sekali, ia ingin memukul apapun yang ada didekatnya saat ini. Lagi-lagi Samoni membandingkan dirinya dengan Freya, itu membuatnya muak dan marah hingga sering sekali hilang kendali.


“Kenapa harus wanita monster itu lagi yang kamu bandingkan dengan aku? dia hebat karena dia itu monster gila!!” batin Greta yang hanya bisa menahan kekesalannya itu.


Inilah alasan Greta sering merasa depresi dan marah, ia bahkan sampai tergoda oleh bawahan kepercayaan dari Samoni yang tak lain adalah Doni.


Tapi seperti tidak memiliki keberuntungan yang baik, Doni juga pada akhirnya mencampakkan Greta dan menganggap Greta tak berharga lagi.


Menghilangkan kekesalannya itu, Greta memilih untuk bersikap lunak pada Samoni yang kini dalam suasana hati yang buruk.


“Apa yang terjadi tuan?”


“Kamu tahu aku sekarang mempercayai kamu dengan sepenuhnya. Jadi jangan coba-coba berkhianat atau kamu tidak akan memiliki akhir yang baik,” ancaman Samoni sebelum ia menceritakan masalahnya itu.


Greta yang mendengar itu hanya berusaha untuk mengangguk dengan santai. Ia tidak mengatakan apapun dan hanya berusaha mendengarkan apa perkataan Samoni selanjutnya.


“Aku tidak tahu kenapa George kini mulai melawan menyerangku. Biasanya saat laki-laki itu terus aku serang dia selalu bersikap acuh dan tak peduli.”


“Apa maksudnya? saya tidak mengerti.”

__ADS_1


“Aku membenci George, lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Penderitanya adalah kebahagiaan terbesar bagi diriku. Apa kamu tidak tahu betapa banyak berita yang mengatakan aku terlalu berani karena terus saja menyinggung George? itu tak lain karena aku sangat membencinya.”


“Apa memang setiap Anda menyerang tuan George, dia tidak menyerang Anda balik?” tanya Greta memastikan.


“Iya begitulah. Mungkin karena ini juga ada hubungannya dengan saudara kamu itu, jadi laki-laki itu kini malah bertingkah agresif,” kata Samoni.


Bukan Freya yang Samoni takutkan, tapi George yang kini seolah membantu Freya untuk segera menangkapnya, dan itu membuat Samoni sedikit tak menyangka.


“Tidak mungkin George berani melawanku! apa dia lupa janjinya dengan orang itu?!” kata Samoni yang terlihat berfikir.


Greta yang melihat Samoni sedang tidak ingin diganggu saat ini, Greta akhirnya memilih untuk pergi menjauh dari Samoni.


Di kamarnya, Greta terdiam sambil terduduk. Ia berfikir apa yang membuat Samoni saat ini begitu membenci George.


“Aku yakin tuan George tidak takut padanya, tapi aku tak tahu alasan mengapa seorang tuan George hanya diam dan tidak peduli saat ada orang yang mengusik dirinya.”


Merasa jika tidak ada hal yang bisa ia tangkap dari segala kemungkinan yang dipikirkannya. Greta memilih untuk membaringkan tubuhnya karena lelah.


“Kenapa lagi dia meneleponku? bukankah dia sudah mengatakan akan langsung ke luar negeri malam ini juga? apa dia berubah pikiran.”


Memilih untuk mengabaikan sambungan telepon itu, Greta kembali berbaring. “Untuk apa aku menerima telepon darinya, sudah jelas dia hanya memanfaatkan aku selama ini,” acuh Greta.


Sayangnya meskipun Greta sudah berniat seperti itu, tapi tak lama terdengar kembali panggilan suara yang berasal dari ponselnya.


“Angkat teleponku, atau kamu akan menyesal!”


Itulah ancaman yang diberikan Doni pada Greta, hingga pada akhirnya Greta mengangkat telepen tersebut.


“Ada apa? bukankah kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau? masih kurang puas 'kah?” sinis Greta langsung.


“A-ada yang ingin aku katakan pada kamu, inu sangat penting,” kata Doni dengan suara yang terdengar aneh.

__ADS_1


“Apa yang kamu maksud penting? tapi yang jelas aku nggak akan pernah peduli dan percaya pada apa yang kamu katakan lagi!” acuh Greta yang berniat untuk mematikan sambungan telepon.


“Ja-jangan matikan dulu! baiklah kita buat sebuah kesempatan saja, jika kamu datang aku akan berikan kamu obat ini pada kamu secara percuma,” kata Doni yang langsung membuat Greta tergiur.


Greta terdiam sejenak, ia berfikir dalam tentang apa yang membuat Doni berbuat seperti itu. Tidak bisa dipercaya seorang Doni yang sangat pelit dan sangat perhitungan akan memberi Greta barang itu.


“Ayolah cepat datang, aku tunggu!”


Setelahnya sambungang telepon dimatikan oleh Doni. Dan tak berapa lama Doni mengirimkan lokasi dimana mereka akan bertemu nanti.


...*****...


Sementara itu.


Freya yang melihat Doni terlihat ketakutan dengan ancamannya itu, ia hanya tersenyum dingin dan tak mengatakan apapun.


“Seharusnya kamu sudah bisa memprediksi akan hal ini! kamu tahu bukan jika orang yang menjual obat itu akan dipenjara? tapi aku tidak menyangka jika kamu orang yang sebodoh ini,” kata Fina yang menatap ke arah Doni dengan tatapan merendahkan.


Meskipun Freya dan keempat orang yang ia percaya itu dulunya adalah anggota mafia Shadow. Tapi ia dan yang lainnya tidak pernah sekalipun berniat untuk menjual obat terlarang itu, mereka tahu obat itu sangat berbahaya dan tidak akan berguna bagi mereka.


Maka itu, mereka selalu menghindari obat terlarang yang bisa membuat siapa saja gila saar sudah berada di bawah pengaruhnya.


“Bukankah kalian mengatakan akan membebaskan aku jika aku membawa Greta ke sini? jadi apakah kalian akan mengingkari janji kalian?”


Doni terlihat cemas dan merasa ketakutan, ia takut jika dirinya akan masuk penjara. Selama ini Doni sangat pintar dalam mengelabui polisi ataupun musuhnya, tapi saat ia berhadapan dengan Freya, seolah sudah mengincarnya, Freya tahu dimana lokasinya berada.


“Setidaknya kamu sepertinya pintar karena cukup berhati-hati hingga melakukan transaksi di malam hari. Pergilah!” kata Freya.


Lalu setelah itu, Freya menatap ke arah Fina dan langsung diangguki. Melihat Doni ketakutan dan langsung pergi dengan cepat, Freya pun tersenyum dingin.


“Kamu tahu 'kan apa yang harus kamu lakukan?” kata Freya yang langsung diangguki oleh Fina.

__ADS_1


Tidak mungkin Freya akan membiarkan orang seperti Doni bebas begitu saja, sekalipun Freya bukan orang baik, setidaknya ia tidak akan membiarkan orang yang merugikan hidup dengan nyaman.


__ADS_2