Pembalasan Dendam Si Cantik

Pembalasan Dendam Si Cantik
Kamu masih hidup?!


__ADS_3

Freya yang baru saja selesai dari pemeriksaan terlihat hanya diam termenung. Wajah yang biasa akan acuh dan tidak peduli. Justru kini terlihat kosong dan tak bersemangat.


Bagaimana Freya bisa semangat? ia saja tidak tahu siapa dirinya, namanya sendiri ia lupa dan tidak ingat sama sekali. Orang tua? Freya hanya tahu jika wanita yang biasa dipanggil Madam itu adalah ibunya.


Tapi ..., kenapa wanita itu justru lebih cocok jadi neneknya? sekalipun Madam Amilia terlihat masih sangat awet muda.


“Kenapa hanya diam? apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan? atau ada sesuatu yang kamu ingkan?”


Madam Amilia sangat perhatian padanya, hingga Freya merasa tidak ada salahnya untuk mencoba percaya akan kebaikan orang dihadapannya.


“Madam, apa benar kamu adalah ibuku?”


“Kenapa bertanya seperti itu?”


“Tidak! hanya saja kamu lebih cocok untuk dipanggil dengan sebutan nenek. Maaf,” jujur Freya. Freya kini terlihat seperti wanita baik-baik dan polos.


Madam Amilia yang mendengar itu tersenyum, ia lalu mengusap sayang rambut Freya yang berantakan. Pada akhirnya nanti, Freya juga akan tahu kalau ia itu adalah neneknya, bukan ibunya.


Madam Amilia mengakui dirinya sebagai ibu agar Freya tidak menanyakan tentang ibunya, Anaya. Dan nama yang diberikan pada Madam Amilia juga seakan ingin memperlakukan Freya layaknya anaknya sendiri.


Kemiripan yang hampir sembilan puluh persen itu, membuat Madam Amilia berfikir jika Freya bisa saja dianggap sebagai kembaran Anaya, anaknya.


“Tidak apa-apa, kamu bisa menganggap Madam apapun itu. Lagipula Madam menikah di usia yang sudah tidak muda lagi, jadi baru bisa punya anak.”


Freya yang mendengar itu hanya mengangguk polos.


“Madam, ada sesuatu yang harus Anda kerjakan.”


Seorang anak buah yang sepertinya adalah asisten dari Madam Amilia mulai berbicara. Ia menjelaskan jika wanita itu harus menghadiri meeting di perusahaan milik wanita itu.


Madam Amilia adalah seorang pemimpin perusahaan, ia yang tidak muda lagi masih terlihat keren dengan setelan yang kekinian.


“Kamu istirahatlah, Madam akan pergi.”


Melihat kepergian Madam Amilia, Freya terdiam. Tapi tak lama Shan masuk dan menunduk hormat, ada rasa sedikih dan penyesalan setiap kali Shan melihat ke arah Freya. Seolah ia menyalakan dirinya jika apa yang di alami oleh Freya karena dirinya.

__ADS_1


Jika seandainya ia datang lebih awal, mungkin tidak akan ada rasa trauma dan amarah yang begitu besar dari nonanya. Mungkin karena terlalu menyakitkan hingga tak sanggup menerima pukulan itu, Freya pada akhirnya melupakan identitasnya.


Shan memang sudah menyelamatkan tepat waktu, tapi rasa takut dan trauma dari nonanya itu bukan hanya sebuah omong kosong.


......


5 bulan kemudian


Freya atau kini ia mengingat dirinya sebagai Anaya, ia yang sudah tinggal hampir lima bulan bersama dengan Madam Amilia yang memperlakukannya dengan sangat baik. Selain itu, selama 4 bulan ini Freya di latih banyak kemampuan, seperti halnya dalam bidang komputer atau bela diri.


Entah apa alasannya Madam Amilia bersikap tegas dan juga keras saat melatihnya. Tapi Freya tahu jika pada akhirnya Madam Amilia akan bersikap lembut seakan dia sangat menyayanginya.


“Latihan kamu sungguh sangat luar biasa sekali sayang. Sebagai hadiah apa kamu ingin sesuatu?” tanya Madam Amilia dengan telaten mengusap keringat yang ada di dahi Freya.


“Tidak ada, hanya saja Anaya ingin pergi keluar untuk sekedar berjalan-jalan. Apa boleh Madam?” tanya Freya, ia selama ini jarang keluar dan terus berlatih.


Walau tidak 24 jam nonstop dia latihannya, paling tidak 3-5 jam Freya latihan. Itu adalah latihan yang mana ia sendiri tidak merasa lelah sama sekali.


“Kamu sudah bekerja dengan sangat keras sayang, jadi tentu Madam akan mewujudkan keinginan kamu!”


Freya yang mendengar itu tentu merasa sangat senang, ia yang kini berkepribadian ceria dan lugu langsung saja memeluk Madam Amilia dengan semangat.


Madam Amilia yang melihat itu hanya tersenyum puas, ia terus mengelus dan sesekali mencium pucuk kepala Freya dengan sayang.


Anaknya yang telah tiada, kini Madam Amilia merasa jika anaknya itu sudah kembali. Walau ia tahu jika orang yang ia anggap anak adalah cucunya sendiri.


“Aku akan memperlakukan kamu dengan baik, sangat baik. Bahkan jika perlu aku tidak akan membiarkan siapapun itu membawa kamu pergi!”


.....


Freya kini sedang berada di sebuah restoran.


Restoran yang sangat sepi dan sangat menjaga privasi. Restoran yang ia kunjungi saat ini adalah restoran elit. Freya yang sudah tinggal di negara Z sekitar 5 bulan lebih, ia masih merasa asing dengan suasana yang ada di sini. Tempat yang setiap kali ia kunjungi terasa asing dan tidak familiar.


Bukankah jika kita lupa ingatan kita tetap bisa merasa akrab dengan sesuatu hal yang kita kenal? tapi tidak dengan tempat yang ada di negara ini.

__ADS_1


“Apa kamu tahu tentang kehidupanku selama ini?” tanya Freya menatap ke arah Shan yang terdiam.


Shan tidak tahu harus mengatakan apa pada Freya, ia tidak mungkin menceritakan kehidupannya yang terlalu menakutkan tanpa adanya kehidupan.


Wajah Freya yang berubah dingin dan datar sejak ia berusia 16 tahun. Itu terjadi sejak Freya mengalami kehidupan bagai diambang Kematian.


Shan tidak tahu jelas bagaimana latihan Freya selama ini, ia hanya bisa melindungi dan mengawasi dari arah jauh. Dan baginya, nonanya sangat hebat.


Dia bisa melindungi dirinya tanpa bantuan dari siapapun itu. Nona Freya bisa hidup tanpanya!


“Apa ada sesuatu yang mengganggu kamu? atau pertanyaanku terlalu membuat kamu terbebani?”


Raut wajah nonanya yang kini terlihat polos dan lugu, Shan bahkan tidak ingin jika suatu saat nanti raut wajah itu akan berubah menjadi datar dan tidak tersentuh.


“Tidak ada nona.”


Tahu jika Shan tidak ingin mengatakan sesuatu padanya, Freya hanya mengangguk dan fokus pada aktifitasnya itu.


“Aku sudah selesai,” ujar Freya saat ia baru saja selesai memakan makanannya itu. Ia bangkit dan hendak pergi keluar dari restoran.


......


Sementara itu,


Fina yang baru saja selesai melakukan misinya itu, ia berniat untuk menghabiskan uang yang ia dapat di tempat makanan mewah.


“Untuk apa hidup ini jika tidak digunakan dengan baik. Hidup itu harus dinikmati dan juga dijalani, sekalipun tidak ada yang berjalan sesuai yang kita mau,” monolog Fina.


Begitu mendongkak, Fina langsung menatap ke depan. Ia tiba-tiba mematung saat melihat seseorang yang ada dihadapannya ini.


Orang itu seperti yang ia kenali.


Orang itu juga orang yang ia cari selama ini.


“Freya?” tatapan tak percaya kini Fina tunjukkan dengan apa yang kini ia lihat saat ini.

__ADS_1


Beberapa kali Fina mengucek matanya. Orang yang ada di depannya dengan jarak jauh itu benar-benar terlihat seperti Freya. Tidak mungkin ia salah lihat, itu pasti Freya.


“Kamu masih hidup?” ada rasa senang yang tidak bisa untuk Fina jelaskan saat mengetahui Freya masih hidup.


__ADS_2