
Freya kini tengah terdiam sambil menatap ke arah laptop miliknya. Laptop itu bukan laptop biasa, ia memiliki sistem kecanggihan yang berbeda dengan laptop pada umumnya, dan laptop itu diberikan oleh kakek Freya yang telah meninggal.
Garlfried, itu nama kakeknya yang telah meninggal di saat ia berumur sepuluh tahun. Kakeknya itu tak lain adalah kepada keluarga dari keluarga ini.
“Freya sayang, kakek akan memberikan laptop ini untuk kamu. Gunakan laptop ini dengan sebaik-baik mungkin, tapi kamu harus ingat Nak! kemampuan kamu yang kakek ajarkan ini akan diincar banyak orang, jadi jangan tunjukkan kemampuan ini pada siapapun! itu demi kebaikan kamu,” perkataan dari kakeknya yang masih Freya ingat hingga saat ini.
Freya bimbang, apa ia harus tetap berusaha untuk menyembunyikan kemampuannya itu. Kemampuan yang merupakan ajaran langsung dari Sang Kakek yang merupakan seorang yang ahli dalam ngehack. Kakeknya juga pandai dalam membuat aplikasi dan sistem keamanan.
“Kek, sepertinya Freya sepertinya tidak akan bisa lagi untuk terus menyembunyikan kemampuan ini. Freya merasa jika Freya memerlukannya, karena Freya ingin memastikan sesuatu,” ungkap Freya menatap ke arah laptop itu.
Laptop yang ada di hadapannya ini, tidak ada yang tahu akan keberadaannya laptopnya. Freya selama ini menyimpan laptop itu di tempat yang aman, ia tidak mengizinkan siapapun melihatnya, sekalipun itu ayahnya sendiri.
Karena Freya di larang oleh kakeknya, Garlfried untuk tidak menunjukkan kemampuan ini ataupun menunjukkan keberadaan laptop ini, sekalipun pada ayahnya sendiri, Antonio.
“Kakek pernah mengatakan padaku, jika laptop ini adalah laptop tercanggih kedua di dunia? lalu siapa yang tercanggih pertama?” tanya Freya pada dirinya sendiri. Ia seolah sedang bertanya pada kakeknya yang telah meninggal itu.
“Freya janji akan menjaga laptop ini dengan sebaik mungkin,” yakin Freya. Bagi Freya laptop itu sudah seperti nyawanya. Hingga ia akan sangat menjaga laptop itu, bahkan Yoshua kekasihnya, tidak tahu mengenai keberadaan laptop ini.
“Harus 'kah Yoshua tahu mengenai keberadaan laptop ini juga?” tanya Freya pada dirinya sendiri.
Selain Rea yang merupakan orang asing bagi Freya yang telah memperlakukan Freya dengan baik, ia juga pernah diperlihatkan dengan baik oleh, kakek yang telah lama meninggal.
Untuk Yoshua dia memang sangat baik kepada Freya, tapi lelaki itu tak lebih dari seseorang yang memanfaatkan Freya pada awalnya. Hingga pada akhirnya laki-laki itu tergila-gila pada Freya.
“Tidak! jangan bodoh Freya! ingat saat dulu kamu pernah dikhianati karena mempercayai seseorang. Kamu tidak ingin mengulang kesalahan yang sama bukan?”tanya Freya pada dirinya sendiri.
Akhirnya, Freya memilih untuk menyimpan laptop itu dengan baik dan aman. Ia hendak mengunci pintu dan tidur. Tapi tiba-tiba pintunya diketuk oleh seseorang.
__ADS_1
“Hei! you okey?” tanya Freya saat melihat jika kini kondisi Rocky adiknya yang seolah sedang mabuk. Tapi kondisi wajahnya yang terlihat biasa saja, hal itu membuatnya tidak terlihat benar-benar mabuk.
“Aku ingin berbicara sesuatu Kak,” kata Rocky yang hanya berbicara singkat. Ia langsung berjalan ke arah luar, lebih tepatnya Rocky mengajak Freya ke taman yang ada air mancur sebagai hiasan.
...----------------...
“Ada apa?” tanya Freya langsung, ia yang dari tadi hanya diam dan mengikuti akhirnya bertanya.
Rocky hanya diam, ia tidak berkata apa-apa. Seolah ia tengah berfikir sesuatu hal yang tidak bisa Freya tebak.
“Apakah ada cara untuk bisa menjadi pintar? atau adakah guru les yang bisa membuat kita pandai hanya dalam waktu satu hari?” cara bicara Rocky yang sedikit aneh membuat Freya heran.
“Kamu mabuk?” tanya Frey langsung.
Rocky tentu langsung menggeleng cepat. “Tidak!” tegas Rocky langsung.
“Aku tidak akan memberi tahu hal ini pada Ayah,” kata Freya yang seolah berfikir jika Rocky khawatir ia akan mengadukan hal ini pada ayahnya.
“Jadi? ada hal apa kamu mengajak aku ke sini? apa cuman ingin bertanya hal yang aneh tadi?” tanya Freya pada akhirnya.
“Itu bukan hal yang aneh! bukankah semua orang memang sangat ingin sesuatu hal yang instan? kesuksesan yang instan, kekayaan yang instan, dan kebahagiaan yang instan. Bukan begitu?” kata Rocky yang cara bicaranya semakin aneh bagi Freya.
“Hey, jika memang tidak ada yang ingin kamu berbicara denganku, aku akan tidur.” Freya berniat bangkit, tapi ucapan adiknya membuatnya sontak menoleh.
“Kak, aku serius,” tatapan serius itu mulai muncul di wajah Rocky, ia terlihat sungguh-sungguh akan apa yang ia katakan.
“Rocky. Kamu berbicara dengan nada dan kata yang terdengar aneh. Demi apapun! di dunia ini tidak ada yang namanya hal instan. Sekalipun itu sebuah mie instan! kakak dengan mie instan juga perlu untuk di rebus sebelum di makan,” kata Freya.
__ADS_1
Mungkin Freya memang pintar hingga ia disebut jenius. Tapi, apa yang ia miliki itu pasti ada timbal baliknya. Ada usahanya juga, dan seandainya nanti kepintarannya itu diketahui orang banyak, mungkin dirinya tidak akan seaman sekarang.
“Kadang, kepintaran yang berlebihan dan tidak wajar seperti orang pada umumnya, itu adalah sasaran dari kejahatan. Apa kamu masih ingin menjadi pintar lagi?” kata Freya yang dijawab anggukan yakin oleh Rocky.
“Apa ini permintaan Ayah dan Ibu?” tanya Freya yang langsung menebak akan hal itu.
“Ini bukan karena permintaan ayah dan ibu, tapi ada hal yang memaksaku untuk bisa.”
“Apa karena Madam Eva?” tanya Freya lagi.
“Kak, ini bukan karena Ayah, Ibu ataupun Madam Eva. Ini karena keinginan aku sendiri. Tapi lebih dari apapun itu, alasan terkuatnya adalah karena seseorang. Dan aku rasa Kakak tidak perlu tahu akan hal itu,” tegas Rocky.
Mendengar itu, Freya hanya mengangguk mengerti. Ia tidak akan ikut campur akan hal itu. “Kakak akan bantu kamu,” setelahnya Freya berniat untuk pergi menuju kamarnya.
Sayangnya, keinginan Freya harus gagal karena ia melihat jika anak buah dari George datang ke mansion keluarganya. Freya tahu jika selama ini tidak henti-hentinya para bawahan itu berganti setiap hari atau bahkan setiap jamnya untuk memantaunya
Tapi kenapa kini salah satu bawahan itu dengan terang-terangan menunjukkan dirinya? padahal mereka selama beberapa hari ini hanya akan memantau dari jarak jauh.
“Bukankah sudah saya katakan jika kamu tidak pernah diizinkan untuk datang ke sini?” kata Freya denga disertai mata tajam yang menatap kesal.
Bawahan itu hanya diam, wajah datar seolah tak takut itu terlihat sama. Sekalipun Freya telah mengeluarkan aura membunuhnya tanpa sadar.
“Nona, saya tidak akan datang ke sini tanpa perintah dari tuan. Besok Anda akan saya antar untuk menemui tuan,” jelas bawahan itu.
“Kenapa tidak menghubungi langsung?” tanya Freya langsung.
“Anda menolak hadiah dari tuan, jadi bagaimana tuan akan menghubungi Anda.” Perkataannya itu seakan mulai mengingatkannya akan hadiah dari Donald untuk Freya dari George yang tak lain adalah sebuah ponsel canggih.
__ADS_1
Karena Freya merasa jika itu bukan ponsel biasa, ia tentu menolaknya karena berfikir jika itu ada chip pengawas. Di mana setiap Freya ada di suatu tempat, George akan mengetahui itu semua.
“Kalau begitu besok kamu jelaskan langsung padaku di mana tempatnya,” kata Freya yang memilih mengakhiri pembicaraan itu.