
Freya yang kini hanya diam. Ia tiba-tiba merasa lelah dan mengantuk. Tak lama Freya terlelap hingga pagi hari. Bahkan karena tak ada yang membangunkannya, ia tidak ikut makan malam.
...**********...
Keesokan harinya.
Kilauan matahari menembus celah jendela sebuah kamar. Kamar yang bagaikan sebuah apartemen mewah karena saking luasnya kamar itu. Warna putih dan emas menjadi dominan dari kamar itu, kamar milik Freya. Meski mengantuk dan rasanya malas untuk bangun. Tapi rasa lapar menggangu dirinya, hingga Freya tak memiliki pilihan selain bangun karena ia lapar.
“Sial! jika tidak lapar aku mungkin tidak akan pernah bangun hingga malam!” rutuk Freya.
Freya memang peka dan memiliki insting tajam, tapi ia sebenarnya sangat suka tidur. Bisa sehari semalam ia tidur saat telah menjalankan misi yang baginya menguras waktu dan tenaganya.
“A-anda baru bangun nona muda. Apa ingin saya buatkan sesuatu?” tanya Fefe gugup. Setiap kali Fefe ingin menghindar dari Freya, justru ia malah terus bertemu dengan wanita itu.
“Kenapa tidak ada yang membangunkan aku? bukankah seharusnya aku ikut makan malam?” pertanyaan Freya hanya dijawab kebungkaman.
Bagaimana mungkin bisa Fefe mengatakan jika ibunya yang memerintahkan dirinya untuk tidak membangunkan wanita itu. Meskipun Fefe takut pada Freya, ia tidak bisa untuk menolak perintah ibunya sendiri yang tak lain adalah kepala pelayan.
“Nona muda, Anda terlihat lelah. Saya tidak tega jika harus membangunkan Anda.” Fefe berusaha untuk tidak gugup karena mungkin kebohongannya itu akan dengan cepat Freya ketahui.
Sayangnya Freya tahu jika Fefe sedang berbohong padanya, karena meski sangat mengantuk, Freya peka dan tak mungkin tidak sadar saat ada orang yang memasuki kamarnya ataupun hanya berdiri dikamarnya.
Tapi karena alasan itu memang benar, Freya terlalu lelah, ia bahkan tidak bisa tidur selama tinggal di kastil. Itu tak lain karena Freya terus memikirkan cara untuk kabur.
Mengingat tentang kastil yang penuh dengan alat keamanan tingkat tinggi itu. Entah kenapa Freya berfikir akan sesuatu.
“Aku akan mencari tahu bagaimana cara sistem keamanan itu bekerja. Suatu saat nanti jika aku terjebak di sana, aku pasti akan berusaha untuk melewati sistem keamanan itu dengan benar,” Freya membatin dalam hatinya.
Freya sangat menyukai tantangan. Ia tidak terima saat dirinya diperlakukan bagaikan seseorang yang telah menjadi tawanan. Meskipun saat ia tinggal di sana, ia diperlakukan seperti ratu di sebuah cerita dongeng. Tetap saja, kebebasan adalah segalanya bagi Freya.
“Nona muda, apakah Anda merasa lapar? saya akan mencoba untuk buatkan menu makan yang Anda inginkan,” tidak ada pilihan lain lagi bagi Fefe saat ini. Ia harus bersikap hormat meski takut.
__ADS_1
Entah berapa banyak rumor buruk tentang dirinya, dan entah apa saja yang Greta bicarakan pada para pelayan itu. Freya berusaha tak peduli, sekalipun ia akan terus melihat para pelayan yang menatapnya takut.
“Buatkan saya roti gandum dengan selai kurma,” pesan Freya yang langsung diangguki.
Menunggu apa yang ia minta datang, Freya memilih untuk membersihkan dirinya. Ia akan membiarkan Fefe masuk ke kamarnya nanti untuk membawa makanannya itu.
“Fefe, apa kamu tidak apa-apa?” tanya seorang pelayan saat melihat Fefe keluar dari kamar Freya.
“Iya? aku tidak apa-apa.”
“Apa nona Freya tidak melakukan hal-hal sesuatu yang aneh? ia tidak sedang membawa pisau 'kan? nona Greta bilang jika nona Freya sangat menyukai pisaunya hingga ia akan menatap pisaunya setiap saat,” salah satu pelayan berbicara panjang lebar tentang apa yang ia dengar dari Greta.
“Apa kamu yakin?” pelayan lain mulai bertanya lagi dengan nada interogasi. Ia tidak percaya jika nona Freya tidak memperlakukan temannya dengan itu dengan buruk.
Tiga pelayan yang umurnya sama dengan Fefe itu, mereka terlihat menatap takut ke arah kamar Freya. Tidak ada dari ketiga orang itu yang berani masuk ke kamar itu. Bagaikan sebuah kamar yang memiliki penghuni makhluk menyeramkan. Tidak pernah ada yang mau masuk ke kamar milik Freya.
Itulah sebabnya Freya jarang sekali makan di mansion, ia lebih memilih makan di luar. Tentu Freya lebih memilih makan di luar karena ia tak ingin jika mood makannya turun hanya karena tatapan takut mereka.
Perkataan Fefe langsung mendapat tatapan tak percaya dari ketiga pelayan itu. “Tidak mungkin! nona Greta tidak mungkin berbohong pada kita! apa kamu sedang berbohong karena terpaksa?” tanya pelayan yang paling muda.
“Entahlah, jika kalian tidak percaya itu urusan kalian.” Fefe tidak peduli lagi, yang ingin segera dilakukannya adalah membuat makanan sesuai permintaan Freya.
“Ekhm,” deheman keras itu menyandarkan keempat pelayan yang sedang bergosip itu. Dan keempat pelayan itu sontak menoleh, saat mereka melihat jika orang yang berdehem itu tak lain adalah Freya. Mereka tiba-tiba merasa mati kutu, tangan para pelayan itu gemeteran.
“Apa memang kalian sangat senggang?” padahal Freya bertanya seperti biasa. Tapi para pelayan yang sudah takut pada Freya dan menganggap Freya aneh, mereka langsung menggigil ketakutan.
“No-nona Freya. Ampuni kami!” ketiga pelayan yang ketakutan itu langsung bersujud.
Freya yang melihat itu tentu heran. Apa dia sangat menakutkan? apakah wajahnya itu menyeramkan? tapi dari bagian mana?
“Fefe, apakah roti yang aku inginkan telah kamu buat?” memilih mengabaikan ketakutan dari para pelayan itu, Freya menatap Fefe.
__ADS_1
“No-nona muda, maafkan saya, akan saya buatkan itu segera.” Setelahnya Fefe pergi meninggalkan ketiga pelayan itu yang hanya diam.
Melihat Fefe pergi, Freya lalu menatap ke arah ketiga pelayan yang masih saja bersujud dengan gemetaran. Freya sebenarnya sejak awal sudah mendengar apa yang para pelayan itu bicarakan tentang dirinya.
“Seburuk itu ternyata aku di mata Gret, padahal dia juga mahir menggunakan pisau,” batin Freya.
Greta juga dilatih sebagai anggota mafi Shadow, hanya saja Greta adalah anggota baru dan tidak terlalu mahir seperti dirinya.
“Tidak ada yang boleh bergosip di mansion ini! apa kalian lupa?”
“Kami lupa nona, mohon ampuni kami. Tidak akan kami lakukan lagi kesalahan ini,” mohon salah satu pelayan dengan gemeteran.
“Jangan sampai Ayah tahu akan hal ini, jika ia tahu kalian sendiri yang akan menanggung akibatnya. Apa kalian paham?” kata Freya.
“Ba-baik. Maafkan kami,” kata pelayan itu kompak, mereka takut, ucapan Freya bagai sebuah ancaman untuk mereka semua.
Mereka tidak sadar jika dibalik nada acuh dan tak peduli Freya, ia mengatakan itu hanya untuk sebuah peringatan saja. Antonio adalah orang kejam yang tak akan menerima kesalahan sekecil apapun itu! dan Freya tahu betapa kejamnya ayahnya itu.
................
Memakan makanan itu dengan lahap dan elegan, sepanjang Freya memakan makanannya itu ia pun hanya diam meski tahu jika Fefe sedang menatap ke arahnya dari tadi.
“Apa wajahku sangat menyeramkan?”
Fefe yang mendengar itu langsung menatap kaget. Dari segi mana Freya terlihat menyeramkan? wanita itu amat cantik dan manis juga mematikan. Sering sekali Fefe mendengar ucapan yang mengandung kebencian dari Greta karena Freya jauh lebih cantik darinya.
“Ti-tidak. Anda cantik nona,” jawab Fefe langsung.
“Lalu kenapa mereka semua takut saat melihatku?” tanya Freya yang hanya dijawab kebungkaman oleh Fefe.
Haruskah Fefe langsung mengatakan jika itu karena perkataan nona Greta? tapi apakah ia siap jika nanti perkataannya itu akan menimbulkan masalah?
__ADS_1
Freya yang hanya berniat menguji saja, ia melihat keterdiaman itu, akhirnya Freya memilih memakan roti gandum itu tanpa banyak bicara.