Pembalasan Dendam Si Cantik

Pembalasan Dendam Si Cantik
Diam-diam Keluar


__ADS_3

Setelah kembali dari pertemuan itu, Freya segera memasuki ruangannya untuk berganti pakaian. Ia hendak berpura-pura tidur agar nanti memiliki kesempatan untuk menyelinap keluar. Ini terdengar gila, karena bisa saja rencana Freya diketahui oleh George. Tapi Freya merasa, ia tak akan diam saja karena ia harus bertemu dengan seseorang.


“Nona, apa Anda akan tidur?” terdengar suara pelayan dari luar.


“Aku lelah, apa kalian pikir aku itu robot? aku juga manusia yang butuh istirahat. Jangan katakan kalian akan mendadani selama lima jam seperti tadi pagi,” nada kesal Freya akhirnya keluar karena merasa jengah dan tak suka dengan itu semua.


“Itu demi hasil yang memuaskan nona. Ini penting demi nama baik Anda. Mungkin saja, jika Anda akan melakukan pertemuan secara publik, proses persiapan harus dilakukan lebih lama dan matang.”


Kepala pelayan itu masih terus membicarakan tentang tata Krama dan pentingnya penampilan yang anggun dan berwibawa. Hingga Freya yang mendengar itu merasa muak dan tak suka.


“Kamu itu gila ya! di saat seperti ini juga kamu masih bahas penampilan?!” kesal Freya yang akhirnya membuka pintu dan menatap Kepala Pelayan itu dengan tatapan anehnya.


“Mohon kerja samanya Nona, bertahanlah, ini akan segera berlalu. Saya yakin setelah ini Anda akan bisa menikmati waktu luang Anda,” ungkap Kepala pelayan itu lagi.


Bolehkah Freya membunuh kepala pelayan itu saat ini? atau setidaknya Freya ingin mencongkel mata yang terlihat dingin dan tak tersentuh itu!


Mungkin jika tidak tidur dua malam karena misi Freya bisa, tapi untuk seharian ia harus menghabiskan waktu hanya untuk berias itu rasanya tak mungkin.


“Beri aku waktu dua jam untuk tidur, setelah itu kita akan melakukan acar rias seperti biasanya.”


Acara makan malam yang akan dilakukan beberapa jam lagi, Freya yang beralasan lelah dan ingin tidur untuk sejenak.


“Saya akan kembali dua jam lagi kalau begitu,” kata kepala pelayan itu yang langsung keluar dan pergi begitu saja setelah ia pamit dengan hormat.


Freya yang sadar jika kepala pelayan itu telah pergi, ia lantas membuka sedikit matanya yang awalnya pura-pura terpejam. Menatap ke arah sekelilingnya, Freya lantas segera menutup pintu.


“Tidak ada waktu lagi, hari ini aku harus menemui mereka,” kata Freya yang berganti pakaian dengan secepat mungkin.


Padahal baju yang baru ia ganti tadi itu baru sempat ia pakai beberapa menit yang lalu. “Sangat disayangkan jika harus di cuci padahal baru beberapa menit di pakai saja, lagipula ini tidak kotor,” kata Freya yang lantas langsung menempatkan sebuah gaun itu di tempat yang menurutnya bersih.

__ADS_1


Freya diam-diam membawa pakaian khas miliknya setiap akan melakukan misi. Pakaian hitam dengan lambang bunga tulip yang merupakan jenis bunga kesukaannya itu.


Warna bunga yang ada di bajunya tidak berwarna seperti bunga tulip umumnya, justru bunga itu berwarna merah darah bercampur hitam.


“Sial! di mana anting itu? apa itu hilang? tapi kapan?” tanya Freya pada dirinya sendiri. Anting kesayangan miliknya yang pernah diberikan oleh seseorang saat ia masih kecil dulu, itu tiba-tiba menghilang entah kemana.


“Atau anting itu hilang saat aku menjalankan misi saat akan membunuh tuan George?” tanya Freya yang kini sedikit berfikir.


Merasa tak ada waktu lagi, Freya memilih untuk tak memikirkan masalah anting itu lagi. Ia akan mencari anting itu nanti.


“Sepertinya aku harus memasang alarm pada jam tangan ini agar sebelum dua jam berlalu, aku tak kehabisan waktu.”


Freya berjalan diam-diam dan mengendap-endap secara hati-hati. Ia menempelkan punggungnya saat hampir saja ketahuan oleh beberapa penjaga yang menjaganya.


“Bahkan di saat seperti ini saja dia masih tidak percaya padaku. Apa dia takut jika aku akan lari dan tidak akan pernah kembali lagi?” Freya tidak menyangka, jika disekelilingnya akan ada banyak sekali orang-orang yang berada di luar kamar miliknya, mereka seolah sedang menjaganya.


“Benar-benar keterlaluan,” mengepalkan tangannya, Freya ingat jika hidupnya kini layaknya ia seorang tawanan, lebih tepatnya tawanan elit karena ia diperlakukan dengan baik.


Setelah terus mengendap-endap, Freya lantas berjalan menuju ke arah mobilnya. Mobil yang ia minta untuk ditaruh di sebuah perumahan kosong yang berjarak cukup jauh.


Sebagai seorang agen, meski dalam keadaan yang terjepit oleh waktu, ia bisa menangani masalah itu semua karena kecepatan langkahnya.


Bahkan setiap Freya melangkah, kakinya itu seolah tak pernah menempel langsung ke tanah. Padahal jelas-jelas Freya masih menginjak tanah, hanya saja, ia berjalan tanpa menimbulkan suara.


“Hufh,” helaan nafas lega saat ia kini berada di mobil yang tak lain adalah mobil miliknya.


“Sepertinya mereka telah menjalankan tugas dengan baik,” ungkap Freya puas.


Tanpa berkata lagi, Freya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia mulai untuk menyusuri jalanan yang awalnya sepi lama kelamaan menjadi ramai oleh banyaknya kendaraan.

__ADS_1


...----------------...


Memasuki sebuah pekarangan.


Freya lantas memarkirkan mobilnya itu di depan rumah besar yang sedikit megah. Rumah itu adalah rumah yang di tempati langsung oleh anak buah kepercayaan Freya.


Anak buah yang tidak diketahui oleh Antonio sama sekali, keberadaan orang-orang itu bahkan telah di anggap tidak ada oleh Antonio.


“Hay Freya, apa kabar.”


“Ya, baik. Bagaimana dengan kabar yang lain?”


Tahu jika Freya memang sangat dingin dan acuh pada siapapun. Tapi, sikap acuh Freya kini tidak separah dulu.


“Kita tentu baik,” jawab Nick.


Nick, adalah salah satu anggota mafia Shadow, dulu Nick dan yang lainnya hampir saja mati di tangan para musuh. Beruntungnya saat itu Freya berhasil menyelamatkan mereka. Dan keberadaan mereka tidak diketahui oleh Antonio.


“Di mana keberadaan yang lainnya?” tanya Freya.


Freya menatap ke arah Nick yang kini sedang fokus dengan laptopnya. Jika ditanya apa kehebatan dari Nick, jawabannya adalah ia pandai dalam bermain game.


Kepandaiannya itu, bahkan bisa membuat ia bisa menghasilkan milyaran dalam sebulan. Sayangnya, laki-laki itu akan langsung kalah jika berhadapan dengan Sang tuan tulip, yang tak lain adalah Freya.


“Mau adu denganku?” tanya Freya yang terduduk dengan santainya.


“Tidak! untuk apa aku beradu dengan kamu, jangan bicara omong kosong! kapan aku pernah menang dari kamu?” seolah takut jika nanti popularitas akan turun saat para penggemarnya tahu jika ada yang berhasil mengalahkannya, Nick menolak tawaran Freya.


“Hahahah, dasar.”

__ADS_1


Jujur, Freya akan bersikap seadanya pada Nick dan ketiga temannya yang lain. Ia akan bersikap dingin dan acuh, tapi kadang ia akan tertawa pelan saat ia merasa senang.


Ketiga teman Nick yang lain adalah Athaya, Frans, dan juga Fina. Hanya ada keempat orang itu yang menjadi anggota rahasia dari agen rahasia yang baru saja Freya bangun beberapa bulan yang lalu.


__ADS_2