Pembalasan Dendam Si Cantik

Pembalasan Dendam Si Cantik
Restoran pribadi


__ADS_3

Freya kini sedang menikmati makan siangnya dengan pemandangan bunga yang menjadi nilai plus dari restoran elit itu.


VVIP khusus.


Harusnya ruangan itu hanya bisa dikunjungi oleh si pemilik restoran. Dan pemilik restoran itu adalah George yang sengaja membelikan restoran itu untuk Freya.


Flashback.


“Kamu selalu mengabaikan makan, aku jadi terus berpikir untuk membeli salah satu restoran elit yang ada di sini.”


Itu kata yang pernah George berikan melalui makanan yang setiap hari laki-laki itu akan kirimkan melalui bawahannya itu.


Dan tidak pernah Freya duga dan sangka, laki-laki itu benar-benar memberikan sebuah restoran pribadi yang seharusnya menjadi milik laki-laki itu.


“Nona, saya tidak menyangka jika Tuan George adalah laki-laki yang sangat romantis,” ucap salah satu asisten Freya yang melihat itu semua dengan pandangan kagumnya pada selembar dokumen kepemilikan atas nama Freya.


“Ya ampun ..., akhirnya Nona Freyaku tersayang bisa memiliki kekasih yang peduli pada makanannya ini,” kata Fina dengan nada menyindirnya.


Fina turut merasa senang dengan kebahagiaan yang Freya rasakan. Tidak ada rasa iri dalam hatinya karena ia tahu betul bagaimana wanita itu menjalani hidupnya yang penuh akan bahaya.


Apalagi, kepercayaan dan rasa sayangnya justru dibalas dengan pengkhianatan yang menyakitkan. Itu benar-benar tidak adil jika keluarganya hidup dalam keadaan bahagia sedangkan Freya harus berusaha sangat keras hanya demi kebahagiaan yang harusnya menjadi miliknya.


Cinta ibunya yang harusnya Freya dapatkan justru tak pernah dapatkan, kasih sayang neneknya yang harus ia terima justru tidak tersampaikan. Dan hidup bahagia Freya bersama kakeknya juga harus hilang karena di hancurkan oleh mereka yang serakah.


“Anda harus sering datang ke tempat itu, jika tidak bisa ke sana saya akan meminta makanan dari tempat itu untuk Anda bila perlu. Tapi setidaknya Anda harus mengunjungi tempat itu minimal seminggu sekali,” ujar Frans pada Freya.


“Anda harus ingat Nona, saya akan memantau jam makan Anda agar teratur,” kata Frans mengandung sebuah peringatan.


Flashback end.


Dan disinilah Freya.

__ADS_1


Freya terpaksa datang ke tempat itu karena ia terus saja dipaksa oleh Fina dan Frans untuk datang ke restoran itu.


Suasana restoran itu benar-benar terasa sangat sejuk dan nyaman. Saat Freya melihat hamparan bunga melalui kaca transparan bening yang terpasang mengelilingi hamparan bunga itu, ketenangan yang hilang dari kehidupan Freya.


Kini Freya mulai merasakan ketenangan yang terasa menyejukkan mata. Freya tidak akan bisa mengalihkan pandangannya dari hamparan bunga itu.


“Ayo makanlah, aku tidak menyangka jika Tuan George akan langsung membeli restoran dengan mempertimbangkan selera makan kamu yang sulit ini. Dia sampai menyelidiki apa yang kamu sukai, hingga membeli restoran ini dengan harga sepuluh kali lipat dari harga seharusnya. Sangat luar biasa,” kata Fina yang layaknya bodyguard Freya.


Dimana ada Freya, pasti akan ada Fina.


“Oh ya? tapi kenapa aku merasa jika dia sedang adu kekayaan denganku? aku tak pernah suka jika laki-laki yang suka pamer!” kata Freya yang tetap memakan makanannya itu.


Sebenarnya Freya tidak bermaksud mengatakan hal itu, tapi rasa traumanya akan sebuah kepercayaan perlahan mengikis rasa percayanya pada orang lain. Ia tidak akan mudah untuk percaya lagi.


“Kalau begitu aku tidak akan menjadi orang yang suka pamer seperti yang kamu inginkan, aku akan berusaha menjadi laki-laki yang hanya memberikan segala perhatiannya secara diam-diam. Apa seperti itu yang kamu inginkan?”


Tanpa pernah Freya duga sama sekali, ternyata George ada di tempat itu dan bertemu dengannya. Entah apa yang terjadi pada laki-laki itu selama tidak tahu telah berlalu.


Walau tidak dapat dipungkiri jika wajah datar yang terkesan dingin masih tetap ada. Menandakan jika bongkahan es seakan belum mencair sepenuhnya.


“Iya, seperti itulah Anda harus bersikap. Kadang kita harus sedikit rendah diri agar tidak banyak yang akan membenci kita,” kata Freya yang hanya berniat untuk bicara omong kosong.


George yang mendengar itu, diam-diam terkekeh.


Lucu sekali, di saat dirinya benar-benar yakin akan rasa yang sudah menjalar dihatinya dengan sangat kuat dan kokoh. Justru wanita yang ada dihatinya seakan tidak memiliki perasaan sama sekali.


Raut wajah wanita itu seakan memiliki arti jika ia tak memiliki perasaan apapun. Wanita itu sudah mulai kehilangan kepercayaannya pada siapapun itu.


Kecuali untuk keempat temannya itu, dan selama tiga tahun ini. Keempat temannya itu juga sempat mendapatkan sebuah ujian kesetiaan yang bahkan bisa mengambil nyawa mereka kapan saja.


Dan mereka berempat telah terbukti setia. Mereka rela kehilangan nyawa demi Freya yang mereka anggap sebagai penyelamat dan sumber kehidupan.

__ADS_1


“George!”


Helena, wanita yang sudah resmi tidak menjadi tunangan George lagi. Wanita itu tidak berhenti mengganggu George.


“Jadi karena ini kamu memutuskan hubungan kita? apa karena wanita sialan itu?!” kesal Helena yang langsung menatap Freya tidak suka.


Freya yang ditatap seperti itu, justru ia balas menatap tidak suka ke arah George. “Urus tunangan Anda itu dengan benar! jangan coba-coba mengganggu saya!”


Setelahnya Freya langsung mengajak Fina untuk pergi. Freya malas jika harus meladeni wanita seperti Helena. Wanita yang penuh drama dan juga penuh akan trik licik.


Jika dia berniat melawan Freya, gunakanlah kemampuan bukan trik murahan. Karena Freya adalah wanita yang memiliki kemampuan bukan orang licik yang hanya akan menggunakan trik murahan.


Jikapun Freya harus melawan wanita itu untuk menjadi licik, ia akan menimbang keuntungan apa yang akan ia dapat nantinya dari persaingan itu!


“George, ku mohon maafkan aku. Aku sangat menyesal telah mengkhianati kamu. Aku selama ini terus merasa kesepian karena kesibukan kamu. Jadi ku mohon, tolong maafkan aku ...,” ungkap Helena dengan air mata yang terus saja menyucur diwajahnya.


Entah itu hanya air mata palsu atau memang air mata penuh ketulusan. Yang jelas George bisa menebak jika yang dilakukan Helena memang tulus, tapi ia tak akan pernah menerima wanita itu kembali.


“Helena,” nada dingin tak tersentuh itu terdengar. Seakan dalam kata itu George memberik jarak pada Helena puluhan kilo meter.


Sangat jauh dan terasa asing.


“Selama ini saya tidak bermaksud memanfaatkan kamu. Tapi sejak dulu saya tidak pernah mencintai kamu, saya berniat baik menerima kamu karena saya merasa jika apa yang kamu berikan pada saya perlu saya hargai.”


Kata-kata George memang seperti itu, bermakna dan perlu untuk didengarkan baik-baik agar Helena bisa mengerti akan maksudnya dengan jelas.


“Pengkhianatan kamu tidak berarti apapun pada saya. Justru saya berharap kamu bahagia, karena sebelum hal itu terjadi, saya berniat memutuskan hubungan ini.”


Dari apa yang Helena dengar, George seakan berkata jika ia telah berniat memutuskan hubungannya dengan Helena sebelum perselingkuhan itu terjadi. Dan Helena yang mendengar itu hanya bisa mengepalkan tangan dengan erat, seolah tak terima.


“Jadi, apakah kamu tidak memerlukan lagi informasi mengenai Kakek saya? laki-laki yang waktu itu telah menculik kamu? aku tahu tempat persembunyiannya berada. Jadi jika kamu ingin tahu, maka kembalilah padaku ...,”

__ADS_1


“Saya tidak memerlukan itu lagi.”


__ADS_2