
Freya saat ini sedang mengemudikan mobilnya itu ke tempat Rocky. Ia langsung memarkirkan mobilnya dan turun begitu saja.
Freya lalu berjalan menuju ke asrama adiknya.
“Rocky, kamu sudah hidup dengan sulit selama ini.”
Freya menatap ke arah asrama yang kini tidak lagi buruk dan kotor seperti dulu lagi. Ia sudah meminta Rocky untuk mengungkapkan identitasnya itu, dan dalam sekejap perlakuan orang-orang pada Rocky berubah.
Orang-orang yang awalnya menjauhi Rocky dan juga menganggap rendah Rocky, kini perlahan-lahan banyak yang mendekatinya.
“Dunia ini memang tidak selalu berkata mengenai yang keadilan. Maka dari itu jika kita diperlakukan tidak adil, sebisa mungkin kamu cari keadilan itu sendiri. Karena kita tahu jika tak semua bisa memberikan keadilan pada kita. Dan kita tak bisa berharap jika semua orang akan memberi bantuan atau keadilan untuk kita!” nasehat yang diberikan oleh kakeknya Garlfried.
Freya masih ingat akan nasihat itu. Itu seakan membuat dirinya kini paham, jika tak ada yang bisa memberi kita keadilan saat di tindas dan direndahkan selain diri kita sendiri.
“Kak?” Rocky yang awalnya itu hendak keluar dari kamarnya terkejut begitu melihat Freya yang berdiri di depan kamarnya.
Rocky tahu jika kakaknya itu akan selalu menarik perhatian di manapun dia berada, bahkan teman satu kamarnya atau teman yang berbeda kamar dengannya kini terlihat diam saat menatap Freya.
Mereka terpesona pada Freya, ada tatapan kagum dan tidak menyangka saat mereka melihat Freya. Sedangkan, Freya tidak menyadari akan hal itu.
“Apa kabar kamu baik?”
Kenapa? rasanya Freya merasa kaku saat ia menanyakan kabar adiknya sendiri. Ia seakan merasa jika dirinya kini yang tak pernah akrab seolah tiba-tiba akrab. Apapun itu, setidaknya dirinya tahu jika apa yang ia lakukan ini sudah seharusnya ia lakukan.
“Kek, bukankah dulu Kakek mengatakan jika Rocky itu adalah anggota keluarga Garlfried yang sangat berbeda dari yang lainnya? ternyata itu benar,” batin Freya.
“Ya, tentu aku baik-baik saja. Apa ingin masuk?”
Tanpa menjawab Freya memasuki kamar Rocky.
“Perkenalkan, dia Brian teman satu kamar aku di sini.” Rocky yang melihat Brian hanya diam, ia memilih mengenalkan langsung pada kakaknya.
__ADS_1
“Hanya dia yang berteman dengan kamu?”
Pantas saja jika Rocky berpenampilan layaknya kutu buku yang terlihat sangat cupu dan juga penakut, ternyata Rocky ingin agar mendapatkan teman yang bisa menerima dirinya apa adanya tanpa melihat apapun.
“Di-dia Kakak kamu?” gugup Brian, ia bukanlah laki-laki mesum yang sering berfikir buruk. Tapi wajahnya memerah seolah kini ia tersipu dan malu-malu pada Freya.
“Iya, kenapa? kamu terpesona?”
Wajah Brian semakin memerah saat mendengar apa yang Rocky katakan. Sayangannya Rocky yang tahu akan hal itu hanya tertawa sedikit mengejek.
“Sangat berbeda,” ujar Freya tanpa sadar.
Rocky menoleh dan menatap ke arah kakaknya itu, apa yang terlihat berbeda dari dirinya. Apa itu terasa aneh dan buruk bagi kakaknya?
Freya yang sadar akan tatapan Rocky itu, ia berniat menjelaskan apa yang tadi ia maksud, “Sejak kapan kamu pernah tertawa? oh ..., tapi itu hal yang cukup baik,” komentar Freya.
“Brian bukan? kamu bisa keluar?” tanya Freya terdengar mengusir. Ia memang tidak pernah bersikap ramah atau terlihat baik pada siapapun.
...----------------...
Begitu Brian pergi. Freya, ia langsung memberikan sebuah map yang berisi perjanjian dengan Antonio yang telah ditandatangani.
“Apa ini ...?” Rocky tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Ini adalah sebuah surat perjanjian yang telah ditandatangani ayahnya.
“Tidak mungkin ayah akan menandatangani surat ini tanpa sebuah syarat bukan? apa yang telah ayah minta dari Kakak sebagai sebuah syarat?” meskipun wajah Rocky selalu dingin dan terkesan acuh, tapi untuk pertama kalinya ia peduli pada seseorang yang tak lain adalah kakaknya sendiri.
“Tidak ada syarat khusus apapun, justru aku yang telah menawarkan syarat secara langsung. Tidak perlu khawatir, kamu bisa hidup dengan bebas. Cukup hidup dengan baik sesuai apa yang Kakek minta padamu dulu,” ujar Freya.
Rocky yang mendengar itu tiba-tiba teringat sosok kakeknya Garlfried. Laki-laki hebat yang tegas tapi juga adil dan bijak.
Garlfried adalah orang yang akan selalu bersikap adil dan tidak pernah membeda-bedakan status siapapun. Ia juga menyayangi ketiga cucunya itu. Hanya saja, rasa sayang Garlfried pada Freya tak bisa untuk dibandingkan dengan rasa sayangnya pada cucu yang lain.
__ADS_1
“Aku akan pergi, jaga diri kamu baik-baik.”
“Kak,” panggil Rocky saat Freya hendak pergi.
“Kamu juga harus hidup dengan baik! jauh lebih baik dibandingkan siapapun!” kalimat tegas yang berupa sebuah nasihat penuh harapan.
“Tentu.”
...----------------...
Freya tidak langsung pergi meninggalkan gedung universitas adiknya. Ia memilih pergi ke ruangan seseorang.
“Kamu tahu siapa saya bukan?” tanya Freya pada seorang laki-laki yang awalnya sedang menatap ke arah map yang ia bawa tadi.
“No-nona, ada apa?” Laki-laki itu adalah seorang rektor yang memimpin universitas itu. Ia juga ayah dari laki-laki yang sempat membully Rocky saat itu.
“Sungguh mengecewakan! padahal saya sudah pernah memberi kamu kesempatan untuk hidup! tapi saya tidak menyangka jika anak kamu malah berbuat hal buruk pada adikku!”
Dulu laki-laki itu adalah salah satu anggota mafia Shadow saat Garlfried masih hidup. Freya yang waktu itu telah menyelamatkan laki-laki itu saat hampir di bunuh oleh Antonio.
“Sa-saya minta maaf, saya tidak menyangka jika anak saya bersikap seperti itu pada adik Anda. Saya akan memberikan pelajaran yang sangat setimpal pada Anak saya secara langsung.”
Mata laki-laki itu menyiratkan ketakutan dan juga rasa segan. Ia segan pada Freya meski usianya masih muda, tapi laki-laki itu sadar jika Freya itu adalah cucu kesayangan tuannya.
“Berikan pelajaran yang setimpal! jika tidak saya sendiri yang akan memberikan pelajaran langsung pada Anak kamu yang tidak tahu sopan santun!”
Laki-laki itu tak menyangka jika sikapnya yang sangat memanjakan Sang Anak hingga saat ini, membuat anaknya hidup dengan bebas tanpa aturan. Bahkan ia kini menyesal karena ia terlalu memanjakan anaknya.
“Di-dia baru masuk perguruan beberapa Minggu lalu, mungkin belum bisa beradaptasi dan masih ada sifat kekanak-kanakannya saat sekolah dulu.”
“Saya tidak peduli! jika sekali lagi saya mendengar ada yang berani menyinggung adik saya, kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya nanti! ”
__ADS_1
Setelahnya Freya berbalik, tapi sebelum pergi Freya kembali buka suara,“Jangan lupa, jika universitas ini bisa ada karena kebaikan Kakekku dulu,” ujar Freya langsung pergi begitu saja.