
“Shh,” Freya akhirnya tersadar dari tidurnya itu. Ia memijat pelipisnya dengan keras. Padahal selama ini ia telah berusaha untuk melupakan kenangan penuh darah itu.
Sayangnya, mimpi sialan itu mengingatkan Freya akan masa lalunya yang penuh dengan penyiksaan dan juga ketakutan. Ia selama ini terus berusaha bertahan hidup dan selalu menghindari kematian yang selalu mengintainya.
Ting
Freya melihat komputernya yang menyala, ada pesan dari Frans yang belum Freya baca. Ia yang melihat itu langsung membukanya.
“Hah! ternyata hadiahnya bertambah? menjadi 30 miliar? sangat dermawan sekali Anda. Kalau begitu, Anda tidak akan merasa kecewa karena saya akan mendapatkan itu.”
Setelahnya jari-jari Freya terus saja berselancar dengan lincah. Tak henti-hentinya jarinya terus mengetuk-ngetuk keyboard dengan pandangan serius menatap ke arah layar komputernya itu.
Tuk
“Ya, bagus sekali.”
Entah mereka akan percaya atau tidak, Freya akan memakai akun lain untuk memberitahu jika dia yang menemukan akun itu.
Lokasinya yang memang benar, hanya saja tak ada yang tahu siapa orang itu. Tapi kenapa juga, kini Freya berubah pikiran.
Freya berfikir sejenak
Untuk apa ia membantu mereka untuk menangkap dirinya sendiri? walaupun ia berniat membohongi mereka, itu tindakan yang baginya terasa implusif.
“Lebih baik biarkan para orang-orang hebat itu terus berusaha mencari akun milikku ini. Mereka tidak akan pernah bisa mendapatkan informasi apapun dari akun yang sudah aku sembunyikan identitasnya.”
Memilih untuk mencari pekerjaan lain di situs itu. Freya tiba-tiba melihat jika ada berita bagus. Ia yang melihat itu tersenyum sejenak.
Di sana tertera, siapa saja yang berhasil membobol sistem keamanan mafia terbesar di Australia yang tak lain milik Samoni, akan diberikan hadiah.
“30 miliar? siapa orang yang sangat dermawan hingga memberikan hadiah sebesar ini?” tanpa babibu lagi, Freya langsung mengetuk-ngetuk keyboardnya.
Jari-jarinya terus saja berselancar dengan sangat lihai dan lincah, tidak ada jeda sekalipun dalam gerakannya, seakan ia akan tertangkap jika jarinya berhenti sejenak saja.
Ting
Bang
Ting
Bang
Ting
Bang
Sistem keamanan yang berlapis-lapis terus Freya bobol tanpa ampun. Detik demi detik waktu serasa terasa lama dan bermakna, hingga pada akhirnya Freya berhasil membobol itu.
“Data-data ini?” Freya tidak menyangka jika akan ada sesuatu yang berharga yang ia cari selama ini. Alasan kematian kakeknya, yang ternyata mati karena sebuah tembakan dan luka tusukan.
Padahal Freya saat kecil tidak tahu jika ternyata kakeknya mati karena terbunuh. “Apa ini nyata?” tanya Freya.
__ADS_1
Sanyanya, Freya harus mencari bukti lain untuk bisa menemukan siapa yang membunuh kakeknya secara langsung. Karena, siapa yang membunuh itu tidak diketahui dan dijelaskan dengan pasti.
......................
Sementara itu.
Samoni yang harus menghentikan pergulatannya bersama Greta. Ia memandang para bawahannya dengan kesal dan marah.
“Ada masalah apa hingga kamu harus mengganggu kesenanganku? apa kamu pikir jika kamu akan bisa bebas untuk saat ini?” tanya Samoni dengan nada sinis.
“Tu-tuan, maafkan saya. Ada masalah yang sangat mendesak dan perlu untuk Anda urus. Ini karena masalah ini perlu untuk Anda ketahui.”
“Jadi, masalah apa itu?” tanya Samoni langsung.
“Sistem keamanan kita telah dihancurkan oleh orang tak dikenal, data-data penting dari musuh dan klien kita sedang terancam tuan. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan,” kata asisten dengan wajah menunduk karena merasa takut.
Mendengar hal itu, Samoni langsung mengecek ke arah komputernya. Apa yang ia lihat kini mulai membuatnya resah dan gelisah. Data yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun melebihi apapun, kini telah menghilang.
“Sialan! kenapa bisa seperti ini?!”
“Tuan, saya sempat mendengar jika ada musuh Anda yang bekerja sama untuk menyerang Anda. Mereka sampai membuat perlombaan dengan hadiah fantastis yang luar biasa itu!”
“Sialan! siapapun musuhku itu akan aku balas nanti. Kamu segera lacak keberadaan akun itu!” perintah Sam yang langsung diangguki bawahannya itu.
Samoni hanya terdiam sambil menatap ke arah layar komputernya. Ia ingin melihat data apa saja yang tadi menghilang ataupun diambil.
“Siapa yang telah memasang sayembara itu? tak mungkin George! laki-laki itu sudah berjanji tidak akan pernah menyinggungku sekalipun aku akan menyinggungnya!” kata Samoni yakin.
Perjanjian itu terjadi karena orang itu!
“Apa sudah kamu temukan identitas dari pemilik akun itu? tidak peduli sesulit apapun cari terus hingga bisa kamu dapatkan informasi orang itu!”
Setelahnya, Samoni kembali menatap ke arah layar komputernya.
......................
Keesokan harinya.
Greta yang berada di restoran. Ia hanya diam tak bergeming. Pandangannya mulai berbuah menjadi ketakutan saat orang yang ia pikir meninggal justru berada tepat dihadapannya.
“Apa sudah puas melihat?”
“Sialan! lepaskan! dasar monster!!”
Plakk
Detik itu juga Freya menampar Greta dengan keras. Ia tidak hanya menamparnya sekali, tapi tiga kali sekaligus.
Plakk
Plakkk
__ADS_1
Plakkk
Tamparan terakhir justru semakin keras.
Greta yang merasa keram karena pipinya seolah tidak bisa digerakkan lagi. Rasa sakit di pipinya itu nyatanya, hingga saking sakitnya ia merasa keram dan tidak bisa untuk membuka mulutnya sejenak.
“Sekali kamu bilang monster, maka tiga tamparan akan mendarat mulus di wajah kamu!” tegas Freya langsung.
Greta kini sedang duduk dengan posisi kedua tangan dan kakinya yang terikat. Ia tidak bisa melawan karena ia datang hanya dengan satu pelayan pribadinya.
“Si-siapa kamu?! kamu pasti bukan Freya 'kan? lepaskan saja topeng wajah itu! wanita monster sialan itu sudah lama mati!” meski kesulitan tapi Greta tidak berhenti memaki.
Plakk
Plakkk
Plakkk
Tamparan itu kembali mendarat mulus di pipi Greta. Hingga Greta sadar jika pipinya mulai mengeluarkan darah saking tariknya tamparan itu.
“Sudah saya katakan untuk tidak memanggil saya lagi dengan sebutan monster! tapi kamu sungguh sangat tak tahu diri!” dingin Freya.
“Sekalinya Monster tetap monster! dasar monster jelek!”
Plakk
Plakk
Plakk
Freya jadi merasa sedikit kasihan pada adiknya itu, padahal ia sudah memperingati adiknya. Tapi dia memang sangat keras kepala dan tidak pernah sadar akan situasinya.
Beberapa detik kemudian, wajah Freya berbuah menjadi datar tak tersentuh. Ia tidak akan pernah merasa kasihan pada wanita yang berniat untuk menghancurkan hidupnya.
“Jadi, apa kamu berani berkata monster lagi?” sinis Freya hanya di jawab kebungkaman.
Greta mulai menangis, rasa sakit dipipinya sungguh sangat menyakitkan dan tidak tertahankan. Padahal rasa sakit yang Greta berikan pada Freya itu jauh lebih menyakitkan dari ini.
Freya bahkan harus menanggung rasa traumanya hingga ia mengalami lupa ingatan karena syok.
“Anak pintar, bukankah jika tenang seperti ini kita akan berdiskusi dengan mudah?” kata Freya yang langsung berjongkok dan menatap Greta tajam.
“Ya, bagaimana kabar kamu?” tanya Freya yang kini terlihat menyeramkan di mata Greta.
“A-ap mau kamu!” dengan susah payah Greta mulai berteriak kencang.
“Gampang, akui saja jika kedua anak kamu itu bukan anak kamu dengan Yoshua, bukankah itu mudah?”
“Apa kamu belum bisa melupakan laki-laki itu? apa kamu masih tidak terima dia bersamaku sekarang?”
“Tidak! bukan itu yang saya maksud, yang jelas kamu tidak akan paham. Cepatlah katakan dengan jelas, biar aku yang akan merekamnya. Jika masih kurang jelas kita akan terus merekam hingga pagi,” kata-kata dingin dan datar yang Freya katakan dengan santai, tapi justru penuh akan ancaman.
__ADS_1
“Ba-baik.”