
Freya terlihat bingung apakah ia harus mengatakan tentang seseorang yang memanggilnya dengan sebutan Freya saat itu.
Tapi saat melihat Madam Amilia terlihat sangat sibuk, Freya memilih untuk tidak mengatakan itu. Freya pamit dan memilih pergi ke kamarnya.
“Istirahatlah dengan baik, jika ada sesuatu yang kamu perlukan. Katakan saja pada Madam,” ujar Madam Amilia yang tersenyum menatap cucunya.
Jika selama ini cucunya tak pernah mendapatkan keadilan hidup dan kasih sayang, maka biarkan dia memberikan langsung kasih sayang itu pada cucunya.
Sebenarnya, dari dulu Amilia sudah sangat peduli dan perhatian pada cucunya. Ia akan mengirimkan banyak hadiah mewah dan mahal setiap cucunya ulangtahun, kadang jika senggang ia mengirimkan juga banyak hadiah pada Freya melalui orang-orang suruhannya itu.
Sayangnya, Freya tak pernah menerima itu, karena hadiah yang Amilia berikan pada cucunya justru diambil alih oleh Greta dan Camilla. Ibu dan anak itu, malah mengaku-ngaku jika barang milik Freya adalah milik mereka. Dan bahkan hingga saat ini Freya tak tahu itu.
“Baru saja aku tahu jika ternyata barang-barang yang ku kirim untuk cucuku justru jatuh pada orang-orang tak tahu diri seperti mereka.”
Madam Amilia tak menyangka jika alasan dirinya tidak bisa bertemu cucunya bukan karena cucunya yang tidak menerimanya. Tapi justru cucunya yang selama ini tidak pernah mengetahui keberadaan dirinya.
......................
Keesokan harinya.
“Oh ya, kamu tidak keluar lagi sayang?” tanya Madam Amilia melihat ke arah Freya.
“Tidak Madam, hari ini aku tidak enak badan.”
“Apa perlu ke dokter?” tanya Madam Amilia khawatir.
“Tidak perlu Madam, ini hanya sakit biasa.”
“Oh ya, baiklah ..., aku akan mengirimkan dokter kalau begitu. Kamu katakan saja apa yang kamu butuhkan.”
Melihat kepergian Madam Amilia, Freya terdiam. Ia tidak tahu jika dirinya kenapa memilih untuk beralasan sakit, padahal ia tidak sakit sama sekali.
“Apa karena wanita waktu itu jadi aku seperti ingin menghindarinya?” tanya Freya pada dirinya sendiri. Padahal tidak seharusnya dirinya menghindar dari wanita itu.
......................
Beberapa hari berlalu.
__ADS_1
Freya akhirnya memilih untuk memutuskan pergi ke restoran waktu itu. Ia sadar jika dirinya tidak boleh menghindar dari wanita itu.
Justru Freya harusnya bertanya lebih jelas kepada wanita itu tentang identitasnya. “Bukankah wanita itu tahu banyak tentang identitasku? jadi untuk apa aku malah menghindarinya?” tanya Freya pada dirinya sendiri.
“Sayang, mau kemana?” tanya Madam Amilia saat ia melihat jika Freya terlihat rapi mengenakan gaun yang sempat ia beli untuk cucunya.
“Madam, aku ingin pergi sebentar. Sepertinya butuh menjernihkan pikiran setelah lama di rumah.”
“Oh baguslah, itu memang baik. Madam boleh ikut?”
“Bukankah Madam sibuk?”
“Tidak sama sekali. Sepertinya Madam juga bosan jika terus di rumah. Hari ini Madam akan memiliki banyak waktu senggang, jadi Madam ingin ikut dengan kamu.”
“Baiklah.”
...----------------...
Pada akhirnya Freya pergi ke restoran yang sering ia kunjungi dengan Madam Amilia yang juga ikut. Shan yang biasanya ikut kini tidak hadir karena ditugaskan untuk mengurus masalah perusahaan.
“Entahlah, yang terpenting mengenyangkan.”
Meski lupa ingatan, hobi dan juga kebiasaan Freya tidak pernah hilang. Dan sebenarnya alasan utama Freya bisa ada di tempat ini, itu karena Shan yang merekomendasikan restoran ini.
Shan menjelaskan jika makanan di restoran ini sangat enak, penuh dengan rempah-rempah dan juga bumbu yang menyehatkan di dalamnya.
“Jika orang lain memakan makanan ini, mereka pasti akan berkomentar jika makanan ini terlalu kebanyakan bumbu. Tapi sepertinya kamu tetap nyaman layaknya kamu sudah sering menikmati makanan ini ya.”
Sebagai wanita yang kini sudah tidak muda lagi, Madam Amilia memang sering mengonsumsi makanan sehat, ia juga sangat sering memakan makanan yang tela diberi bumbu atau tambahan rempah-rempah yang sangat menyehatkan.
“Tidak tahu, semua terasa sama.”
Masih sama, bagi Freya makanan apapun yang masuk ke mulutnya itu terasa enak. Lagipula rempah-rempah yang ada di makanan itu tidak terlalu berlebihan jika menurutnya.
“Freya,” ujar Fina memanggil Freya.
Fina kini kembali datang ke restoran itu, ia yang sudah lama menunggu kedatangan Freya, akhinya ia pun bisa bertemu Freya lagi.
__ADS_1
Berbeda dengan Fina yang sangat senang. Ketiga orang dibelakangnya yang tidak lain adalah Nick, Athaya dan juga Frans. Mereka masih terlihat tidak menyangka, hingga mereka bertiga terus saja mematung.
“Kalian tidak ingin menyapa Freya 'kah?” senggol Fina pada lengah Athaya dan Nick.
“Diamlah!” kesal Nick pada Fina.
“Kenapa? terlalu senang bukan bisa melihat Freya?” ledek Fina pada Nick.
“Kalian siapa?” tiba-tiba saja Madam Amilia yang hanya diam langsung bertanya dengan nada tidak sukanya.
Biasanya restoran ini cukup privasi karena memiliki ruangan yang berbeda-beda. Tapi entah kenapa kini justru ada pengganggu di ruangannya, hal itu membuat Madam Amilia merasa tak suka akan hal itu.
“Oh ya, perkenalkan kami adalah teman-teman Freya.”
“Siapa itu Freya? dia adalah Anaya, cucu kandung saya. Mau apa kalian menemuinya?” tanya Madam Amilia dengan tatapan waspada yang terkesan tak suka.
“Anda adalah neneknya? tidak mungkin jika Anda tidak tahu kalau wanita yang menjadi cucu Anda ini adalah Freya, bukan Anaya yang Anda sebutkan itu,” ujar Fina yang tak ingin kalah pada apa yang ia yakini kini.
“Ya, saya adalah neneknya. Nenek kandung dari wanita yang ada dihadapan saya saat ini. Sebagai seorang nenek, saya tahu mana cucu saya dan mana yang bukan, jadi jangan mencoba untuk mengajari saya!”
“Tapi Nek, dia benar-benar adalah Freya, bukan Anaya! mungkin Anda salah orang menganggap jika Freya itu adalah Anaya.”
“Fina,” peringatan dari Frans seakan mengatakan jika Fina harus diam dan jaga emosi, mereka kini ada di ruangan privat orang lain.
“Benar-benar restoran yang buruk! bagaimana bisa mereka membiarkan pengganggu ini mengganggu ketenangan kami. Sudahlah Anaya, ayo kita pulang,” ajak Madam Amilia pada Freya.
Freya hanya mengangguk dan mengikuti, tapi di saat Freya hendak bangkit. Fina dengan sangat gigih ingin memberi tahu Freya akan identitasnya.
“Kamu itu adalah Freya Garlfried! cucu pertama keluarga Garlfried! keluarga terpandang di negara A. Kalau memang tidak percaya, coba kamu cari tahu tentang Freya Garlfried. Kalian sangat mirip dan tidak ada perbedaan sama sekali, aku yakin jika kamu adalah orang yang sama.”
(POV author: jadi di sini Freya itu cucu pertamanya dari keluarga Garlfried, nah nama dari keluarga Garlfried itu di ambil dari nama kakeknya, pendiri perusahaan)
Freya mendongkak menatap Fina dengan tatapan tak percaya itu. “Aku Freya Garlfried?” tanya Freya tak yakin.
Melihat itu, Madam Amilia terus saja mengajak Freya agar segera pulang. “Aku tak akan pernah membiarkan kamu mengunjungi restoran itu lagi.”
Sebenarnya Madam Amilia tahu jika itu bukanlah salah dari restoran itu, hanya saja ia takut jika nanti Freya akan tahu akan identitasnya itu.
__ADS_1