Pembalasan Dendam Si Cantik

Pembalasan Dendam Si Cantik
Bertemu Yoshua


__ADS_3

Freya akhirnya menutup ponselnya itu, ia lalu menyerahkan ponsel itu pada Donald.


“Pertemuan hari ini sampai di sini,” kata George yang langsung bangkit dari duduknya. Ia hendak pergi tapi Freya mengatakan sesuatu yang berhasil membuat George menoleh.


“Apa Rea adalah tunangan kecil yang sedang Anda sembunyikan?” pertanyaan itu langsung membuat George menatapnya.


“Kamu terlalu banyak berfikir,” kata George tegas. Seakan secara tidak langsung George berkata jika apa yang dikatakan oleh Freya hanya pemikirannya saja.


Hubungan antara George dan juga pelayan kecil bernama Rea tidak seperti itu, mereka bukanlah sepasangan kekasih. Lebih tepatnya hubungan itu seperti keluarga menurut Donald. Dan hanya Donald serta George yang tahu mengapa mereka memperlakukan Rea dengan sangat baik.


Mendengar apa yang George katakan, Freya diam dan melihat jika George telah pergi menjauh.


“Kenapa juga harus bertanya seperti itu? bukankah terserah dia jika memang memiliki kekasih?”


Setelah mengatakan itu, Freya pergi dan langsung berniat menemui Yoshua. Beberapa hari ini, Yoshua tidak bisa menemui dirinya. Padahal sejak menjadi tawanan saat itu, Freya tidak pernah sekalipun melihat Yoshua.


...****************...


“Hay Freya,” senyum semangat itu terlihat muncul di wajah Yoshua saat bisa melihat kekasihnya kini berada dihadapan dirinya.


Tanpa pernah Freya duga, Yoshua langsung memeluk Freya dengan erat. Pelukan itu hanya Freya balas dengan sikapnya yang mematung.


“Kak,” Freya sadar jika Yoshua tidak sendirian di sana. Ia kini bersama dengan adiknya Greta.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Greta dengan lembut.


Haruskah Freya memberikan Greta piala Oscar pada adiknya sebagai penghargaan untuknya? dia sangat pandai jika berakting dihadapan Yoshua. Jelas sekali, tatapan yang muncul di wajah Greta adalah tatapan riang tanpa takut, padahal Freya tahu jika dibalik tubuh itu, tangan Greta sedang bergetar karena takut.


“Tentu, aku tidak akan mati secepat itu,” kata Freya dingin.


Seperti biasa, setiap Freya berucap dengan nada dingin dan datar, justru Greta menganggap itu sebagai sebuah ancaman. Padahal Freya tidak mengancamnya sama sekali.


Mungkin karena Greta sangat takut pada Freya, ia bahkan tidak menganggap jika wanita yang berada dihadapannya ini adalah kakaknya sendiri, karena Greta tidak pernah sekalipun menganggap Freya sebagai manusia. Baginya, Kakaknya itu adalah monster.


“Ayo kita duduk!” ajak Yoshua yang langsung diangguki oleh Freya saat itu juga.


Freya akhirnya duduk dengan santai di sebuah bangku yang sudah tersedia untuknya. Ia hanya diam dan tidak mengatakan apapun.

__ADS_1


“Apa kamu lapar?” tanya Yoshua perhatian.


Freya yang mendengar itu hanya diam, ia kini justru memperhatikan adiknya yang terdiam dan menatap dirinya dengan senyuman.


Senyuman palsu yang Freya sadari sejak awal. Freya tahu jika kini Greta sedang menahan rasa benci dan takut padanya.


Freya bingung, mengapa adiknya bisa setakut itu pada dirinya? padahal sekalipun Freya tidak pernah berniat ataupun melukai Greta sekalipun. Tapi, ia berusaha untuk abai akan sikap adiknya itu.


“Apa kalian juga lapar?” tanya Freya yang masih saja menatap ke arah Greta.


Hingga Yoshua pun menoleh dan menatap ke arah Greta. Sekilas, wajah kesal dan ketakutan dari Greta langsung hilang, tangganya yang terkepal langsung rilexs saat Yoshua memegang tangannya.


“Apa kamu lapar juga?” tanya Yoshua memegang tangan Greta. Yoshua ingin menunjukkan pada Freya jika dirinya adalah Kakak ipar yang baik.


“Padahal sejak tadi kamu tidak menawarkan makan sama sekali. Kamu hanya sibuk dengan orang yang sedang kamu perhatikan saat ini. Dan orang itu adalah orang yang sangat aku benci dibandingkan apapun di dunia ini,” batin Greta yang hanya bisa mengangguk sebagai balasan dari pertanyaan Yoshua.


“Kak, Greta sangat lapar, sepertinya bukan hanya Greta saja yang lapar, cacing kecil ini juga lapar,” kata Greta dengan ambigu.


Freya yang mendengar itu tak menganggap serius sama sekali. Berbeda dengan Yoshua yang justru menganggap serius akan hal itu. Yoshua sadar akan apa yang Greta maksud.


“Kalau begitu kita akan makan,” kata Yoshua yang akhirnya segera memesan makanan.


“Kita makan saja dulu,” kata Freya yang akhirnya diangguki oleh semuanya.


Freya diam, ia sedang berfikir. Apa ia harus jujur mengenai dirinya yang kini tidak ada bedanya dengan sebuah tawanan? hanya saja, ia diberi kebebasan karena sebuah perjanjian.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Yoshua yang langsung dijawab gelengan.


“Tidak ada! sejak kapan kalian menjadi dekat?” tanya Freya menatap ke arah Greta.


“Kami dekat sejak-”


“Tidak ada kata dekat, kami hanya sering bertemu karena ingin menemukan kamu secepatnya. Dan sebagai kakak iparnya di masa depan, bukankah sangat wajar jika kami nanti akan dekat?” tanya Yoshua yang hanya dijawab kebungkaman.


“Iya, sudah seharusnya kalian dekat,” jawab Freya tanpa curiga apapun.


“Kak-”

__ADS_1


“Greta, apa kamu bisa kembali lebih awal? aku ingin berbicara sesuatu pada Freya,” seakan ia merasa takut jika nanti Greta berkata sesuatu, dengan cepat Yoshua secara tidak langsung mengusir Greta.


“Greta belum menyelesaikan acara makannya Kak, apa Greta tidak bisa tetap di sini?” pertanyaannya itu hanya dijawab anggukan oleh Yoshua.


“Kamu makan lebih dulu saja, setelah itu kamu baru pulang,” putus Yoshua yang mengambil keputusan sepihak.


“Iya,” singkat Greta sedikit menunduk.


Freya menatap heran akan hal itu, kenapa Yoshua seolah sedang menyembunyikan sesuatu darinya? dan kenapa laki-laki itu terlihat ingin menjauhkan dirinya dari Greta? apa alasan laki-laki itu?


“Biarkan saja Greta tetap di sini,” kata Freya tiba-tiba.


“Tidak Freya! Greta pasti kelelahan karena selama ini bersamaku mencari kamu. Jadi ada baiknya ia untuk istirahat agar tidak sakit,” jelas Yoshua yang tidak ditentang oleh Freya lebih jauh.


...****************...


Setelah kepergian Greta.


Freya hanya diam dan melanjutkan acara makan siangnya itu. Ia tadi sempat makan di restoran, tapi ia tidak makan dengan banyak karena tak nyaman saat berhadapan dengan George secara langsung.


“Freya,” panggilan itu langsung dibalas tatapan.


“Ayo kita menikah,” kata Yoshua dengan serius.


“Kenapa terburu-buru sekali? bukankah kamu ingin mewujudkan banyak mimpi sebelum kita menikah? aku ingat jika kamu masih memiliki suatu tujuan sebelum menikah denganku. Bukan begitu?” heran itu yang Freya kini sedang pikirkan.


“Aku berubah pikiran. Aku justru ingin kita menikah lebih awal, jadi ayo kita menikah!” ajak Yoshua yang serius juga terkesan terburu-buru.


“Itu terlalu tiba-tiba Yoshua, aku perlu untuk memikirkan ini lebih banyak.”


“Semoga kamu segera mengambil keputusan Freya. Aku harap kita akan segera menikah dan menjadi suami istri seperti umumnya.”


...----------------...


Sekembalinya dari restoran itu, Freya hanya diam. Ia tidak mengatakan apa-apa. Seolah Freya sedang berfikir dengan apa yang Yoshua katakan.


Freya tidak mungkin mengambil keputusan secepat itu, ia tidak mungkin langsung setuju untuk menikah tanpa bisa berfikir panjang. Masih ada sisa trauma yang pernah Freya rasakan akan pengkhianatan kekasihnya dulu.

__ADS_1


“Sepertinya aku perlu informasi akan sesuatu,” kata Freya yang langsung mengambil laptop kesayangan miliknya itu.


__ADS_2