
“Nona,” sebuah suara berhasil menyadarkan Freya dari mimpi yang berusaha ia kubur itu.
Freya langsung mengerjap dan membuka matanya. Ia menatap ke arah kepala pelayan yang kini sudah ada dihadapannya ini.
“Tuan menyarankan agar Anda bisa pergi untuk sekedar berbelanja. Jika ada sesuatu yang Anda inginkan Anda bisa mengatakan itu pada saya langsung, biar saya yang akan mengatakan hal itu pada tuan.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Betty, Freya hanya menggeleng. Ia tidak terbiasa dengan kebaikan orang lain, terlebih laki-laki itu adalah George.
“Saya tidak ingin apapun, tolong biarkan saya istrirahat karena saya sangat lelah,” tatapan mata Freya sengaja mengatakan jika ia ingin agar kepala pelayan itu segera keluar dari ruangannya.
“Baiklah, jika butuh sesuatu Anda bisa katakan langsung,” itulah yang terakhir kali Betty katakan.
...----------------...
Tapi nyatanya kini, di sebuah mall Freya terlihat hanya memandang acuh pada sekitarnya. Ia yang menolak untuk pergi ke pusat perbelanjaan justru kini di paksa untuk pergi berbelanja.
“Apa benar-benar tidak ada yang ingin Anda beli?” tanya Betty setelah hampir tiga puluh menit mereka berkeliling.
“Sudah aku katakan sejak awal, aku tidak ingin berbelanja apapun!” tegas Freya.
Freya benci di paksa, tapi ia lebih benci lagi dengan sikapnya kini yang terlihat seolah ia tidak berdaya.
Bagaimana Freya akan melawan George jika ia saja belum mengetahui apa yang harus ia lakukan. Lebih tepatnya Freya belum memiliki kemampuan cukup untuk melawan laki-laki itu.
“Kalau begitu akan saya pilihkan pakaian untuk Anda,” putus Betty yang pada akhirnya memilih mengambil keputusan sendiri.
Betty pergi meninggalkan Freya yang menunggu sendiri di tempat yang lebih tepatnya sebuah ruangan khusus yang sepi.
“Enak sekali ya hidup Anda sekarang, tidur tinggal tidur aja, makan tinggal makan aja, bahkan saat akan belanja Anda masih ingin dilayani?” sebuah suara dengan nada penuh permusuhan dan sindiran itu terdengar.
Freya yang mendengar itu langsung memandang dengan pandangan tak acuhnya. Wanita yang ada di hadapan dirinya saat ini adalah Helena.
“Kenapa hanya diam? apa tidak ada yang ingin kamu katakan?” tanya Helena menatap tajam.
Tatapan tajam itu tak pas dengan wajahnya yang terlihat polos dan manis. Bahkan, di saat ia marah, Helena masih terlihat manis dan lugu.
Freya yang memang tak suka jika berebut sesuatu, ia memilih untuk pergi. Terlalu melelahkan rasanya jika dirinya harus meladeni wanita seperti itu.
__ADS_1
Tapi, saat Freya melangkah tiba-tiba terdengar suara ...
Plakk
Plakk
Plakk
Suara tampan yang keras itu langsung membuat Freya menoleh. Ia tak menyangka dengan apa yang telah di lakukan oleh Helena.
Wajah wanita itu kini terlihat berantakan, dengan bekas tamparan yang tercetak dengan jelas hingga wajah putihnya langsung memerah.
“Hiks ...,” tangisan yang seakan sangat tersakiti itu keluar begitu saja.
“Kenapa kamu melakukan ini padaku? apa salahku pada kamu?”
Drama yang sudah biasa Freya lihat entah di televisi ataupun di jalanan. Kini ia tak menyangka jika drama itu akan ia lihat dan ia alami langsung.
Suasana sekitar yang awalnya sepi mendadak ramai seketika itu juga. Tamparan yang sangat keras tadi membuat kerumunan itu merasa penasaran dengan suara tamparan berasal.
“Ya ampun ..., bukankah itu keterlaluan?”
“Dia mengerikan!”
“Tega sekali dia menampar wanita polos sekeras itu.”
Banyak sekali bisik-bisik yang seakan memojokkan Freya saat ini. Mereka yang tidak melihat kejadian sebenarnya dengan seenaknya menyimpulkan sendiri jika Freya yang sedang berdiri itu yang memukul Helena.
“Apa kamu memang wanita? kamu sungguh mengerikan! bagaimana bisa kamu sejahat itu?”
Menatap seorang wanita yang kini menghampirinya seolah ingin memakinya. Freya yang melihat itu hanya diam, ia awalnya ingin pergi dengan baik-baik, tapi ia tak menyangka jika akan ada drama seperti ini.
“Drama yang indah,” komentar dari Freya berhasil membuat orang-orang yang mendengarnya bertambah kesal.
“Apa yang kamu maksud dengan drama? jelas-jelas kamu memukul wanita malang ini dengan keras!”
“Apa kamu melihat saya memukulnya?” tanya Freya yang membuat wanita itu hanya diam.
__ADS_1
“Tidak 'kan? jadi kenapa Anda bisa dengan mudah menyimpulkan itu seenaknya?” acuh Freya, ia memang orang yang tak peduli.
Jika Freya peduli pada nama baik dan juga makian dari orang-orang, bukan Freya namanya. Wanita itu akan tetap acuh dan tak peduli sekalipun ia kini terlihat seperti tersangka bagi orang-orang.
“Tidak mungkin ada yang berani memukul dirinya sendiri sekeras dan separah ini! apa kamu gila?” ucap wanita itu lagi. Wanita muda dengan gaun pink yang memiliki panjang hampir selutut, ia dengan gigih terus membela Helena.
Perkataan dari wanita itu yang seakan meyakinkan bagi orang-orang semakin membuat suasana ramai dengan ujaran kebencian dan cacian.
“Jadi menurut Anda tidak mungkin ada orang yang akan memukul dirinya sendiri seperti itu?” ulang Freya lagi.
“Kalau begitu, jika saya mengatakan saya melihat jika wanita yang terduduk itu memukul dirinya sendiri, Anda tetap tidak akan percaya bukan? jadi untuk apa Saya menjelaskan itu?”
Freya awalnya hendak berbalik dan pergi, tapi wanita berbaju pink terus saja menghalanginya. Merasa tidak ada pilihan selain harus melawan, Freya pun tersenyum.
Sepertinya wanita berbaju pink itu juga adalah orang yang telah dibayar oleh Helena. “Sangat mengagumkan ternyata,” batin Freya menatap Helena dengan senyum meledeknya.
Helena yang kini terlihat sangat kasihan dan juga prihatin. Wajahnya yang berantakan dengan genangan air mata yang tak henti-hentinya menetes, membuat orang-orang merasa iba dan kasihan padanya.
Seakan mereka yang melihat itu ingin memeluk Helena dan mengatakan jika mereka akan melindungi Helena.
“Jadi apa yang Anda inginkan sekarang?” tanya Freya langsung dengan pandangan acuh dan meremehkan.
“Minta maaf! minta maaf pada wanita yang kamu sakiti ini. Kamu harus berjanji untuk tidak menyinggungnya lagi!” tegas wanita berbaju pink itu.
“Jika saya tidak mau? apa yang akan Anda lakukan?”
“Berarti Anda adalah orang yang buruk dan sangat mengerikan! menjijikkan sekali! saat berbuat salah malah kabur dan tidak meminta maaf!”
“Saya tidak peduli!” acuh Freya.
“Anda jangan membuat kami harus bertindak nona, tolonglah bersikap terhormat dan jangan berbuat hal rendahan seperti ini!” ujar wanita berbaju pink lagi, ia sepertinya ingin memprovokasi orang-orang agar mereka semakin membenci Freya.
“Jika tidak ada yang percaya, bagaimana jika kita lihat kamera pengawas yang ada di sekitar sini?” tanya Freya lalu menatap ke arah Helena.
Jelas, wanita itu terlihat tidak takut sama sekali, seakan ia mengatakan jika ia telah merencanakan ini semua sebaik mungkin.
“Baik, ayo kita ke ruang kamera pengawas yang ada di mall kalau begitu.” Freya tak menyangka jika Helena akan memilih untuk menghampiri dirinya di saat ia sedang beristirahat di tempat sepi atau ruang istirahat.
__ADS_1
Tapi apapun rencana dari Helena, kini Freya akan melawannya. Tidak ada jalan kembali untuknya.