Pembalasan Dendam Si Cantik

Pembalasan Dendam Si Cantik
Ingatan kembali


__ADS_3

Freya yang kini sudah berada di kamarnya. Ia ingat jika ia mendapatkan selembar kertas yang terlihat seperti sebuah kartu nama dari seseorang.


Freya yang penasaran langsung saja mengecek kartu nama yang terlihat seperti sebuah identitas dari orang yang tidak ia ketahui.


Antonio


Itulah identitas yang tertera di kartu nama yang kini sedang Freya pegang. Ia merasa penasaran dengan hal itu, lantas Freya langsung mencari siapa sosok Antonio itu.


Dan begitu telah Freya telusuri, ada beberapa foto yang terlihat di sana. Mungkin mereka jarang itu berfoto karena sibuk, hanya saja ada salah satu foto yang bisa menarik perhatian Freya.


Di sana ia melihat jika di salah satu foto itu ada lima orang anggota keluarga. Nama keluarga itu adalah Garlfried, cukup terkenal tapi tertutup.


Dan yang menjadi perhatian Freya saat ini adalah, sosok seorang wanita yang mirip dengan dirinya disana. Walaupun keluarga itu seolah-olah ingin menunjukkan sikap dan keadaan keluarga yang harmonis, tapi wanita yang mirip dengan dirinya seolah menjaga jarak meski tidak terlalu jauh.


“Apa aku memang benar-benar salah satu anggota dari keluarga Garlfried? apa ini maksud Athaya? ia ingin agar aku yakin akan apa yang mereka katakan bukan? ”


“Shh,” tiba-tiba Freya meringis ngilu saat kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Ada sesuatu yang seolah kini sedang menghantam kepalanya dengan keras.


Hingga Freya yang tidak pernah pingsan akhirnya pingsan dan tak sadarkan diri saat itu juga.


...****************...


Madam Amilia yang merasa heran dengan cucunya yang tak kunjung datang ke meja makan. Ia lantas langsung berjalan mendekati kamar cucunya.


“Sayang, apa kamu tidak lapar? makanan kesukaan kamu sudah dihidangkan di atas meja makan. Ayo kita makan sayang,” ujar Madam Amilia setelah ia beberapa kali mengetuk pintu.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar Freya, bahkan untuk kesekian kalinya Madam Amilia memanggil Freya. Wanita yang kini berada dikamarnya hanya diam.

__ADS_1


Suasana hening itu terasa begitu lama.


Madam Amilia yang merasa khawatir akhirnya ia pun memilih salah satu pelayannya untuk membuka pintu kamar Freya dengan kunci cadangan.


“Ya ampun sayang ...,” kata Madam Amilia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


...----------------...


Beberapa hari kemudian.


Semenjak tidak sadarkan diri waktu itu. Kini Freya sudah sadar setelah tiga hari berlalu. Ia kini banyak terdiam dan termenung di dalam kamarnya.


“Kenapa? apa ada sesuatu yang membuat kamu merasa tak nyaman saat ini?” tanya Madam Amilia, ia dengan telaten menyuapi cucunya itu.


“Kenapa hanya diam? bukankah sudah waktunya kamu untuk segera makan? ayo makan sayang!” ujar Madam Amilia yang membujuk Freya agar membuka mulutnya.


“Apa memang ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman? jika memang seperti itu, kamu bisa berkata langsung pada Madam tentang sesuatu yang membuat kamu tak nyaman itu,” ujar Madam Amilia yang kini terdengar lebih lembut lagi.


Freya memalingkan wajahnya pada komputer yang berada tak jauh darinya. Terakhir kali saat ia tak sadarkan diri, Freya sedang mencari tahu identitas seseorang, dan Freya yakin jika Madam Amilia tahu siapa yang ia sempat cari itu.


“Apa Anda tahu siapa yang terakhir kali saya lihat di komputer itu? tidak mungkin bukan jika Anda tidak mengetahui akan hal itu?” pertanyaan Freya dengan tatapan matanya yang berbeda dari biasanya.


Selama tinggal bersama Madam Amilia, Freya akan selalu berkata dengan lembut dan ramah. Sikapnya itu juga banyak di sukai oleh banyak orang. Tapi kini, sikap ramah dan lembut itu seolah hilang.


“Kenapa kamu berbicara dengan nada asing?” tanya Madam Amilia yang merasakan jika ada sesuatu yang salah saat ini. Ia tidak mungkin tak sadar akan perbedaan Freya saat ini.


“Saya sudah mengingat semuanya, saya Freya.”

__ADS_1


Apa yang Freya katakan membuat Madam Amilia diam dan mematung. Ada tatapan yang tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, tapi dibandingkan itu, rasa sedihnya terlihat jelas dalam tatapannya.


“Dan saya mengingat jelas identitas saya selama ini. Hal yang tak pernah saya tahu adalah siapa Anda? kenapa bisa Anda berbicara seolah Anda itu adalah keluarga saya? Nenek saya? padahal saya itu sudah tidak punya Nenek.”


Istri Garlfried yang merupakan nenek Freya dari pihak ayahnya, telah meninggal dunia sejak Freya berusia 5 tahun. Ia memang sedikit dekat dengan neneknya dulu, tapi tidak bisa dibandingkan dengan kedekatan Greta dengan neneknya dulu.


“Pada akhirnya kamu mengingat semuanya ..., tapi kenapa waktu bersama dengan kamu terasa sangat singkat sekali. Padahal Madam masih ingin menunjukkan rasa sayangku padamu lebih lama,” ujar Madam Amilia dengan tatapan sedihnya.


Senyum hambar dengan tatapan waspada dari wajah Freya terlihat. “Tidak mungkin bukan jika Anda akan menyayangi saya tanpa ada sebuah imbalan apapun? dunia ini sangat licik dan kejam! ada bayaran atas apa yang kita terima,” kata Freya dengan disertai tatapan mata dinginnya.


Freya kini tidak akan lengah, ia tidak akan mudah percaya pada siapapun lagi. Rasa sakitnya, akibat pengkhianatan dari keluarganya membuatnya tidak akan bisa percaya lagi pada siapapun.


Kekecewaan itu terasa begitu nyata. Ia berpikir jika mereka hanya takut dan hanya menganggap dirinya sebagai monster karena kemampuannya. Ternyata selain menganggap ia monster, keluarganya ingin melenyapkan dirinya untuk selamanya.


“Menjijikan!” pikir Freya dengan tatapan mata jijik dan marahnya. Ia tiba-tiba saja mulai teringat akan betapa rapi keluarganya itu menyimpan perasaan benci pada dirinya.


Apalagi Greta, ia yang selalu bersikap takut, tanpa Freya duga bisa bersikap layaknya psikopat yang penuh akan obsesi.


“Madam sangat paham akan kesedihan kamu, rasa kecewa kamu ..., rasa marah kamu .. , ketidakterima yang kini tersimpan di dalam diri kamu ... Dan ..., dendam yang ada di hati kamu saat ini, Madam ini juga sangat paham. Jika kamu memang tidak bisa percaya kalau wanita ini adalah nenek kandungmu. Atau kamu itu tidak percaya jika aku adalah salah satu keluarga kamu, maka biarkan Madam untuk membantu kamu dalam balas dendam.”


Madam Amilia tidak akan memaksa Freya untuk bisa percaya pada dirinya. Ia juga tidak akan pernah berniat meninggalkan Freya. Jika suatu saat Freya akan perlu bantuannya, maka Madam Amilia akan siap untuk terus membantu Freya.


“Seperti yang saya katakan tadi. Tidak ada sesuatu hal yang gratis di dunia ini. Jadi apa itu keinginan Anda untuk bayaran atas bantuan yang akan Anda berikan?” tanya Freya lagi dengan nada seriusnya.


Obrolannya kini seolah sedang bernegosiasi untuk bisa bekerjasama. Pada akhirnya Freya sadar jika ia memang akan memerlukan bantuan dari seseorang untuk membantunya.


“Kalau begitu Madam akan tetap membantu kamu. Dan apa aku memerlukan bayaran atau tidak biar nanti, dan akan Madam buktikan ketulusan Madam padamu sayang,” ujar Madam Amilia yang menatap cucunya dengan tatapan iba sekaligus rasa sayang.

__ADS_1


__ADS_2