
Hari-hari terus saja berlalu.
Tidak terasa hari ulang tahun perusahaan Madam Amilia akhirnya tiba. Segala persiapan yang harus di siapkan sudah tersedia.
Dan kini, di tempat yang berbeda.
Freya terlihat hanya diam saat kini ia sedang dirias oleh seorang perias profesional. Wajahnya yang manis dan anggun, hanya perlu di beri riasana tipis.
“Nona ..., ya ampun Anda sangat cantik ...,” tatapan kagum dari perias profesional, entah kenapa bisa membuat Freya merasa akrab dengan respon itu.
“Terima kasih, kamu juga cantik.”
“Ya ampun ..., cucu siapa ini? kenapa bisa secantik ini?”
“Madam, bukankah aku adalah anakmu?”Heran Freya, Madam Amilia pernah berkata jika Freya anaknya, mungkin karena Madam Amilia selaku teringat wajah anaknya saat melihat Freya. Selain itu, Madam Amilia takut suatu saat nanti, Freya akan banyak bertanya mengenai ibunya.
“Sepertinya orang-orang akan lebih percaya jika aku mengatakan kamu cucuku. Kalau begitu ayo cucuku sayang, kita menyambut para tamu.”
Madam Amilia sudah memastikan agar acara ini akan berjalan lancar. Ia mengundang orang-orang penting saja. Madam Amilia juga menutup akses publik untuk menyebar berita tentang cucunya, ia khawatir jika berita itu sampai hingga negara A.
Meskipun jika mereka nanti tahu, Madam Amilia sudah menyiapkan rencana cadangannya agar orang-orang itu tak bisa membawa Freya pergi darinya. Kecuali Freya yang memang ingin pergi karena sesuatu hal.
...----------------...
Di tempat yang berbeda.
George baru saja terbangun dari tidurnya, ia melihat jika Donald membawa baju yang harus ia kenakan untuk acara penting hari ini.
“Jam berapa?”
“Sekarang pukul setengah tujuh malam, mungkin acara itu sebentar lagi akan di mulai. Apa Anda ingin melewatkan acara ini tuan?”
George malas untuk menghadiri acara-acara yang menurutnya terasa sangat memuaskan, hanya saja dirinya tak memiliki pilihan untuk hadir.
Jika orang lain bisa ia lewatkan, tapi tidak dengan Madam Amilia itu. Bukan karena George takut, itu karena rasa hutang budinya pada wanita itu.
Sayangnya, karena sebuah kejadian wanita itu menjadi sangat membencinya. Ia harus menanggung kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.
__ADS_1
“Aku mendengar jika nanti akan ada pengumuman tentang cucu Madam Amilia? apa kamu tahu siapa itu?” tanya George langsung.
“Tidak ada informasi apapun mengenai itu, data pribadi dari cucu nyonya Amilia juga tidak ada, seolah keberadaannya memang sengaja untuk dirahasiakan.”
...****************...
Di acara pesta.
Seperti yang pernah Madam Amilia duga, cucunya itu sangat cantik hingga menjadi perhatian banyak mata yang ada di sini. Tatapan kagum dan memuja muncul dari mata mereka satu persatu.
“Apa aku terlihat jelek Madam? mengapa mereka justru melihatku tanpa berkedip sekalipun?” tanya Freya yang merasa aneh akan hal itu.
“Kamu justru sangat cantik sayang. Mereka kini sedang merasa terpesona karena penampilan kamu ini, mana ada wanita secantik ini dikatakan jelek.”
Bagi para pengusaha ataupun pejabat yang hadir di sini, mereka tidak menyangka akan melihat sisi lembut dari seorang Madam Amilia.
Madam Amilia terkenal dingin dan tak tersentuh, ia juga mudah marah dan tempramental. Tapi justru disaat bersama cucunya, ia seolah menjadi orang berbeda saat ini.
“Anda pasti sangat menyayangi cucu Anda ini,” ujar rekan bisnis Madam Amilia.
“Tentu, aku benar-benar sangat menyayanginya.”
Baru saja Madam Amilia akan memerintahkan para bawahannya untuk mengusir mereka. Seseorang yang tiba-tiba menjadi perhatian semuanya muncul begitu saja.
Laki-laki tampan dengan setelan jas hitam yang sangat cocok dengan penampilannya saat ini. Laki-laki itu juga terlihat acuh dingin dan tidak tersentuh.
George.
Laki-laki yang menjadi perhatian semua orang.
“Freya,” kata George tanpa suara.
George tak menyangka jika ia akan bertemu dengan seseorang yang ia cari selama ini di sini. Wanita itu terlihat semakin anggun dan cantik, dengan gaun peach cerahnya.
“Dia Anaya tuan George, cucuku.”
Perkataan dari Madam Amilia membuat George heran dan tak percaya. Jika memang orang yang ada di depan dirinya adalah Anaya yang Madam Amilia katakan itu, mana mungkin bisa semirip itu.
__ADS_1
Bahkan kembar identik sekalipun pasti ada sedikit perbedaan. George yang diam-diam akan selalu memperhatikan Freya, ia bisa melihat jika tak ada perbedaan apapun dari wanita dihadapannya ini.
“Dia cucu Anda?”
“Iya, dia jarang kami ekspos demi keamanan.”
Madam Amilia tidak tahu jika George mengenal Freya. Karena ia berfikir jika George sangat sibuk dan tidak mungkin akan bertemu Freya sekalipun mereka satu negara saat itu.
“Apa dia sangat cantik di mata Anda hingga Anda tidak bisa mengalihkan perhatian darinya?” sindiran pedas itu sengaja keluar dari mulut Madam Amilia.
“Sangat cantik, bahkan saya ingin segera menikah dengannya dan memiliki banyak anak.” Perkataan George yang baginya serius.
“Anda sangat suka bercanda ya tuan, tapi terima kasih atas pujiannya untuk cucu saya,” ujar Madam Amilia yang berusaha bersikap baik.
Meskipun Madam Amilia membenci George, tapi ia tak bisa menunjukkan kebenciannya itu di depan Freya atau di depan publik saat ini.
“Sejak kapan tuan George pernah bercanda? aku rasa dia bukanlah orang yang suka bercanda, benar 'kan?”
“Iya, aku juga berfikir begitu. Mungkin karena memang benar jika cucu Madam Amilia sangat cantik dan juga anggun.”
Banyak orang berbisik-bisik, tapi tidak George pedulikan akan hal itu. Ia sedikit tak percaya jika wanita yang ia kenal itu bisa bersikap anggun seperti itu.
Entah kenapa, sesuatu yang telah mati kini seolah hidup kembali. Hanya dengan melihat wanita yang ia cari, George seakan kembali normal.
“Tuan George kami permisi, masih banyak tamu lain yang harus kami sapa. Jika ada sesuatu hal yang nanti Anda butuhkan, Anda bisa meminta bantuan pada salah satu pelayan yang ada.”
Madam Amilia pergi membawa Freya.
Entah kenapa, Madam Amilia tak suka dengan tatapan George pada cucu kesayangannya ini. Apalagi dengan adanya rumor buruk tentang George yang suka berganti-ganti wanita untuk menemaninya tidur.
“Kamu harus menjauhi dia sayang, dia bukan orang baik yang bisa kita dekati. Jangan lupa, identitasnya itu bukanlah orang sembarangan. Madam tidak ingin jika kamu nanti akan berada dalam bahaya.”
Freya yang mendengar itu hanya menjawab dengan anggukannya itu. Ada perasaan asing yang tiba-tiba muncul begitu saja, rasa familiar dengan perasaan yang tak pernah Freya rasakan selama ini.
“Siapa laki-laki itu? apa dia mengenalku?” batin Freya.
Pada akhirnya Freya terus saja mengikuti Madam Amilia yang menyapa para tamunya. Sedangkan George tidak henti-hentinya menahan kesal dan juga amarahnya saat begitu banyak laki-laki yang menatap wanitanya dengan tatapan memuja.
__ADS_1
“Haruskah aku ambil mata mereka satu persatu?” batin George dengan ekspresi wajahnya seasam cuka.