Pembalasan Dendam Si Cantik

Pembalasan Dendam Si Cantik
Masa lalu Freya yang terlupakan


__ADS_3

Flashback


Saat itu.


Terlihat seorang anak kecil yang baru akan berusia sepuluh tahun tengah meringkuk dibalik jeruji besi. Ruangan anak itu layaknya sebuah tahanan.


“A ...air”


“La ...par”


“Fre ...ya lapar”


“Ma ...af”


“Bagaimana? apa masih mau membantah lagi?” suara dingin tanpa perasaan itu keluar. Suara itu berasal dari Antonio yang tengah menatap ke arah anaknya tanpa perasaan.


“Hiks ...Fre ...ya lapar Ayah ...” Freya hanya bisa menatap ke arah Antonio melalui ujung matanya.


Freya tak memiliki tenaga lagi untuk bisa bergerak, ia sudah tidak makan kurang lebih tiga hari. Jika ia tidak belajar sedikit saja ilmu bela diri serta melatih kekebalan diri.


Mungkin kini Freya sudah mati dari kemarin. Walau begitu, kini Freya berada di tahap yang benar-benar tidak berdaya sama sekali. Lemas, itu yang Freya kini rasakan.


Freya bisa saja memilih tidur ataupun pingsan, tapi ia tidak sanggup untuk tidur lagi. Rasa lapar sudah menguasai kesadarannya sepenuhnya. Ia merasa sangat lapar, dan ia tak bisa untuk menghilangkan rasa lapar dengan tertidur seperti yang ia lakukan kemarin.


“Kamu lapar? itu hukuman yang tepat untuk anak yang pembangkang seperti kamu! sudah Ayah katakan agar kamu mematuhi apa yang Ayah perintahkan ini! kamu harus tahu jika Ayah bisa kejam pada anak ayah sendiri meskipun kamu memohon ampun!” marah Antonio.


“Hiks ... Freya salah Ayah ...”


......................


Sejak hari itu, Freya menjadi anak yang patuh dan tak membangkang lagi. Hingga tiba-tiba, ide gila ayahnya muncul.


Freya ditempatkan di sebuah sel yang cukup luas. Sel itu juga menyambung dengan hutan. Di sana Freya diberi perintah untuk saling membunuh dengan yang lainnya.


Dari 30 orang, hanya akan ada 3 orang yang bisa lolos. Terdengar gila bukan? kegilaan Antonio itu memang sudah tidak bisa untuk diselamatkan lagi!


“Kalian tidak akan keluar dari tempat ini, kecuali hanya tiga orang yang akan selamat. Pilihan kalian hanya ada dua, yaitu mati di sini dan tak akan bisa keluar, atau keluar dan membunuh saingan kalian!” kata seorang pengawas yang tidak lain adalah bawahan Antonio.


“Kami sudah memasang banyak kamera pengawas di banyak tempat. Semuanya tersebar dengan luas, jadi apa yang kalian lakukan akan kami pantau.”


Mendengar itu, tiga puluh anak yang berusia sekitar sembilan tahun hingga lima belas tahun lebih mulai merasa ketakutan.


Tapi mereka tak memiliki pilihan lain, kebanyakan anak yang ada di sini adalah anak yang telah lama ditelantarkan atau anak jalanan. Jadi jika mereka mati tidak akan ada yang peduli.


“Aku harus hidup!” batin hampir semua anak yang ada di sana. Meskipun tidak ada yang menginginkan hidup mereka, tapi mereka ingin hidup dan bertahan.


“Waktu yang akan diberikan adalah 40 hari. Jika lebih dari itu, anggap saja itu bonus. Hahahaha, pasti akan terasa seru. Karena kalian yang di sini adalah anak terpilih bukan? gunakan kekuatan kalian dengan benar dan maksimal!”

__ADS_1


......................


Tiga hari berlalu.


Hutan itu memang menyatu dengan ruangan jeruji besi. Tapi tak aman jika mereka berada di ruangan jeruji besi itu, hingga kebanyakan memilih mencari tempat aman di hutan yang jauh lebih luas.


“Kak, aku takut. Bagaimana jika nanti aku mati?” ucap seorang anak berusia tujuh tahun.


Anak itu seharusnya tidak bisa ikut, tapi entah otak bawahan ayahnya yang memang kurang atau itu karena ada hal lain, anak itu justru ikut.


“Kakak akan menjaga kamu!” ungkap Si Kakak yang berusia 13 tahun. Wanita itu terlihat sangat menyayangi adiknya.


......................


Hari-hari terus berlalu tak terasa sudah sepuluh hari berlalu. Anggota yang awalnya ada tiga puluh, kini hanya tersisa sembilan belas.


Freya, ia terus saja bertahan hidup. Satu hal yang tidak menjadi perhatian banyak orang. Sejak dua hari lalu, ia tidak makan makanan yang diberikan oleh bawahan Antonio. Entah kenapa, Freya kini merasa curiga karena kini menuju tiga hari terakhir.


Tiga puluh tujuh hari telah berlalu, dan saat ini, para anak yang mengikuti acara ini masih tersisa sepuluh orang. Padahal harusnya tinggal sedikit saja, tapi ternyata anak-anak yang ada di sini memang anak hebat dan terpilih.


“Kak, makanlah. Aku tidak lapar, itu untuk Kakak saja.”


Anak kecil yang berusia tujuh tahun itu kembali berusaha membujuk kakaknya untuk makan.


“Kakak tidak lapar, Kakak hanya ingin agar kita berdua bisa keluar dengan semangat dari sini. Kakak janji akan menjaga kamu,” kata Si Kakak kepada adiknya.


Seperti dugaan Freya, malam harinya ada hampir lima anak yang mengalami keracunan makanan karena makanan yang dibawakan para bawahan. Tiga meninggal dunia dan dua sisanya itu masih selamat.


Orang yang baru saja keracunan tapi masih hidup terus saja di serang. Hingga pada akhirnya mereka berdua mati. Ia yang melihat itu dari jauh hanya terdiam.


Bukan Freya ini pengecut, hanya saja membunuh bukanlah hal yang ia inginkan. Jikapun ada yang akan menyerangnya, mereka akan kalah dan kabur dengan banyak luka yang diberikan oleh Freya.


Dan pada akhirnya anak-anak lain yang melihat itu, akhirnya mereka membunuh anak yang terluka itu dengan sadis.


Freya di sini terus terlihat pengecut karena terus bersembunyi. Mungkin anak-anak yang lain berfikir jika Freya tidak memiliki kemampuan dan penakut.


Faktanya Freya tidak menyerang seperti yang lain bukan karena ia selalu ingat pesan kakeknya yang memerintah dirinya untuk tidak menggunakan kekuatannya sembarangan.


“Kak, bagaimana ini? hanya tinggal kita berempat saja. Eh tidak, ternyata berlima. Ada orang yang masih bisa selamat hingga saat ini,” kata si anak yang berusia tujuh tahun itu. Ia saling membelakangi dengan kedua kakak yang selama ini membantunya.


“Kamu tenang dan jangan takut, Kakak yang akan membantu untuk menyerang mereka.”


Pada akhirnya, setelah kedua orang itu mati. Tinggal mereka bertiga bersama dengan Freya yang tidak menunjukkan kemampuan hingga saat ini.


“Maaf Kak,” kata anak kecil itu yang tanpa punya hati langsung membunuh Kakak kandung sendiri.


“Hey, itu Kakak kamu, kenapa kamu membunuhnya.”

__ADS_1


“Tapi aku suka sama Kakak, lagipula Kakak juga bantu aku selama di sini. Bukankah Kakak tahu jika hanya ada tiga orang yang bisa selamat? untuk anak yang sedang bersembunyi itu kekuatannya tidak main-main. Jadi tak ada untungnya kita bertiga menyerangnya,” ujar anak berusia tujuh tahun dengan wajah yang kini terlihat bengis.


Tidak ada yang menyangka jika anak yang dari pertama sudah mengatakan takut dengan wajah polosnya itu. Ia justru kini terlihat bengis.


Itulah pengalaman Freya yang terus berhati-hati pada siapapun yang menjadi anggota mafia Shadow.


......................


Ketiga orang yang selama akhinya bisa keluar.


“Kenapa kamu tidak menyerang dan terus-menerus bersembunyi?” tanya Antonio dengan nada yang kini terdengar marah.


“Ayah, Freya tidak bersembunyi. Freya menghemat kekuatan. Bukankah Ayah suka anak licik? Freya tak pernah bergerak dan melawan karena Freya rasa mereka tak pantas untuk Freya lawan,” ujar Freya beralasan.


“Kalau begitu, kamu akan Ayah adu dengan dua orang itu. Ayah ingin lihat kemampuan kalian bertiga siapa yang lebih kuat. Jangan buat Ayah kecewa!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Freya yang dihadapkan dengan ketiga orang itu. Ia diam-diam tersenyum ke arah anak berwajah polos. Ternyata ketakutannya itu adalah akting saja, bukan karena dia polos.


“Kak, apa Kakak tega melawan anak kecil?” tanya anak itu dengan ekspresi wajah polosnya itu.


“Tentu.”


Setelah mengatakan itu, Freya melawan dua orang itu, ia tidak pernah menyangka jika anak kecil itu jauh lebih mahir dari anak laki-laki yang berusia tiga belas tahun.


Srett


Srett


Freya berhasil membuktikan kekuatannya itu pada ayahnya, Antonio. Sayangnya, meskipun hari-hari berjalan tenang, diam-diam ada bawahan yang menyediakan makan berupa tulang, kadang pagi harinya ia akan diberikan makanan kucing.


......................


Suatu hari


“Apa maksudnya ini?” tanya Freya melihat makanan kucing yang disajikan di piringnya.


Awalnya Freya pun memakan itu, karena ia sempat berfikir jika itu salah satu perintah ayahnya. Hingga seminggu kemudian, sebelum ia memakan itu lagi, seorang pelayan mencegahnya.


“Nona, ini makanan Anda. Pelayan itu salah ambil makan. Apa Anda sering memakan ini?” tanya Si pelayan yang memberikan makanan pada Freya.


“Aku tidak memiliki pilihan lain. Bukankah ini perintah dari Ayah? mungkin stok makan selama seminggu ini telah habis.”


“Tidak Nona, pelayan salah ambil makan. Ini, makanlah!” menyodorkan makanan pada Freya langsung.


Pelayan itu memandang Freya dengan tatapan iba dan tak teganya. Padahal nonanya itu selama ini hidup dengan bahagia, tapi kini hidupnya penuh dengan penderitaan.

__ADS_1


Flashback end


__ADS_2