Pembalasan Dendam Si Cantik

Pembalasan Dendam Si Cantik
Orang di masa lalu.


__ADS_3

Freya kembali ke ruangannya.


Acara makan malam itu hanya berlangsung sangat singkat, lebih singkat jika dibanding dengan acara makan malam kemarin.


“Sangat melelahkan,” gumam Freya menatap langit kamarnya. Tiba-tiba saja Freya teringat akan cinta pertamanya. Cinta yang seharusnya sudah hilang dan mati sejak lama.


Bahkan, Freya tak tahu jika cintanya yang berawal dari rasa kagum itu bisa di sebut cinta pertama atau tidak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Flashback


Saat itu, Freya yang berusia delapan tahun. Ia di ajak oleh kakeknya untuk mengikuti sebuah kontes yang diadakan. Kontes itu sudah Freya yakini jika kakeknya yang nantinya akan memenangkannya.


Itu bukan sebuah kontes biasa, tapi lebih tepatnya sebuah kontes bakat. Di mana nanti akan banyak sekali orang yang berbakat dan sangat pandai yang akan mengikuti kontes tersebut.


“Kakek, Freya yakin jika Kakek pasti yang nantinya akan memenangkan kontes itu. Tidak ada orang yang bisa di bandingkan dengan kemampuan Kakek,” ujar Freya yang saat itu masih polos dan juga lugu.


Freya saat itu masih terlihat bersemangat dan juga ceria. Tidak ada rasa sakit, sedih, dan penderitaan yang tak pernah terpikirkan oleh anak berusia tujuh tahun.


Meskipun masih kecil, Freya sangat pandai. Ia memiliki kepintaran yang harusnya dimiliki oleh anak berusia 12 tahun.


Tapi, nyatanya dia masih tetap anak-anak meski ia sangat pintar. Walau begitu, Freya adalah anak yang sangat pintar juga dewasa, ia ceria, dan juga menggemaskan pada saat itu.


“Kakek pasti tidak akan mengecewakan kamu, kalau begitu kamu bisa istirahat lebih dulu. Kakek masih ada urusan yang harus di urus.”


Kontes yang dihadiri oleh Garlfried dan Freya saat ini tak lain adalah kontes dalam membuat sebuah aplikasi dan juga sistem keamanan. Mereka berdua diharuskan untuk tinggal di sana selama 3 minggu. Dan Freya selama di sana telah diajarkan banyak hal oleh kakeknya.


“Kek, bukankah ini hari terakhir kita ada di sini?” tanya Freya yang diangguki oleh Garlfried.


“Iya, maka dari itu kakek harus segera mengerjakan proyek Kakek agar bisa meluangkan banyak waktu bersama dengan kamu,” usapan yang terasa lembut Freya dapatkan dari kakeknya.


“Cepatlah Kek, Freya takut jika seharian ini akan berada di sini tanpa adanya Kakek,” ungkap Freya.


Garlfried mengangguk, jika bukan karena ia ada urusan penting. Ia tidak akan mau meninggalkan cucu yang paling ia sayangi itu.


“Kakek janji akan segera kembali, jangan pernah mencoba untuk membuka pintu tanpa izin Kakek. Dan untuk berjaga-jaga Kakek sudah membuat beberapa jebakan di ruangan ini agar kamu tetap aman.”


“Baiklah Kek, terima kasih. Hati-hati di jalan.”


...----------------...


Malam harinya.


Freya yang melihat kakeknya belum juga kembali, ia yang merasa lapar akhirnya melupakan janjinya.


Freya keluar untuk mencari makanan, dan tanpa di duga, Freya sempat melihat jika ada orang-orang berpakaian menyeramkan menghampirinya.


Sayangnya, sebelum Freya bicara, ia sudah lebih dulu di bius dan di bawa menuju suatu tempat oleh orang-orang itu.


......................


Freya terbangun dengan keadaan tangan dan juga kakinya yang terikat. Ia melihat jika dihadapannya terdapat laki-laki tua yang menatap ke arahnya dengan senyum jahat.


“Dia cucu Garlfried?” tanya laki-laki itu pada anak buahnya.


“Iya tuan, dia adalah cucu dari Garlfried.”

__ADS_1


“Hahaha, aku tak menyangka jika cucu dari orang itu kini sedang ada di sini,” ujar laki-laki itu dengan tawanya yang kentara sangat senang.


“Bangunkan anak laki-laki itu juga!” perintah laki-laki tua tadi.


Mendengar jika ada anak laki-laki yang juga di culik selain dirinya, Freya menoleh. Aneh sekali rasanya, laki-laki yang kini juga dalam kondisi terikat itu terlihat sedang memakai topeng.


Hingga pada saat dibuka, wajah tampan dari anak kecil itu terlihat. Wajah dari anak laki-laki itu sudah mulai terlihat jika suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang sangat tampan, tanpa sadar Freya terpesona.


Padahal dia masih berumur tujuh tahun saat ini, dan Freya yakin jika remaja laki-laki itu berusia kurang lebih lima belas tahun.


“Akh!” remaja laki-laki itu sedikit melengguh.


Freya yakin itu karena rasa sakit akibat pukulan bertubi-tubi. Terlihat dari badannya yang sedikit terluka, seolah ia sempat melawan saat akan di bawa ke tempat ini.


“Hei bocah, akhirnya kamu bangun juga! ku dengar jika kemampuan kamu sangat hebat dan jenius dalam teknologi. Bisa saja jika nanti kemampuan kamu akan jauh melebihi kemampuan dari laki-laki tua bernama Garlfried itu!” setelah mengatakan itu, “Hahahaha,” laki-laki tua yang berwajah seram itu tertawa.


...----------------...


Dua Minggu telah berlalu.


Freya belum juga bisa pergi dari tempat ia di culik. Dan selama ia di sana, laki-laki remaja yang tidak Freya tahu namanya itu selalu melindunginya.


Freya memang di haruskan agar bisa menunjukkan kemampuannya itu. Dan sebagai cucu dari keluarga Garlfried, Freya pasti memiliki kemampuan yang telah diajarkan oleh kakeknya langsung.


Saat Freya lelah dan tak mampu untuk menuruti apa yang diinginkan oleh laki-laki tua itu, anak remaja laki-laki itu terus melindunginya secara diam-diam.


Selain itu, ia juga membantu Freya dalam banyak hal. Hingga Freya sedikit bergantung pada laki-laki yang tidak ia kenali itu.


“Kek, Freya ingin pulang.”


“Kita pasti akan keluar dari sini,” ujar anak remaja laki-laki yang selalu menunjukkan wajah dinginnya.


“Tapi Kak, aku takut jika nanti kita tidak pernah bisa keluar.” Freya tidak sanggup untuk terus di sana, ia bahkan tidak bisa tidur dengan baik.


“Tidak akan, aku yang akan menjamin jika nanti kamu akan keluar dari sini,” wajah yang terlihat serius dari remaja laki-laki itu, akan bertambah serius saat menatap ke arah komputernya.


Anak remaja laki-laki itu, ia kini sedang ditugaskan untuk membuat sebuah sistem keamanan yang kuat. Meski baru berusia lima belas tahun, Freya rasa jika kemampuan laki-laki itu setara dengan kakeknya.


“Kak, bisakah Kakak mengajarkan Freya lagi?, Freya ingin tahu bagaimana cara agar bisa menggunakan kemampuan itu dengan baik,” ujar Freya.


Freya awalnya hanya bisa melihat banyaknya angka-angka yang tidak terlalu ia pahami dan mengerti.


Kecepatan tangan laki-laki itu benar-benar sangat lihai dan cepat. Angka-angka yang bisa disebut sebuah kode berganti-ganti dengan cepat setiap detiknya.


“Akan aku ajari kamu, karena aku tidak ingin jika nanti mereka akan membuat kamu menderita.”


...----------------...


Di hari berikutnya,


Freya tidak mengetahui apa yang di sepakati oleh kakeknya dan Si penculik itu. Ia yang akan pulang, tiba-tiba merasa sedih karena akan meninggalkan laki-laki baik yang selama ini selalu melindunginya.


“Tidak perlu bersedih!”


“Apa ini Kak?” tanya Freya heran saat ia diberikan sebuah anting. Anting hitam berbentuk bintang yang terlihat cantik namun misterius.


“Jika kamu mengingatku, anggap saja aku akan selalu ada di samping kamu,” ujar remaja laki-laki itu dengan nada dewasanya.

__ADS_1


“Kak, Freya tidak tahu siapa nama Kakak, bolehlah Freya tahu siapa nama Kakak?” setidaknya, Freya berharap jika nanti ia akan bertemu lagi dengan laki-laki itu.


“Geo, itu namaku.”


...----------------...


Sejak kejadian itu,


Tahun pun berlalu. Tidak terasa, jika satu tahun telah berlalu. Garlfried, kakeknya Freya, ia yang memenangkan kontes itu pun membuat Freya merasa bangga.


“Kenapa hanya diam Kek?” tanya Freya pada kakeknya yang sedikit melamun.


“Kamu tahu Freya? saat itu sistem keamanan dan aplikasi yang Kakek buat adalah yang terbaik di Eropa. Tapi kakek kini mengetahui jika seharusnya bukanlah Kakek pemenang utamanya, ada anak kecil ahli yang seharusnya memenangkan itu tapi tidak bisa hadir.”


Diam sejenak, Garlfried melihat respon cucunya yang hanya diam. “Kelak laptop kesayangan Kakek yang sudah di modif dan perbarui ini akan menjadi milik kamu.”


“Kenapa Kakek berkata seperti itu? itu laptop Kakek jadi kenapa Kakek malah memberikannya itu pada Freya?”


“Percayalah, jika di atas langit akan ada langit. Tapi Kakek harap saat kamu nanti di atas langit kamu tidak akan sombong, gunakanlah kemampuan yang Kakek ajarkan selama satu tahun ini sebagaimana semestinya.”


Freya yang mendengar itu mengangguk.


“Kek,” panggil Freya pada kakeknya yang hanya diam. “Apa Kakek tahu informasi tentang laki-laki yang saat itu di kurung bersama dengan Freya?” tanya Freya hanya dijawab kebungkaman sejenak.


Dengan nada ragu-ragu dan tak yakin, Garlfried menjawab, “Kakek dengar jika anak laki-laki itu telah meninggal,” ujar Garlfried yang membuat Freya terkejut dan juga tak menyangka.


“Tidak mungkin Kek!” kata Freya tak percaya. Ia bahkan tanpa sadar berteriak saat mengatakan itu.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Garlfried pada cucunya yang terlihat sangat terkejut.


“Kek, Freya masuk ke dalam.”


...----------------...


Tanpa berkata apapun, Freya langsung berjalan menuju kamarnya. Ia menutup pintu dan berniat mencari anting pemberian dari anak remaja itu.


“**Aku tidak akan mati semudah itu! bagaimana mereka akan menyiksaku, mereka tak akan pernah bisa membunuhku!”


“Hidupku adalah milikku**!”


“Kadang demi sebuah tujuan kamu harus rela untuk menurunkan egomu, dan bersikaplah seolah kamu tak memiliki kemampuan untuk melawan!”


Kata-kata yang laki-laki bernama Geo itu ucapkan. Freya bahkan masih ingat dengan jelas jika laki-laki itu sangat yakin akan hidupnya.


“Bukankah Kakak sangat yakin dengan hidup dan juga kemampuan Kakak itu? lalu mengapa pada akhirnya Kakak mati?”


Meski masih kecil, tapi karena kepintarannya itu layaknya ia anak remaja. Membuat Freya merasa dirinya bukanlah anak kecil.


Hal yang paling Freya benci ialah kebohongan, dan baginya pengkhianatan tidak hanya berupa sebuah perselingkuhan.


Karena berbohong juga sudah termasuk berkhianat.


Itulah pertama kalinya Freya berharap jika nanti ia akan kembali bertemu laki-laki yang sangat ia kagumi, rasa kagum itu perlahan menjadi harapan dan rasa cinta yang Freya sendiri tidak bisa untuk menjelaskan itu.


Di satu sisi Freya masih tak percaya dengan apa yang kakeknya ucapkan. Karena, hatinya percaya jika laki-laki itu masih hidup dan tidak mati.


Laki-laki bernama Geo itu tidak akan mati semudah itu, dan Freya yakin itu. Tapi, di sisi yang lain Freya juga sadar jika kakeknya tak mungkin berbohong padanya.

__ADS_1


Flashback end.


__ADS_2