Penantian Cinta

Penantian Cinta
PC 116


__ADS_3

'' jangan lari-larian Davina, nanti jatuh..'' ujar Yuna mencoba mengejar langkah kaki Davina yang begitu lincah


dua tahun telah berlalu, kini Davina sudah bisa berjalan dengan lancar, berbicara lancar, walau terkadang masih ada yang kurang dalam kosa kata nya


'' kamu juga jangan ikut lari lah Yang..'' tegur ata pada Yuna


'' mas... kejar anak nya sana.. nanti menggangu para pekerja..'' ujar Yuna menatap kesal ata yang malah duduk diam di teras rumah


'' aduh... anak papa ini..'' ujar ata menaruh koran di meja dan melangkah kan kaki mengejar Davina


'' hallo ounti.... Vina datang..'' ujar Davina seraya membuka pintu butik milik Yuna


'' aduh... anak manis datang..'' ujar Raina tersenyum getir


'' Syifa.. cepat tutup pintu gudang nya..'' teriak Raina kepada Syifa yang berada di dalam gudang


'' kenapa mbak..'' Syifa juga ikut berteriak kepada Raina


'' Davina ini.. bisa-bisa kita kerja berkali-kali nanti..'' ujar Raina


'' eeehh... waduh gawat...'' Syifa, mau tak mau pun bangkit dari duduk nya, ia dengan cepat mengejar pintu gudang yang terbuka lebar, ia tak mau mengulang pekerjaan kembali


bukan masalah kain yang koyak atau sobek, kalau masalah itu, semua akan bisa terganti dengan yang baru.. namun davina kecil tidak akan merobek nya, melaina kan Davina akan membuat isi butik keluar semua dari tempat nya,


karena Davina, semua karyawan yang akan ikut menanggung kesekuensi nya,semua akan turun teronggok ke lantai karena ulah Davina yang super duper aktif sekali


'' iya.. mbak,, saut Syifa dari dalam


dengan cepat Syifa menutup pintu gudang, ia tak mau anak bos membuat ulah pada gudang mereka, yang ada mereka kerja lembur hari ini


'' buka.. onti.. Vina mau masuk...'' ujar Davina seraya menggedor pintu gudang yang telah tertutup dari dalam


'' anak manis,, ikut onti aja yok..'' ajak Raina mengalih kan tatapan Davina


'' mau ini onti..'' ujar Davina yang tak mau beranjak sama sekali


'' gak ada isi nya itu dek, di dalam itu kosong..'' bohong Raina pada Davina

__ADS_1


Davina tetap kekeh, ia menggeleng di saat Raina mengatakan kosong, ia tak percaya sama sekali dengan ucapan Raina barusan


'' anak papa... sini,, jangan ganggu onti nya sayang, onti lagi kerja..'' ujar ata meraih davina dari dekapan Raina


'' mau masuk pa..'' tunjuk Davina ke dalam pintu gudang


'' gak ada isi nya sayang, kosong,, kita pulang aja ya.. lebih baik bantu mama masak aja di rumah..'' ajak ata pada Davina


'' no..papa, Vina masuk..'' ujar Davina tetap kekeh dalam pendirian nya


ata terpaksa memaksa davina untuk pulang ke rumah, tak mungkin ia membiar kan anak nya berada di butik, yang ada nanti nya butik seperti kapal pecah di buat oleh Davina


'' no..papa... Vina mau masuk,, Vina mau coba baju baru papa..'' ujar Davina sambil meronta minta di lepas kan dan menjauh kan diri dari ata yang menahan nya sejak tadi


'' Davina,, tidak boleh begitu ya... ini untuk orang banyak,, Davina kalau mau, boleh.. tapi hanya ambil satu aja.. tidak boleh menjatuh kan semua nya, nanti onti nya capek ngerjai nya,, kan.. kasihan..'' ujar ata menasehati Davina


'' papa...'' rengek Davina membuat ata kewalahan menahan davina


'' eh.. bang,, sedang apa..'' sapa Dania yang baru masuk ke dalam butik


'' ah.. kebetulan sekali kamu datang, ini Davina,, seperti biasa..'' ujar ata


ia tau keponakan nya itu sangat aktif sekali, sehingga ia saja kewalahan menghadapi nya, ia pernah sekali di buat mengulang sketsa yang telah usai ia buat, dan di depan mata nya, sketsa tersebut menjadi lembaran kecil-kecil di tangan Davina


'' sini sama onti..'' ujar dania mengulur kan tangan mencoba meraih Davina


'' onti.. Vina mau baju..'' tunjuk Davina ke dalam pintu gudang yang sedang tertutup rapat tersebut


Dania hanya bisa tersenyum saja menanggapi Davina, ia sekilas menoleh ke arah Raina yang berdiri tidak jauh dari ata


'' mbak,, boleh minta tolong... tolong antar kan ini ke dalam ruangan saya..'' ujar Dania dengan lembut


'' baik buk..'' ujar Raina meraih kertas yang tersusun rapih, ia pun membawa nya ke ruangan Dania


'' mau beli bakso gak.. sama onti..'' tanya Dania pada Davina


'' bakso.. mama onti..'' dengan antusias davinaenoleh ke arah jalan besar,

__ADS_1


'' mama di rumah sayang,, kamu beli nya sama onti aja..ya...'' ujar Dania lembut seraya membawa Davina keluar dari dalam butik


'' bang,, kalau mbak Yuna menanyakan kertas nya, bilang saja di atas meja kerja..'' pesan Dania pada ata yang sedari tadi hanya berdiri di hadapan nya


'' iya.. Ku tau itu..'' ujar ata


melihat Davina telah di bawa Dania sudah menjauh, ia pun berjalan ke arah rumah nya, ia berpikir cukup aman, jika anak nya bersama dengan dania


'' Davina mana mas..'' tanya Yuna sedikit panik


'' sudah jadi penjual sayur sekarang dia nya..'' ucap ata asal ceplos


membuat Yuna mengernyit kan kening nya bingung, ia masih menunggu apa yang terjadi pada putri nya, sampai ata tidak membawa nya pulang ke rumah mereka


'' aku bertanya serius mas... dimana putri ku..'' cerca Yuna


'' ada... kau tenang saja Yuna..'' ucap ata menghempas kan tubuh nya di sofa ruang tamu


'' ada di mana,, tapi ia tidak sedang bersama mu saat ini mas..'' ucap Yuna dengan perasaan sedikit cemas


'' ada bersama dania... kenapa kau sehawatir itu sih..'' heran ata sampai ia geleng kepala


'' tentu saja aku khawatir mas,, kami sudah pernah merasa kan kehilangan anak.. aku tidak mau hal itu terulang kembali..'' jelas Yuna, membuat ata terjingkat kaget


'' yang benar saja... anak siapa yang hilang, anak mu tidak mungkin kan, apa anak bang Yuda..'' tanya ata mencerca Yuna


'' anak Dania mas,, baru dua hari di rumah sakit tempat ku bersalin dulu..'' ujar Yuna mengingat kembali bagai mana dulu mereka pontang-panting mencari anak Dania yang hilang bak di telan bumi


'' apaa...? yang benar saja? kok bisa hilang..''ucap ata syok dan terkejut mendengar apa yang baru saja Yuna sampai kan pada nya


'' entah lah, dulu kami mempunyai kakak ipar yang serakah akan harta, semua nya bermula dengan aku yang tidak mau di nikah kan oleh teman bisnis yang akan bekerja sama dengan perusahaan yang sekarang ini di ambil alih oleh Yudis..'' jelas Yuna


ata hanya manggut-manggut mengerti, pantas saja, semua keluarga Yuna selalu berhati-hati, mereka selalu menjaga anak-anak dengan ketat,


'' tapi tidak dengan menculik anak juga kan..' ujar ata berdecak kesal


'' bahkan kami semua selalu dalam bahaya..'' ujar Yuna mengatakan lagi, membuat ata tak habis pikir,

__ADS_1


'' kemana sebenar nya akal sehat nya, memang sudah gila kalau begitu,, membuat ku geram saja..'' celetuk ata mengerang kesal


...****************...


__ADS_2