Penantian Cinta

Penantian Cinta
Pindah ke kota lagi


__ADS_3

Malam Harinya, saat semua orang makan malam bersama. Sapri tiba - tiba bersuara, dia mengatakan akan membawa anak dan istrinya pindah kembali ke kota.


"Tapi Arin belum lepas masa nipasnya, apa tidak menunggu nipasnya selesai dulu?"tanya Lastri yang sangat kaget mendengar keputusan menantunya itu.


"Tidak mah, kalau mereka disini, terus gimana dengan pekerjaan aku yang ada di sana?"tanya Sapri.


"kamu sendiri saja di sana kan bisa? Lagi pula kamu kan juga sibuk, pasti di sana akan ada orang yang merawat kamu, lagian ini cuma sebentar" ucap Lastri


"Bukan itu masalahnya mah, kalau aku di sana dan mereka di sini, nanti pikiran aku jadi becabang dan aku nggak akan fokus kerja"jawab Sapri, meminum air putih yang ada di depannya.


"Terus di sana, siapa yang akan merawat Arin dan anak - anak ?"tanya Lastri


"Kalau masalah itu nggak usah mama khawatirkan"ucap Sapri.


"Nggak khawatir gimana maksud kamu? Arin itu baru siap melahirkan lo, dia nggak boleh banyak gerak dan melakukan pekerjaan rumah"kata Lastri yang tidak jadi memakan makananya, ketika mendengar perkataan Sapri yang mengatakan akan membawa anak dan istrinya pindah lagi. Seketika selera makan Lastri pun hilang.


Baru saja dia merasakan kenyaman dan di rumahnya, dia sudah nyaman dengan keberadaan cucu dan anaknya. Sudah lama Lastri mengharapkan untuk tinggal bersama anak dan cucunya, namun anak - anaknya tidak ada yang bersedia untuk tinggal dengan nya. Dan saat ia mwndapat kan kabar kalau Arin akan pindah dan tinggal dengannya, lastri sangat senang. Lalu serang apa? Dengan seenaknya Sapri mengatakan akan.membawa mereka pindah kembali.


"Tapi mah, aku bisa kok ngerjain semuanya dan aku nggak akan menyuruh Arin untuk melakukan pekerjaan apa pun, lagi pula Indah juga ada yang akan membantu Arin untuk melakukannya."jawab Sapri.


Lastri terdiam, dia sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi, walau pun bagaimana Sapri lwbih berhak menentukan semuanya dari pada dirinya.


Lastri melihat kearah Indah yang sangat tampak kaget mendengar keputusan ayahnya.


"Terserah kamu saja. Lalu kapan rencana kalian akan pindah?" tanya Lastri.


"Minggu depan Mah, soalnya aku harus nyari rumah dulu."balas Sapri.


"Hmm... Aku udah siap, aku ke kamar dulu"ucap Indah berdiri dari duduknya dan berlalu pergi.


Sesampainya dikamar, Indah duduk di tepian tempat tidurnya. " Kenapa harus pindah lagi sih.."guman Indah.


"Kalau aku pindah, gimana dengan parah sahabatku? Dan gimana dengan Dika?"Indah semakin bingung dengan kedua orang tuanya, sebentar - sebentar pindah, sebentar - sebentar pindah lagi.


Indah sangt capek beradaptasi terus, dan menyesuaikan pelajaran sekolah lama dengan sekolah baru itu sangat sulit.

__ADS_1


___


Semenjak mendengar kabar akan pindah, Indah kembali pada diri lamanya, tertutup pada siapa pun. Indah sedikit menjaga jarak dengan para sahabatnya. Bahkan dengan Dika pun Indah kembali bersikap dingin, Indah tidak mau semakin tak rela meninggalkan mereka semua.


Indah pernah berpikir untuk tidak ikut pindah dengan kedua orang tuanya, tapi saat melihat wajah bundanya Indah jadi tidak tega. Kalau dia tidak ikut, siapa yang akan membantu bundanya? Siapa yang akan menjaga bunda dan adik - adiknya? Dengan berat hati Indah hanya diam dan mengikuti kemauan orang tuanya.


"Indah, ndah, itu lihat lah."Ranti menunjuk keluar jendela


Indah mengikuti arah tunjuk Ranti dan dia kaget saat melihat ayahnya sedang berada di ruang majelis guru.


"Itu bukannya, ayahmu Ndah?"tanya Ranti.


"Hmm."balas Indah.


"Ada apa ayahmu datang ke sekolah?"tanya Ranti, Indah menggeleng.


"Aku nggak tau."jawab Indah, kembali ke buku bacaannya.


Dika yang melihat itu pun melihat kearah kantor, dia mengerutkan keningnya. Cuma dua kemungkinan orang tua datang ke sekolah. Pertama, karena anaknya berbuat onar. Yang ke dua, untuk mengurus surat kepindahan.


"Hei, Dik. Kenapa kamu melamun, ayo bantuin cari jawabanya!"seru Lana.


"Iya." Dika kembali membaca buku .


Saat ini, di kelas mereka tidak ada guru tapi mereka diberikan tugas kelompok, karena guru mereka yang sedang ada rapat di kantor.


___


Saat pulang sekolah, Indah kaget saat melihat begitu banyak barang - barang yang tersusun di depan rumah, Indah juga melihat koper pakaiannya yang sudah bertengger di sana. Dengan sedikit berlari Indah mendekati ayahnya yang sedang berdiri di depan rumah, sepertinya ayahnya itu sedang menunggu mobil untuk mengangkut barang - barang itu.


"Ayah kenapa semua baran ada di luar?"tanya Indah.


"Kita pindah hari ini nak, sekarang kamu mandilah! Sebentar lagi kak Rey akan datang dan kita akan langsung berangkat."ucap Sapri.


"Kenapa terburu - buru ayah?"tanya Indah.

__ADS_1


"Udah kamu masuk aja sana, jangan banyak tanya"kata Sapri.


Indah pun masuk kedalam rumah, di sana di melihat bundanya yang sudah siap. Hanya Maya dan dirinya yang belum siap.


"Bunda... Bukannya minggu depan kita pindah?"tanya Indah, berjalan mendekati Bundanya yang sedang duduk di sofa.


"Bunda juga nggak tau, tadi pagi ayah bilang kalau kita akan pindah siang ini."jawab Arin.


"Kamu siap - siap lah, banyak yang akan kamu pakai udah bunda letakkan di atas tempat tidur."lanjut Arin


Indah berjalan berjalan dengan lesuh kedalam kamarnya, benar kata bundanya di atas tempat tidur dia melihata atas sepasang pakaian.


Walau pun berat, Indah tetap harus kuat. Selesai bersiap Indah keluar kamar sambil membawa tas sekolahnya. Ternyata di luar sudah ada kak Reyhannya.


"Jangan sedih."ucap Reyhan yang tau adiknya itu tidak mau pergi. Indah tersenyum.


"Yuk!"ucap Sapri, mengambil bayinya dari gendongan Arin. Saking tidak pedulinya Sapri bahkan anak bayinya belum juga di beeinama.


"Nek, Indah pamit ya"ucap Indah menvium tangan sang nenek. Lastri menarik cucu kesayangannya itu kedalam pelukannya.


"Harus sering - sering jenguk nenek ya"kata Lastri, Indah mengangguk dalam pelukan sang nenek.


Mobil Reyhan pun mulai pergi meninggalkan halaman Lastri, Lastri sangat sedih di tinggal anak dan cucu nya.


Di dalam mobil Indah terus melihat kearah jendela, tanpa sadar olehnya, Dari kejauhan Dika melihat Indah, dia melihat raut kesedihan Indah.


"Itu kan Indah? Mau kemana dia? Kenapa dia seperti sedang menangis?"Dika mencoba mengejar mobil itu dengan sepedanya.


Tapi apalah daya, kecepatan sepedanya tidak akan menang melawan kecepatan mobil itu.


"Kenapa perasaanku nggak enak ya, kemana mereka sebenarnya?"Dika menatap mobil Indah sampai menghilang.


...****************...


Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.

__ADS_1


Terimah kasih💜


__ADS_2