
"Alhamdulillah keadaan bayinya baik-baik saja Bu. Dan kalau boleh saya sarankan untuk bapak,tolong di jaga istrinya yah pak. Walaupun bapak sibuk ,harus nya bisa meluangkan waktunya sedikit untuk menemani istri bapak."
"Ehm... sebenarnya..." Nindy tidak percaya kalau Dokter menyangka kalau lelaki yang sekarang sedang duduk di sebelahnya adalah suaminya, nindy berniat menyangkal tapi terpotong oleh ucapan lelaki itu.
"Terima kasih dok. kalau begitu kami permisi dulu." Ardan yang tau kalau nindy akan menjawab apa,akhirnya mendahuluinya.
"Iya silahkan pak. buat ibu nindy jangan lupa minum vitaminnya yah Bu dan jaga kondisi ibu. Jangan lupa pesan saya yah pak,untuk menjaga istri bapak dengan baik. mengerti pak..Bu..?!" Nindy menjadi salah tingkah mendengar dokter berpesan seperti itu kepada Ardan. Nindy menatap Ardan yang tetap menampilkan raut biasa saja, seakan Ardan tidak keberatan dengan tuduhan dokter itu.
"Ah iya dokter, terimakasih. akan saya ingat pesan dokter." Nindy dan Ardan pergi meninggalkan ruangan dokter kandungan dengan diam. Setelah mereka sampai di luar ruangan,barulah Nindy ingat kalau dia belum memberitahukan keadaan nya pada mertuanya, secara tadi mereka janjian untuk bertemu di depan rumah sakit.
"Tuan..." Nindy memanggil Ardan yang ada disebelahnya.
"Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan itu Dy? " Ardan menggerutu mendengar panggilan nindy padanya.
"Tapi..."
"Panggil saja nama saya ,Ardan. Atau apa saja selain tuan. Saya juga bukan bos kamu..." Sebelum nindy menyelesaikan ucapannya,ardan sudah memotong nya duluan.
Nindy bingung harus memanggil apa kepada Ardan. karena dia merasa tidak nyaman kalau harus memanggil nama saja.
"Kalau begitu Om..."
"WHAT...?" Belum selesai nindy berucap sudah di potong lagi oleh suara Ardan yang memekik cukup kencang. Nindy menatap wajah Ardan yang seperti frustasi karena mendengar panggilan nindy. Ardan mengusap wajahnya tak rela.
"Hahhh....Maaf tadi hanya kaget saja. Tapi...please Dy...panggil nama aku saja!! Jangan kau tambah-tambahi dengan panggilan yang lainnya.!!"
Nindy melihat area sekitar yang lumayan ramai oleh orang-orang yang sedang mengantri untuk mengambil obat. Beruntung tadi mereka tidak menjadi pusat perhatian karena suara pekikan ardan, mereka sibuk dengan urusan masing-masing.
Ketika nindy sedang menatap ke arah bagian pendaftaran,nindy memicingkan matanya tidak yakin dengan penglihatan nya. Dia seperti melihat temannya yang sedang menggendong anaknya, ketika sosok itu sedang menengok kesamping barulah nindy yakin kalau sosok itu adalah temannya alias Nayla. Nindy tersenyum manis, kemudian nindy bergegas bangun dari duduknya untuk mendekati Nayla dan melupakan Ardan yang sedang misuh-misuh sendiri karena Nindy.
Ardan bingung melihat kepergian Nindy, akhirnya ardan mengikuti nindy yang sedang berjalan kearah pendaftaran.
"Buat apa nindy ke tempat pendaftaran lagi? Bukannya dia tadi sudah mendaftar yah?" Pikir Ardan sambil tetap mengikuti langkah nindy, Beruntung nindy tau kalau dia lagi hamil besar jadi dia tidak berlari. Setelah sampai di tempat pendaftaran nindy malah menepuk punggung seorang perempuan yang sedang menggendong anaknya.
Pluk
Nayla membalikkan badannya dan melihat siapa gerangan yang menepuk pundaknya. Dia terkejut melihat Nindy yang berada di sini, nindy yang melihat wajah terkejut Nayla malah terkekeh geli.
__ADS_1
"Silahkan ibu Nayla bisa langsung menunggu di poli anak yah Bu.ini kartu ibu."
"Ah iya. makasih sus." Nayla yang merasa dipanggil oleh suster baru sadar kalau mereka sedang di tempat ramai. Nayla menyeret nindy untuk mengikutinya ke tempat yang lain. Ardan tetap mengikuti mereka walaupun tidak di sebelah nindy langsung,seengganya Ardan tetap memberi ruang kepada Nindy dan perempuan itu berbicara.
Ardan yang baru kali ini melihat Nindy tersenyum ,semakin terpesona melihatnya. Selama ini nindy jarang tersenyum, jika bertemu dengan nindy ekspresi nindy hanya sedang sedih atau diam saja. Sepertinya Allah sedang bermurah hati padanya ,karena Ardan bisa melihat senyuman nindy yang tidak pernah dilihatnya selama ini.
"Kau cantik sekali jika tersenyum seperti itu dy..!" Ardan melihat interaksi antara nindy dan perempuan itu, Ardan merasa terhipnotis oleh nindy karena melihat banyaknya ekspresi yang dikeluarkan nindy setelah bertemu dengan perempuan itu. Sepertinya perempuan itu adalah sahabat baiknya, karena Ardan mendengar percakapan mereka yang begitu santai . Ardan tersenyum melihat nindy dan temannya bersenda gurau. bahkan Ardan sempat kaget karena tiba-tiba perempuan itu menepuk punggung nindy cukup keras,yang Ardan herankan justru nindy malah tertawa bersama temannya itu.
"Gue nggak nyangka bisa ketemu sama lo lagi nin? gimana kabar Lo sama calon anak lo? Sumpah nin, gue nggak nyangka akhirnya kita bisa ketemu lagi. iihhhh kangen banget tau sama lo?!"
"Sama nay, gue juga kangen banget sama lo. Akhirnya gue bisa ketemu sama ponakan gue juga? Hai ganteng...!! Nama kamu siapa? " Nindy menyapa anak Nayla yang sedang menatapnya sambil meminum susu botolnya.
"Hai Tante,kenalin nama saya Arjuna." Nayla menirukan suara anak kecil.
"Kkkk. bisa aja lo nay? Ganteng banget sih ponakan Tante. jadi nggak sabar deh pengin ngelihat calon anak gue sendiri..!!"..
"Nanti lo juga ngerasain sendiri nin. Gimana merawat anak lo sendiri. Lo kesini sama siapa nin?" Nayla bertanya kepada Nindy.
"Hah...?"
"Haheho,,, lama-lama gue gibeng juga lo nin. Lo kesini tadi sama siapa?" Nindy bingung harus menjawab apa.
Maafin nindy yah Allah karena sudah berbohong.
"Ok. terus sekarang lo mau ngapain? Lo mau ikut gue buat nemenin Arjuna priksa atau gimana?" Nindy yang baru ingat kalau dia meninggalkan Ardan sendirian berusaha mengedarkan pandangan nya ke sekeliling.
Nindy bernafas lega karena melihat Ardan masih ada disini, dia sekarang sedang memainkan ponselnya di kursi yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.
"Ya udah gue tunggu di ruang farmasi yah. Gue tadi lagi nunggu obat, jadi lo bisa temuin gue disana. Gimana?"
"Oke deh. bye bye Tante, Juna mau priksa dulu yah. sampai jumpa...!"
"Kkkk. bye bye sayang. Sampai jumpa. cup...!"
Nindy mencium pipi Juna dengan sayang, dia melihat kepergian Nayla dan anaknya sambil tersenyum. Setelah itu nindy berniat menghampiri Ardan yang sedang duduk di kursi bagian pendaftaran.
"Emmm...Ardan...!" Ardan yang merasa di panggil namanya menoleh kepada wanita tersebut, ketika dia tahu kalau itu adalah nindy ...Ardan langsung bangkit dari kursinya dan tersenyum manis pada nindy.
__ADS_1
"Kamu sudah selesai Dy?"
"Iya udah. ehm..itu maksud saya...Anda bisa pulang duluan karena saya masih lama disini. Dan juga sepertinya Anda sedang sibuk, jadi saya merasa tidak enak kepada Anda..!"
"Aku pulangnya nanti setelah obat kamu sudah Ada di tangan kamu yah Dy. Untuk masalah keejAn aku, kamu tenang aja sudah ada yang menghandelnya. Jadi kamu santai saja nggak usah khawatir gitu."
Kemudian ardan mengajak nindy untuk kembali keruangfarmasi untuk mengantri mengambil obat. Nindy mengikuti langkah Ardan di belakangnya. Nindy merasa canggung kalau harus berjalan berdampingan dengan Ardan.
****
Sementara itu mertua nindy yang baru sampai di rumah sakit,, kini sedang mencari keberadaan Nindy. Tadi mereka juga terjebak macet yang membuat mereka harus memutar balik arah agar cepat sampai di sini, tapi hasilnya sama saja. Maka Dari itu mereka baru sampai sekarang.
Ratna mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan nindy,tapi belum ketemu juga. Akhirnya mereka mencoba menelfon nindy.
Drrrtt drrrtt
Nindy mengambil ponselnya dan setelah tau sang mertua yang menelfonnya , dia langsung mengangkatnya.
Assalamualaikum Bun..
^^^*Wa'alaikumsalam sayang. Kamu dimana sayang?^^^
N*indy *sedang menunggu di ruang farmasi byn. ibu sama ayah ada dimana sekarang?Biar nindy ketempat ibu dan ayah...?!"
^^^Ibu dan ayah saja yang kesana. Kamu tetap disitu yah sayang nggak usah kemana-mana. kasihan kamu pasti cape banget.^^^
Baiklah Bun . Nindy tunggu disini yah*.
Setelah memutuskan panggilan dari mertuanya nindy memasukkan ponsel nya kedalam tasnya lagi. Dia melihat kearah Ardan yang kini sedang memperhatikannya sedari tadi. Nindy bingung harus bicara apa kepada Ardan.
Tapi Nindy juga tidak bisa membuat mertuanya menjadi salah paham karena keberadaan Ardan sekarang. Bisa-bisa mertuanya bisa tidak percayalagi padanya.
"Ardan..."
Tbc
Maaf yah kemaren tidak sempat up karena saya ada urusan jadi tidak sempat untuk up .
__ADS_1
terima kasih juga buat reader yang sudah menyempatkan membaca ceritaku. Jangan lupa like dan dukungannya yah. Biar saya tambah semangat nulisnya.
😂😂😂