Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 73


__ADS_3

Ardan POV


Hatiku berdesir melihat wajah Nindy yang begitu cantik. Apalagi saat aku sedang menggodanya, wajahnya akan merona malu dan itu makin membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Ingin rasanya aku mencium pipinya, tapi aku coba menahannya karena aku tidak mau Nindy berfikir aku sebagai lelaki brengsek.


Aku menatap nindy yang kini sedang kesusahan memegang sendok dengan tangan kanan nya,karena jarinya yang terluka tadi. Aku yang tidak sabar, kemudian merebut sendok di tangannya dan menarik piring nya ke hadapanku.


Tangan sebelah kiri ku memegang tubuh Arya, dan aku menggunakan tangan kanan ku untuk menyuapi nindy.


Awalnya Nindy ragu dengan ku,tapi setelah di paksa Nindy mau membuka mulutnya dan mau di suapi olehku. Tak pernah terbayangkan olehku kalau aku akan melakukan seperti ini, seorang bos besar mau-maunya melakukan hal remeh temeh begini. Aku sendiri tidak menyangka bisa takluk dengan seorang wanita seperti Nindy.


Memang cinta tidak memandang bulu, aku yang seorang kaya raya bisa jatuh cinta dengan seorang janda, apalagi dia sudah mempunyai anak. Tapi aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan wanita hebat seperti nindy.


Setelah aku telusuri teryata nindy adalah anak yatim piatu dan dia tinggal disini seorang diri. Di usianya yang masih muda dia sudah menghadapi cobaan yang bertubi-tubi. Sungguh terluka hati ini melihat penderitaan nindy, aku jadi semakin yakin dengan keputusanku.


Seusai makan aku berniat pulang,karena tiba-tiba orang tuaku menelfon katanya ponakanku masuk rumah sakit. Aku yang sangat menyayangi ponakan ku jadi khawatir. Saat aku akan pergi , arya menahan ku dan menangis terisak-isak . Aku bimbang harus pergi atau tetap disini.


Ku lihat Nindy juga mencoba menenangkan Arya yang kini menangis sambil mendekap leherku dengan erat, aku cukup kesulitan bernafas karena saking eratnya Arya memeluk leherku.


"Sayang, itu kasihan Om kalau kamu peluk erat seperti itu. Lagian kan Om juga harus pulang, kasihan orang tua Om sudah nungguin dari tadi. Arya sayang kan sama Om? "


Huwaaaaa


Aku mengusap punggung Arya pelan sambil melirik kearah nindy, wajahnya menampakkan raut tidak enak kepadaku. Aku mencoba berfikir ,harus seperti apa biar Arya bisa tenang dan tidak menangis lagi.


Ting


Tiba-tiba terlintas sebuah ide yang cukup ekstrim bagiku, aku melihat ke arah Nindy yang masih kesulitan menenangkan Arya.


"Dy...." Aku panggil nama nya, dan dia langsung mendongak menatapku. Dia mengerutkan keningnya bingung.


"Iya mas, ada apa? "


"Kalau kamu ikut aku buat bertemu dengan keluarga ku sekarang, apa kamu bersedia..?"


Aku melihat raut wajahnya berubah kaku, dia masih terdiam sambil menundukkan kepala menghadap lantai di bawah kaki nya. Sambil berusaha menenangkan Arya aku menunggu jawaban Nindy.


"Ssttt cup cup cup. Anak jagoan nggak boleh nangis yah sayang. Arya mau apa? biar nanti ini beliin yah?"


"Pa.. pa..ma..pa."

__ADS_1


Aku yang tidak tau dengan ucapan Arya menatap nindy yang masih terdiam dengan pikirannya sendiri. Aku tau mungkin pertanyaan ku membuatnya terbebani.


"Dy...? Kalau memang kamu tidak bisa juga tidak apa-apa. Aku bisa menunggu hingga kamu siap, dan aku juga tidak mau kalau kamu terbebani dengan perasaan ku. Dan sepertinya Arya juga sudah lelah menangis, nih lihat dia sudah tertidur." Aku memperlihatkan arua yang kini sudah tertidur di pelukanku. Kasihan sekali Arya menangis sampai tertidur seperti ini.


"Bisakah mas bantu saya buat menaruh Arya di kamarnya.. ?" Ucap Nindy sambil menundukkan kepala, tak berani menatapku.


"Baiklah, dimana letak kamar Arya Dy?"


"Yang itu mas...?" Tunjuk Nindy memberitahukan sebuah kamar yang tadi aku lihat Arya keluar dari sana.


Aku mengangguk mengerti,,kemudian membawa Arya ke dalam dekapanku kekamar yang tadi Nindy tunjuk.


ceklek


Aku memasuki kamar yang aku kira adalah kamar arya tapi aku terdiam ketika menemukan baju Nindy yang tergantung di belakang pintu.


Deg


Jantungku berdetak tak karuan, setelah menyadari bahwa ini juga termasuk kamar Nindy juga. Dengan terburu-buru aku keluar dari kamar ini setelah menaruh Arya dengan hati-hati dibatas ranjang.


Kakiku melangkah mendekT ke arah Nindy yang kini sedang berdiri sambil memandang sebuah foto di depannya. Nindy yang menyadari kehadiran ku , membalikkan badan menghadapku.


"Bicaralah? Apa ini ada hubungannya dengan permintaan ku tadi Dy?"


"Iya. Sebelum mas Ardan mengenalkan ku dengan keluarga mas. Lebih baik mas berpikir ulang lagi,,, mas Ardan tahu sendiri stigma seorang janda bagaimana. Jadi aku harap mas memikirkan lagi jika harus mendekatiku. Mas Ardan sepertinya juga dari keluarga yang berasa, sedangkan aku ini hanya janda yang tidak punya apa-apa. Aku..."


"Berhenti membanding bandingkan dirimu dengan orang lain Dy. Dan masalah stigma tentang janda di mata orang lain, aku tidak mau memikirkan nya. Yang menjalani hidup ini kan aku, dan kamu jadi janda juga bukan karena kesalahan kamu Dy, itu semua salah suami kamu yang brengsek itu." Aku menjeda ucapanku sambil menatap lembut Nindy yang kini sedang menatap ke arah foto keluarganya.


"Tapi mas...."


"Aku juga tidak mempermasalahkan tentang tingkat sosial seseorang. Aku tidak pernah menganggap orang rendah hanya karena mereka tidak seperti ku. Justru aku selalu menghargai mereka, kalau tidak ada mereka mana bisa orang seperti aku bisa mempunyai kedudukan tinggi. Mereka juga berperan penting dalam kehidupan para orang kaya. Kamu paham kan maksud perkataan ku Dy...?"


"iya mas. tapi Nindy hanya merasa tidak pantas mendapat perhatian lebih dari mas Bagas. Aku...''


"Yang berhak menentukan siapa orang yang akan mendapatkan perhatianku ya diriku sendiri dy,,,jika hatiku sudah memilih kamu orangnya,,,mana bisa ku cegah diriku sendiri."


"Jika kamu emang belum siap,aku nggak akan memaksa kamu Dy. Tadi aku hanya khawatir pada Arya yang masih menangis, dan aku berniat membawa kamu dan juga arya sekalian berkenalan dengan keluargaku."


"Maaf mas,,,aku belum siap jika harus berkenalan dengan keluarga mas. Maaf kan aku."

__ADS_1


"iya Dy. Aku ngerti, kamu sudah mau membuka hatimu buat ku juga Aku sudah bahagia. Tapi aku masih boleh kan datang ke rumahmu,dan bertemu dengan Arya?"


"Boleh kok mas."


"Ya udah, aku pulang dulu yah Dy. Assalamualaikum...!"


"Wa'alaikumsalam..."


Sepertinya aku masih harus berjuang lagi untuk meluluhkan hati Nindy, trauma yang diberikan oleh suaminya yang dulu masih membekas di hati Nindy.


Aku memakai jas dan sepatu ku kembali , kemudian keluar dari rumah Nindy. Aku melihat Nindy yang berjalan mengikuti ku sambil berjalan menunduk. Aku sengaja berhenti di depan pagar rumahnya.


Dug


Auchh


"Kenapa nggak bilang-bilang sih mas kalau mau berhenti..?!" Aku terkekeh geli melihat Nindy yang kini sedang mengerucutkan bibirnya sambil menggerutu. Ingin rasaku memeluk tubuhnya dan membawanya ke dalam dekapanku.


"Kkkk Lagian kalau jalan itu jangan sambil melamun, jadinya kamu nggak tahu kalau aku berhenti buat membuka pagar kamu. kkkkk"


Aku makin bersemangat menggoda nindy, ekspresi wajahnya benar-benar membuatku tidak tahan untuk tidak mencebikkan bibir.


"Berapa lama aku harus menunggu kamu Dy? Tolong beritahu aku jika kamu sudah siap untuk memulai kehidupan baru lagi Dy? Aku sangat berharap bisa menjadikan kamu istriku, dan menjadikan arya sebagai anak ku?"


Nindy terdiam sambil menggigit bibirnya menatap pot bunga di depannya. Aku menghela nafas melihat keterdiaman nindy.


Haaahhhh


Setelah beberapa menit tak ada jawaban yang keluar dari mulut nindy ,aku mutuskan untuk pergi dari rumah Nindy. Saat aku sudah berada di depan mobilku, aku merasa nindy menarik bagian bawah jas ku. Aku membalikkan badan dan melihat Nindy yang kini sedang menatap ku yakin.


"Tolong jangan paksa aku untuk menerima hatimu, karena aku pun tidak tahu berapa lama lagi untuk hatiku sebuah dari luka hatiku. Tidak mudah bagi seorang wanita yang baru bercerai untuk membuka hatinya kembali... Tapi jika kamu tidak mau bersabar kamu bisa mencari wanita lain dan masih gadis, tidak seperti ku yang hanya seorang janda. Hati-hati di jalan mas. Maaf sudah merepotkan kamu hari ini. Saya permisi. Assalamualaikum."


Ku lihat punggung Nindy yang sudah masuk kedalam rumahnya dengan perasaan campur aduk. Apa aku terlalu memaksa Nindy untuk membuka hatinya padaku. Tapi.....


Ya sudah lah lebih baik aku harus segera kerumah sakit untuk bertemu dengan ponakku. Semoga dua baik-baik saja ya Allah. Aamiin.


Tbc


Jangan lupa like dan bantu vote juga yah teman-teman. terimakasih.

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga di ceritaku TENTANG AKU DAN KAMU yah. di tunggu kehadirannya. makasih


__ADS_2