
Setelah lelah menangis Nindy akhirnya terlelap di pelukan sang suami. Bahkan saat waktunya makan siang, Nindy masih terlelap di pelukan sang suami. Ardan sendiri juga ikut terlelap di samping anak dan istrinya. Mereka tidur bertiga di kasur yang tidak terlalu besar jika di gunakan untuk mereka semua.
Ardan mengerjapkan kedua matanya ,kemudian beralih menatap wajah istrinya yang masih terlelap di sampingnya. Ardan juga melihat wajah Arya yang begitu menggemaskan di sampingnya. Dia merasa sangat beruntung karena diberikan wanita secantik dan sebaik Nindy.
Ketika Ardan sedang menatap wajahnya, Nindy membuka matanya pelan. Sesaat matanya terasa perih saat terbuka, dia mengusap matanya dengan sebelah tangan.
Ardan tersenyum saat mendapati istrinya begitu menggemaskan saat bangun tidur. Andai waktu bisa di putar kembali, Ardan ingin menjadi lelaki pertama yang mendapatkan cinta Nindy. Tapi kembali lagi, Dia bukan Tuhan yang bisa membalik-balikan perasaan orang. Ardan hanya bisa mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan padanya.
"Ehm...jam berapa sekarang mas?"
"Mungkin sudah siang sayang. Kamu lapar?"
"Iya mas."
"Ya udah. Kita makan sekarang yah?! Mas tadi sudah suruh bibi buat menyiapkan makan siang buat kita."
"Maaf yah mas, Nindy malah ketiduran. "
"Nggak apa-apa sayang. Mas juga jadi bisa beristirahat." Nindy bangun dari tidurnya. Dia melihat ke arah wajah Arya yang masih terlelap di samping Ardan.
Ardan melihat ke arah pandang nindy, dia langsung ikut bangun dan merengkuh istrinya ke dalam dekapannya.
Cup
"Ayo!! Mas udah laper."
"Ehm.." Nindy menautkan jari tangan mereka saat akan keluar dari kamarnya. Nindy menemukan para bibi sedang membereskan rumahnya yang tidak seberapa di mansion nya . Bibi yang menyadari majikan sudah keluar dari kamar langsung tersenyum.
"Makanan sudah siap Tuan Dan Nyonya."
"Makasih yah bi. Bibi udah makan belum?"
"Nanti saja Nyonya, pekerjaan kami belum selesai."
"Baiklah kami duluan yg Bi." Kalau emang sudah selesai nanti jangan lupa makan yah Bu."Nindy yang berniat menuju ruang makan berhenti dan melihat kembali ke arah bibi. "Bibi maaf, kalau nanti Arya bangun tolong bawa ke sini yah."
"Siap Nyonya "
Ardan merangkul pundak Nindy menuju ruang makan yang hanya bisa di tempati oleh empat orang dengan meja bundar yang terbuat dari kayu jati.
Ardan menarik kursi untuk istrinya. Nindy tersenyum dan berterimakasih kepada Ardan.
"Makasih sayang."
"Sama-sama sayang."
"Mas mau makan apa?"
"Apa aja sayang.! Asalkan kamu yang ngambilin mas suka kok."
"Aku kasih racun mau mas?"
"Boleh. Asal kamu bahagia mas akan dengan senang hati meminumnya."
"Ckckck." Ardan tertawa saat melihat istrinya berdecak sebal padanya. Dia sangat suka saat melihat wajah Nindy yang berubah sebal saat di goda olehnya.
...----------...
"Mah-Pah....Kenalin ini Mas Ardan. Dia suami Nindy. Maaf baru sempet nengokin , Nindy kemarin sibuk ngurusin Arya jadi sampai lupa sama mama dan papah." Nindy mengusap Batu nisan orang tuanya dengan pelan.
"Mamah sama papah jangan khawatir yah, Nindy pasti bisa jaga diri Nindy kok. Apalagi sekarang sudah ada mas Ardan yang selalu siap jagain Nindy " Nindy menyunggingkan senyum ke arah wajah Ardan yang berada di sampingnya. Ardan langsung membalas senyum Nindy.
"Selamat yah pah,mah kalian sudah menjadi kakek dan nenek sekarang. Ini adalah cucu pertama kalian! Sini sayang! ucapkan salam kepada kakek dan nenek." Arya yang berada di pangkuan Ardan langsung menatap wajah ibunya.
Arya menatap wajah Ardan bingung . Ardan yang menyadarinya langsung mengecup rambut Arya dengan sayang.
"Sayang,,ini adalah kakek dan nenek kamu dari mama kamu." Arya mengerucutkan bibirnya. Dia masih belum mengerti dengan penjelasan orang tuanya. Nindy dan Ardan hanya bisa tersenyum.
Ardan mengusap rambut Arya dengan sayang.
"Mah Pah. Kenalkan nama saya Ardan Ardiansyah. Saya suami dari anak mama dan papah. Terima kasih karena telah melahirkan Nindy , terima kasih karena telah membesarkan Nindy dengan penuh kasih sayang hingga membuat Nindy menjadi anak yang sangat penuh kasih sayang. Saya sangat beruntung karena telah mendapatkan anak kalian. Dia adalah wanita yang tangguh." Ardan menatap mata Nindy dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Dia adalah segalanya bagi saya. Ketangguhannya dalam menghadapi cobaan ini yang telah membuatku tak bisa berpaling darinya. Bahkan di saat dirinya sedang sakit, dia tidak ingin merepotkan orang lain." Nindy menundukkan kepalanya saat dengan tiba-tiba Adam mencubit pipinya gemas.
"Saya berjanji akan membuat anak Anda tidak kekurangan apapun. Karena dia begitu berharga untuk saya. Seperti kalian merawat Nindy dengan kasih sayang yang berlimpah, saya juga akan melakukan hal yang sama kepada Nindy. Saya tidak mau kalian menyesal karena telah memberikan Nindy kepada saya. Saya janji akan membahagiakan anak anda serta cucu anda. Sekali lagi terima kasih Mah Pah !" Nindy langsung menatap wajah Ardan dengan lembut. Dia bahkan menggenggam tangan Ardan.
Senyum Nindy merekah saat dirinya teringat sesuatu. Dengan tangan yang saling terpaut, Nindy menatap wajah Ardan dengan berbinar. Nindy juga menatap makam orang tuanya.
"Mah Pah, Nindy juga punya kejutan lagi buat kalian." Nindy menyeringai saat Ardan ikut menatapnya bingung. Nindy membawa tangan Ardan ke depan perutnya yang tertutupi gamisnya.
Ardan mengerutkan keningnya bingung. Dia belum paham apa maksud dari Nindy yang menyuruh tangannya untuk mengusap perut Nindy.
"Kkkkk. Pah Mah!" Panggil Nindy sambil menatap wajah Ardan sesekali. Wajah Ardan yang bingung membuatnya ingin mengadu kepada orang tuanya. Bahkan Nindy juga tidak bisa menutupi senyumannya.
"Mantu papah sama Mamah kok ngegemesin banget sih. Kkkkk"
"Ini ada apa sih sayang? Jangan bikin mas bingung dong! atau jangan-jangan perut kamu sakit yah?" Tebak Ardan. Ardan langsung mengusap lebih lembut perut serta pinggang istrinya.
"Kkkkk. masa iya sih mas.! "
"Terus kamu kenapa nyuruh mas buat ngusap perut kamu sayang?"
"Emang mas nggak mau?"
"ya mau lah sayang. Tapi kan aneh saja. Biasanya juga kamu malu kalau di pegang-pegang kalau di tempat umum kayak gini."
"Kkkkk. Maaf mas. Soalnya nggak enak kalau di lihat orang lain "
"Ya sayang mas ngerti kok. Makanya mas heran kok tumben kamu minta di elus perutnya?"
"Nggak ada apa-apa. Cuma lagi pengin aja. Mungkin ini kemauan debat kali mas!" Jawab Nindy sambil tersenyum manis kepada Ardan.
Ardan menatap wajah Nindy yang begitu berbinar saat berbicara. Ardan masih belum sadar apa yang di katakan istrinya.
"Hei, mas nggak suka yah?"
"Apanya?" Nindy begitu gemas hingga menyentak tangan Ardan dari perutnya. Nindy langsung mengerucutkan bibinya menghadap nisan orang tuanya.
Ardan menggaruk belakang kepalanya. Ardan juga menatap wajah Arya yang hanya diam sambil melihat kedua orang tuanya.
"Apa sih!"
"Hei kenapa nada bicaranya seperti itu?"
"Habis mas mah gitu!"
"Mas emang bener-bener nggak ngerti sayang. Tolong jelasin sekali lagi,maksudnya apa?"
"Mah Pah. Mantunya nyebelin. Nggak peka! Pecat aja jadi mantu!" Adu Nindy.
"Hei...Kenapa bicara seperti itu? mas minta maaf kalau salah. Ya udah kita bicara di mobil aja yah. Kasihan Arya sama kamu di gigitin nyamuk dari tadi."
"Ya udah!! Mah Pah ,Nindy pulang dulu. Besok lagi Nindy kesini lagi yah. Assalamualaikum." Setelah berpamitan Nindy berjalan meninggalkan Ardan yang masih terheran-heran melihat perubahan Mood istrinya.
Setelah berpamitan kepada orang tua Nindy, Ardan menggendong Arya dan menyusul istrinya yang sedang ngambek.
Saat mereka sudah sampai mobil. Ardan meminta sopir melajukan mobilnya. Saat di perjalanan ardan melihat Nindy yang masih mengacuhkannya.
Nindy yang melihat Ardan diam saja tanpa mau meminta maaf padanya,langsung mengerucutkan bibirnya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca, dengan cepat Nindy mengusap air matanya yang turun membasahi wajahnya.
**Hiks
Ardan** langsung menatap istrinya yang kini sedang menutupi wajahnya, bahunya bergetar menandakan istrinya sedang menangis. Ardan serta sang supir langsung menatap kepada Nindy.
"Pak berhenti dulu." ucap Ardan kepada sopirnya. Ardan juga meminta sopirnya untuk turun terlebih dahulu sambil menggendong Arya. beruntung Arya tidak rewel dan langsung menurutinya. Setelah melihat sopirnya membawa menggendong Arya di luar mobil, Ardan langsung membalikkan tubuh istrinya untuk menghadapnya.
"Jangan menangis sayang! Mas minta maaf jika mas nggak peka sama perasaan kamu. Kamu boleh mukul mas kalau emang itu bisa membuatmu lega. Tapi please!! jangan nangis! Mas paling nggak bisa kalau lihat air mata kamu keluar."
"Mas emang jahat, mas emang lelaki yang buruk, Mas juga bego karena nggak peka sama perasaan kamu."
Bugh bugh bugh
Ardan langsung memukul dirinya sendiri, dia merasa tidak bisa menjadi suami yang baik karena telah membuat Nindy menangis.
__ADS_1
Nindy yang melihat suaminya memukul kepalanya sendiri langsung menghentikan nya. Nindy menangkap tangan Ardan hingga berhenti memukul dirinya sendiri.
Nindy mendekap erat tubuh suaminya. Nindy merasa bersalah karena membuat suaminya menyalahkan dirinya sendiri karena kesalahan dia.
"Ini bukan salah mas Ardan. Tapi ini salah Nindy. Mas jangan mukulin diri mas, Nindy nggak suka.! Nindy minta maaf karena bersikap kekanakan hari ini--"
"Nggak ini bukan salah kamu sayang. Ini salah Mas ya--"
Cup
"Mas nggak salah. Stop menyalahkan diri mas." Nindy menangkup wajah Ardan agar Ardan menatap matanya. Nindy sakit saat melihat Ardan yang begitu kacau hanya karena melihatnya menangis.
Nindy mencoba tersenyum.
"Lihat!! sekarang Nindy tersenyum! Nindy baik-baik saja! jadi mas nggak boleh nyalahin diri mas sendiri."
Ardan menatap mata Nindy yang begitu memancarkan kekhawatiran kepadanya Ardan langsung mencium tangan Nindy yang berada di pipinya.
Cup
"Kalau boleh tahu , sebenarnya apa yang membuatmu menangis sayang? tolong kasih tahu mas! kalau mas salah mas akan mencoba memperbaikinya!"
"Sebenarnya saya hanya ingin memberikan kabar bahwa di dalam perut ini..." Nindy membawa tangan Ardan ke depan perutnya lagi sambil mengusapnya dengan lembut. Ardan menatap wajah Nindy yang kini bersemu merah di depannya.
"Selamat!" Ucap Nindy kemudian.
Ardan masih belum mengerti apa maksud Nindy memberikan selamat kepadanya.
"Untuk?"
"Mas akan menjadi seorang ayah."
"Maksud kamu?"
"Disini..Sekarang ada calon Ardiyansyah junior." Nindy menyunggingkan senyum manisnya. Ardan menghentikan usapan di perut Nindy.
"Maksud kamu? Kamu hamil?" Ucap Ardan cengo.
"Ehm.."
"Hamil anak aku?"
"Iya lah masa hamil anakonda."
"Beneran?"
"Iya sayang."
"Serius?"
"Kkkkk. Nih kalau nggak percaya." Nindy melepaskan tangannya di wajah Ardan. Dia mengambil foto hasil USG nya kemarin di dokter kandungan.
Ardan menerimanya dengan tangan gemetar. Ada perasaan yang membuncah saat melihat ada sebuah titik yang menunjukkan kalau itu adalah calon anaknya. Ardan menatap wajah Nindy dengan berkaca-kaca.
Nindy yang melihatnya langsung tersenyum.
Greeb
"Makasih yah sayang. Mas benar-benar nggak tahu harus ngungkapinnya kaya gimana? Tapi mas bener-bener bahagia banget. Kamu adalah jadi terindah buat hidup mas. Dan Terima kasih juga karena Allah sudah mempercayakan kita untuk mempunyai anak lagi."
Nindy menitipkan air matanya saat melihat betapa bahagianya Ardan saat mendengar dirinya hamil. Setelah beberapa saat Ardan melepaskan dekapan mereka. Ardan mengusap wajah Nindy dengan lembut.
"Hei masa jagoan nangis sih.!" Goda Nindy pada Ardan.
"Biarin."
"Kkkkk. Sekali lagi selamat yah, calon papah baru."
"Iya sayang. makasih juga sudah menjadi pendamping hidupku."
Kehidupan yang Nindy dapatkan sekarang tidak lain karena hasil dari kesabaran Nindy. Nindy sangat bersyukur bisa mendapatkan seorang Ardan yang begitu mencintainya. Ardan juga sangat bersyukur karena telah mendapatkan Nindy sebagai pendamping hidupnya.
__ADS_1
End