Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 60


__ADS_3

"Maksud kamu apa sih nin,,bicara seperti itu kepada ibu?"


"Hah....?"


"Hah heh hah heh...Udahlah nggak usah belaga nggak tahu deh kamu. Kamu ngadu kan sama ibu kalau selama ini aku nggak ngurusin kamu dengan baik...?"


"Aku nggak pernah ngadu sama siapapun mas,apalagi sama ibu."


"Bulshit kamu lah. Pasti kamu ngadu sama ibu. nggak mungkin ibu tiba-tiba tahu masalah ini selain kamu."


"Cukup mas...!"


"Emang kenyataan nya gitu kan? Kamu nggak bisa ngelak lagi nin, aku tau kamu kan orangnya cengeng."


"MAS !!!"


"APA..? Kamu sekarang sudah berani teriak-teriak Sama aku hah? mulai berani kamu sekarang sama aku?'


Sreettt


Akhhhhh


"Lepasin mas..? ini sakit mas..?"


"Biar kamu tau rasa..? ini hukuman buat kamu yang sudah berani sama suami kamu. Lain kali kalau sampai kamu berani mengadu lagi sama ayah atau ibu,,kamu tanggung sendiri akibatnya..!!"


bruk


Bagas melepaskan cengkraman tangan nya di dagu nindy kemudian dia mendorongnya pelan. Nindy yang tidak siap akhirnya jatuh terhempas ke sofa, dia mengusap perutnya yang sudah membesar, usia kandungannya sudah memasuki Minggu ke 28 artinya sudah 7 bulan nindy melalui masa kehamilan nya sendiri.


Sebenarnya tidak sendiri juga, ada mertuanya yang siap siaga buat memantau perkembangan calon cucu pertama mereka. sementara suaminya sendiri lama kelamaan sudah mulai jarang pulang kerumah mereka.


Padahal selama ini nindy tidak pernah memberitahukan tentang masalah kelurganya pada siapapun, tapi hati seorang wanita pasti tahu ada yang tidak beres dengan keadaan anak dan menantunya.


Tanpa di beri tahu, mertua nindy juga tahu kalau ada yang tidak beres dengan pernikahan anakny. Tapi mereka tidak bisa berbuat apapun karna mereka masih menghormati keputusan nindy, selama ini jika mereka bertanya,,, nindy tidak pernah mau menjawabnya.


Kadang Ayahnya menasehati Bagas untuk selalu memperhatikan kondisi nindy dan calon bayinya, dan jawabannya juga selalu sama.


Puncaknya kemaren waktu jadwal kontrol kandungan, Bagas ketahuan jalan bersama Siska oleh ibunya. Padahal waktu disuruh nemenin nindy katanya sibuk kerja,giliran sorenya ibunya melihat Bagas malah jalan bareng sama wanita lain.


Ibunya sangat marah pada Bagas, dia merasa kecewa kalau selama ini kecurigaan nya benar kalau anaknya sudah menyakiti hati Nindy. Ibunya menangis kencang sambil meminta Bagas untuk jangan dekat-dekat lagi dengan wanita itu,tapi Bagas menolaknya.

__ADS_1


"Kalau begitu...LEPASKAN ISTRI KAMU.!!!! Ibu mendidik kamu bukan untuk menyakiti hati wanita, kalau kamu melakukannya itu sama saja kamu menyakiti hati ibu kamu sendiri. Sadar gas,tidak selamanya kebahagiaan berpihak pada kamu. Adakalanya kamu akan menyesal karena sudah menyakiti hati istri kamu."


"Aku nggak akan pernah mau melepaskan nindy Bu. Bagas juga mencintai nindy Bu, Bagas nggak bisa kalau harus berpisah dengan nindy Bu, Tolong...!! Mengerti Bagas Bu.."


plak


"EGOIS KAMU GAS..!!"


Setelah kejadian itu hubungan antara Bagas dan ibunya menjadi renggang, bagas berkali-kali sudah meminta maaf pada ibunya,,tapi sepertinya ibunya tidak mau memaafkan kelakuan bagas yang sudah menyakiti menantu kesayangannya.


Padahal selama ini kurang apa nindy buat Bagas, tapi emang bagasnya aja yang kurang ajar.


****


Nindy tadi menelfon mertuanya untuk mengantarnya chek up kandungan, karena perutnya terasa sakit. Dan ketika dia meminta tolong kepada suaminya,dia malah menjawabnya dia lagi sibuk kerja.


Nindy sudah menyuruh mertuanya untuk bertemu di rumah sakit, sementara dirinya sudah menaiki ojek.


"shhhh , aduh pak bisa cepetan nggak pak perut saya sudah sakit nih pak."


"Aduh Bu....saya nggak berani Bu bawa motor kenceng kenceng. Lagian ibu juga lagi hamil besar ,saya malah takut terjadi apa-apa sama ibu dan calon anak ibu."


Tukang ojek itu bingung harus melakukan apa,karena situasi tidak mendukung. Jalanan didepan sedang macet parah karena ada sebuah kecelakaan di depan.


Sementara itu Ardan yang sedang duduk di sebuah cafe pinggir jalan, dia melihat jalanan depan yang sedang macet, dia melihat acak orang-orang yang sedang berjibaku dengan kemacetan. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 12 siang.


"Pantas saja macet...!" Gumam Ardan sambil menyesap kopinya. Ketika Ardan sedang melihat ke arah penumpang ojek yang sedang meringis kesakitan sambil memegang perut buncitnya, dia mengerutkan keningnya bingung... Ardan merasa familiar dengan wajah perempuan itu.


"Siapa wanita itu? Seperti pernah lihat ,,,tapi siapa yah.?" Ardan mengetuk ngetukan kuku jari nya di meja sambil menopang dagunya.


"Ada apa Tuan?"


"Ah. itu...tidak... Sepertinya saya kenal dengan wanita yang sedang di bonceng oleh bapak-bapak itu. Tapi saya lupa siapa?" Sang sekertaris meliaht bos nya yang sedang bingung ,ikut memperhatikan wanita yang di tunjuk oleh bosnya.


"Oh...Sepertinya itu wanita yang dulu di Mall tuan."


Deg


"APA kamu bilang? Maksud kamu perempuan itu nindy gitu?"


"Ehm...benar tuan..;"

__ADS_1


"Shitt....!" Ardan berlari keluar cafe dengan terburu-buru menuju jalan raya. Dia menghampiri nindy yang sedang meringis kesakitan, kemudian ardan menepuk bahu nindy untuk menyadarkannya kalau ada Ardan disini.


pluk


Nindy yang sedang menahan rasa sakit di perutnya menoleh ke arah orang yang menepuknya tadi. Nindy terkejut bisa bertemu dengan Ardan lagi disini.


"Kamu kenapa dy? Kamu sakit? Atau kamu sudah mau melahirkan? Dy jawab aku Dy? Jangan bikin aku khawatir sama kamu Dy?" Ardan sangat khawatir melihat Nindy yang sedang kesakitan seperti ini, saking khawatirnya Ardan sampai bertanya tanpa membiarkan nindy menjawabnya terlebih dahulu.


"Maaf pak, Anda siapa? Anda suaminya? Kalau begitu lebih baik bapak harus cepat-cepat membawanya kerumah sakit, karena sedari tadi istri Anda mengeluh perutnya sakit terus." Ardan yang mendengar pertanyaan tukang ojek itu akhirnya tanpa basa-basi menyuruh nindy untuk turun dari motor itu dan membawanya untuk masuk kedalam mobilnya yang terparkir di depan cafe.


Sebelumnya tadi Ardan sudah mengucapkan terima kasih kepada tukang ojek itu dan membayar nya . Nindy yang melihat wajah Ardan yang sedang khawatir karena dirinya mencoba menahan air matanya.


"Makasih yah tuan karena sudah mau menolong saya. Shhh...Maaf sekali kalau saya sudah merepotkan tuan. Nanti tuan bisa menurunkan saya di loby rumah sakit saja!" Nindy meringis menahan sakit di perutnya. Ardan yang melihat itu tidak sadar ikut meringis melihatnya.


Sebenarnya ayahnya siapa sih disini kenapa yang repot siapa,sedangkan suaminya sendiri malah sedaasyik dengan wanita lain.


sreettt


Deg


"Dede bayi kamu jangan nakal yah sama ibu, kasihan loh ibu kamu sekarang sedang kesakitan. Kamu yang baik yah di sana biar ibu kamu tidak merasakan sakit lagi. lihat...!! ibu kamu sampai menangis loh..Kamu nggak mau kan lihat ibu kamu sedih. cup cup udah yah sekarang kita priksa dulu yah , tapi kamu nggak boleh rewel yah."


Jantung nindy berdebar melihat perlakuan Ardan padanya, padahal Ardan tidak menyentuhnya tapi anaknya langsung menurut dan diam. Anehnya perutnya sudah tidak terlalu sakit.


Nindy menatap takjub Ardan karena bisa menenangkan anaknya yang masih didalam perutnya. Selama ini Bagas tidak pernah sekalipun mengajak calon anaknya mengobrol, jangankan menyapanya mengusapnya saja tidak pernah.


Yang dia lakukan ketika pulang kerja hanya langsung tidur tanpa mau capek-capek menyapa istrinya setelah seharian tidak bertemu dengannya. Sekarang Bagas sudah benar-benar menganggap nya tidak ada.


Ardan yang merasa diperhatikan oleh nindy langsung bertanya dengan isyarat mata. Nindy yang menyadari kalau dia ketahuan menatap Ardan langsung memalingkan wajahnya salah tingkah.


Blushhh Wajahnya merona malu.


Ardan yang masih diliputi rasa khawatir makin ketakutan karena melihat wajah nindy yang memerah karenanya. Apa karena ucapannya yang lancang mengajak anaknya berbicara., Ardan langsung merasa tidak enak.


"Maaf yah Dy,kalau saya tidak meminta ijinmu terlebih dahulu..."


"Nggak..bukan begitu.saya hanya.... tidak terbiasa saja. Tapi terima kasih atas perhatiannya. Dan Alhamdulillah sekarang perut saya sudah tidak terlalu sakit lagi. Makasih yah tuan.!"


Ardan tersenyum lebar melihat Nindy yang sudah tidak apa-apa, Ardan melihat jalanan yang memang sedang macet. Kemudian ardan melihat kesamping kemudi ,dan ternyata nindy sedang bersholawat sambil mengusap perutnya pelan.


Kalau memang dia bukan jodohku,tolong hilangkan perasaan ini Ya Allah. Tapi kalau memang dia jodohku,tolong!!! Dekatkanlah kami Ya Allah. Aamiin

__ADS_1


__ADS_2